Sumber: pexels.com/rawpixel

Holla Goodwriters Penakata!!!
Selamat siang Good thinkers!!!
Apa kabar??

Sekadar mengingatkan jangan lupa tanggal 17 April 2019 kita wajib turut serta memberikan hak suara dan NO GOLPUT. Semangat!!!!

Pagi ini, tiba-tiba aku mendapatkan sebuah pencerahan untuk ikutan challenge milik Bang Eno feat Penakata#marketerforwriter. Aku mendapatkan sebuah akronim gegara baca sebuah sumber. Yups, akronimnya adalah GPAB. What is GPAB?

GPAB adalah sebuah singkatan dari Gerakan Penulis Anti Baper. Apakah ada kaitannya antara penulis dan si baper ini?. Harusnya ada. Pasalnya ada sebab pasti ada akibat, begitu pula sebaliknya.

Kata baper atau bawa perasaan ini memang identik di kalangan remaja jaman now. Jadi, kalau kalian merasa sudah bukan remaja lagi, baiknya jangan baperan. Nanti dikira ABG yang suka labil. Kita harus berani mengambil keputusan mana yang sekiranya baik untuk kehidupan kita.

Baik itu menimbulkan masalah atau tidak. Namun, kita harus berani mengambil resiko dengan keputusan yang ambil. Keputusan yang kita yakini dan mantapkan dengan hati, InsyaAlloh pasti itu baik adanya. Memang benar, tidaklah baik melibatkan perasaan untuk menghadapi setiap permasalahan. Kita pun harus menyertakan yang namanya logika dan harus berpikir secara logis bukan semata-mata dengan perasaan. Tuh, baper kan?.

Terkecuali masalah ‘LOVE’ katanya harus dirasakan. But, kalau misalnya kamu baperan dan jatuh cinta sama siapa saja apa bedanya donk, Say? Podo wae, sami mawon. 

Kembali ke penulis dan baper. Aku pernah membaca tulisan seseorang, sebut saja NN yang mengatakan penulis itu adalah pembohong. What?? Benarkah semua penulis itu adalah pembohong? Sebelum Ibbon didemonstrasi, ada baiknya simak terlebih dahulu penjelasanku.

Pembohong di sini yang dimaksudkan ialah antara situasi nyata atau kondisi real-nya berbeda dengan apa yang ia tuliskan. Kebanyakan penulis itu kan pandai merangkai kata-kata indah dan mampu menyembunyikan kondisi perasaan atau suasana hati  yang sedang dirasakan. Misalnya dia menulis puisi atau cerita dengan tema yang sedih. Hal itu tidak serta-merta si penulis sedang dalam kondisi demikian. Bisa saja dia sedang bahagia atau jatuh cinta. Atau mungkin dia menulis tema cinta yang bikin hati orang berbunga-bunga, padahal dia sedang mengalami suasana hati yang kacau-balau. Katanya si A kalau lagi galau malahan mood untuk membuat ceritanya itu lebih dapat feel-nya. Lah, baper lagi kan ceritanya.

Sebelumnya, aku bukan lagi men-judge, namun hanya melanjutkan opini dari NN tersebut. Meskipun tidak semua penulis itu tidak berkata jujur. Toh, ada juga penulis yang menulis sesuatu berdasarkan apa yang sedang dia rasakan atau bisa dikatakan pengalaman pribadi si penulis tersebut.

Nah, ada juga penulis yang sukanya bikin kalimat ambigu. Ambigu di sini maknanya bisa ganda atau punya banyak arti. Hal ini bisa saja membuat orang lain menjadi kurang memberikan kepercayaan kepada kita. Kepercayaan itu penting loh, tidak hanya dalam menjalankan sebuah bisnis tapi dalam segala hal. Membuat orang lain percaya kepada kita itu memang tidak mudah.

Kita harus pandai meyakinkan ‘sesuatu’ kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan itu benar. Meskipun baik dan buruk itu berkaitan dengan cara pandang seseorang. Percayalah, bahwa apa yang kita nilai baik belum tentu baik dan apa yang kita nilai buruk belum tentu buruk.

Ketimbang baper lebih baik kita melakukan sesuatu yang lebih useful alias bermanfaat. Menulis boleh, baper jangan. Apalagi baper dengan sesama penulis. Absolutely No!!!.

 

 

10 KOMENTAR

  1. Kalau sama-sama baper sih enak, bisa klop kan ya? Wkwkwk

    Aku kolab enggak ada baper-bapernya. Meskipun, pas baca tuh kadang suka senyum enggak jelas, uh abisnya si pasangan kolab tulisannya bikin baper. Wkwkwk tapi cuma sebatas itu sih. Enggak yang lebih lagi. Malahan pembaca yang baper, dikira kita ada apa-apa. Padahal enggak. /Curhat pengalaman kolab sama penulis cowok yang usianya lebih dewasa/

    Jadi kangen orangnya yang sering kuledekin, chat ah.🚶 🚶🚶

  2. Aku enggak ngerti baper. Kalau cepet mewek iya. Aku baca artikel tentang