Sumber: pixabay.com

Hai para DLers bertobatlah, bentar lagi tanggal 25 udah pada ikut challenge kah? Yuk ikutan.

Niatnya jangan cuma dibatin aja. Kapan jadi tulisan yak? Angan belaka lah. Nulis dulu nulis. Jangan terlalu ngoyo mikirin konten apa yang bagus, belum nulis udah puyeng duluan nanti. Kepala cenat-cenut.

Satu lagi, jangan mikirin menang apa enggak, apalagi minder abis baca tulisan orang lain.

Kamu tahu nggak, apa tugas penulis? Tugas penulis itu, menulis, menulis, menulis, membaca, riset. Udah itu doang, kalau nggak dapet hadiah, anggep aja latihan drabble.

Duh, berasa jadi duta Penakata neh, ngoceh terus kapan aku mulai nulis isi artikel yak? Oke, cukup ah. Selamat berpikir. Aku mau ngetik. /dari tadi ngetik pula kan ya *ngakak ya lord/

Sebelum aku jelasin panjang kali lebar alas kali tinggi sampai ketemu rumus phytagoras. Wkwk nggak nyambung,

Stop ngerecehnya, Yuke. Oke stop.

EXPERIMENT DENGAN POSTINGAN SOSIAL MEDIA, MENGEKSPLORASI KARAKTER USER

Berawal dari keluhan seseakun di media sosial, yang nanya-nanya tentang Literasi. Aku sih nggak jago juga tentang ilmu Bahasa Indonesia dan nggak punya latar pendidikan di bidang ini, jadi masih belajar, kalau aku bisa jawab pertanyaannya ya kujawab.  Kalau nggak tahu ya, aku bilang nggak tahu. Dibikin simpel aja.

Tulisan akun tersebut udah lumayan bagus, cuma koreksi di narasi yang kurang efektif dan tanda baca yang kurang tepat. Yang aku heran, tulisan dia dan bahasa chat-nya nggak sama, beda, seperti aku berhadapan dengan dua orang berbeda. Jadilah, terbetik niat untuk iseng mempelajari karakter orang lewat tulisan mereka. Seperti apa karakter orang di belakang sebuah topeng akun. Apa bisa terbaca semuanya? Insha Allah bisa, nampak dan bisa disimpulkan karakter umum dan cara pengambilan sikap sesorang pengguna akun. Berlaku untuk semua akun.

Ini bukan Grafologi yang memahami karakter dan potensi lewat tulisan tangan. Tapi, ini penerapan dari Psikolinguistik dan Hypnosis linguistic dalam satu wadah. Kata Profesor aka Uda Arie sih begitu, karena belum ada ilmu pasti tentang ini. Untuk penjelasan secara ilmiah, silakan tanya sama oppa Google.

Dari pengamatanku selama ini, pengguna sosial media itu bisa dikategorikan menjadi dua:

  1. Menjadi diri sendiri untuk menyuarakan isi hati, pikiran dan perasaan yang tidak bisa diungkapkan di dunia nyata. Dalam kata lain dia nggak punya tempat yang nyaman untuk berbagi keluh kesah. Jadilah dia menulis dan mempublikasikan sebuah status, dalam bentuk apapun itu. Baik, status gaje, cerpen, esai, puisi, dll.
  2. Menjadi orang lain, karena dirinya nggak merasa puas dan bangga dengan diri sendiri di dunia nyata. Sebut saja, sebuah pelarian atau pemberontakan pada diri sendiri. Misal di dunia nyata dia introver, di sosmed akan berusaha jadi ekstrover.

Gimana caranya bisa tahu dan apa yang kulakukan untuk membaca karakter orang? Coba tebak. Jangan kaget kalau kukasih tahu. Voilaaaa ….

Aku cukup baca postingan seseakun, terus aku amati beberapa tulisan lainnya. Mayoritas pola dan pemilihan diksi akan sama. Kecuali, udah penulis keren yang bisa berubah gaya penulisan dan menjiwai karakter lain. Selepas baca dan mengamati, aku bakal komen.

Komen apa? Komenku pasti gaje, nggak mutu, bahkan out of topic. Sengaja emang komen nyeleneh, karena aku ingin melihat apa reaksinya, dari beberapa balasan komen ini nanti bisa disimpulkan, seseorang bisa dikategorikan pengguna sosial media tipe satu atau dua.

Semudah itukah? Iya semudah itu, kalau mau mempelajari dan mengamati ragam karakter orang. Tapi nggak semua orang bisa menerapkannya, apalagi untuk yang cenderung introver dan sulit memulai obrolan.

Kusarankan untuk yang ekstrover dan suka mengenal orang-orang baru, coba deh amati temen-temen kamu. Di sosial media ataupun dunia nyata. Pahami sikap mereka, tutur bahasanya, ketikannya, cara mereka menyampaikan pendapat, juga sudut pandang mereka.

Kedengarannya ribet ya? Enggak juga sih, tapi jujur aku bingung sendiri mau jelasinnya gimana. Oh ya, tentang seseorang yang bernama Uda Arie tadi, kita awalnya kenal di Facebook. Sama-sama bisa baca karakter dan lucunya kita sama-sama saling menipu. Hahaha kok bisa saling menipu? Karena sok jaim gitu, aku dan dia. Padahal kita berdua udah saling tahu karakter aslinya seperti apa.

Ketika aku komen, “Interpretasi Uda kentara banget.”

Dia balas, “Tahu dari mana?”

Berlanjut lah obrolan kita via messenger. Dan akhirnya dia bilang, “Uda berani cerita banyak, cuma sama Eneng. Eneng jangan baper yak?”

“Nggak. Uda tahu Eneng orangnya gimana kan.”

Sekarang, Uda jadi partner di blog dengan program konseling, terutama untuk remaja dan beberapa orang di luar sana yang malu mengakui sisi kelam dalam dirinya. Jujur, aku nggak punya basic jadi konselor juga, malah kuanggap ini sebagai sesi curhat. Boleh seret link blog nggak sih? Kali aja ada yang mau cerita. Eh tapi jangan deh, nanti aku malu. /Gayanya sok pemalu/ kalau ada yang mau cerita, WA aja. Kuyakin udah banyak yang punya nomer WA pribadiku.

Guess what, coba tebak apa fakta di luar sana yang kudapat. Mungkin kalau kamu lihat grafiknya bakal merinding. Ngeri. Mau tutup mata sama fakta tapi nggak bisa.

Aku dan pengunjung emang nggak pernah ketemu, tapi apa yang mereka ceritakan itu nggak mungkin fiksi. Aku dan Uda mengelola akun Whatsapp bisnis untuk memudahkan interaksi dengan pengunjung, sebut saja PM penerima manfaat. Kita nggak nentuin tarif atau apapun, cuma ada Adsense. Intinya kita berdua ingin membantu, siapa saja dan dari mana saja.

Tugas yang kuterapkan bukan memberi solusi, tapi mengurai sudut pandang. Mencoba melihat satu masalah dari sisi yang lain. Juga memberikan support berupa motivasi dan tips self-healing yang bisa PM lakukan sendiri.

Itulah kenapa, aku selalu ingin membuat cerita yang mengulik sisi psikologis, dan menceritakan realita yang ada. Hal-hal yang bagi sebagian orang tabu untuk diceritakan. Proyek pertama, sudah ada teenfic dengan problem pelecehan dan novel kedua yang baru mau ditulis teenfic tentang seorang pecandu.

Serem ya? Enggak juga. Justru seharusnya kita mulai melek dengan banyaknya kasus seperti ini. Karena generasi sekarang sedang butuh banyak pertolongan, dalam artian yang sesungguhnya. Intinya ya itu tadi, cuma mau membantu.

Lantas, hasil dari baca-baca dan komen-komen gaje di beberapa tulisan user Penakata. Ada beberapa karakter umum yang kentara banget, meski aku nggak komen di lapak mereka. Yang aku komen, berarti aku mencari dukungan kesimpulan yang terbentuk. Oh ya, kesimpulan ini berlaku juga untuk yang komen di postingan aku.

Gimana sih, sifat-sifat umum user Penakata menurut pengamatanku? Ini dia ….

  1. Ragu-ragu, pemalu, dan segan mau berbalas komen
  2. Bingung mau komen apa, akhirnya cuma bilang bagus, keren, dan kata-kata diplomatis lainnya.
  3. Mencoba ramah dalam komen, meski dia agak nggak nyaman. Dalam benak mikir, apa komenku udah tepat apa belum ya?
  4. Kritis, ingin tahunya tinggi.
  5. Argumennya nggak mau dibantah, kekeuh sama sudut pandangnya sendiri.
  6. Idealis, punya prinsip yang kuat. Cenderung keras kepala, berpendirian kuat.
  7. Rame, suka bercanda dan mau mengenal user. Yang ini kentara sekali.
  8. Ada yang tertutup banget, malah jadi kaku atau emang user introvert jadi nggak suka banyak interaksi.
  9. Memperhatikan hal-hal detil, bahkan kadang nggak terpikir oleh orang lain. Mencoba ramah sama siapa aja.
  10. Cuma nyaman dengan user yang udah dikenal, enggan main ke lapak lain.

Yang postingannya pernah kukomen. Selamat kamu termasuk user yang kuamati dan ingin kutahu karakternya.

Sementara ini dulu sih, yang ngerasa sifat umumnya aku sebutin, komen dong? Bisa ya ….

Nggak perlu bilang termasuk karakter umum nomer berapa, cukup komen, terserah komen apa aja. Salam kenal sekali lagi.

 

15.51

Di tempat ngopi

Blora, 23 Februari 2019

 

Salam Literasi

Yukeneyza

 

 

 

 

 

21 KOMENTAR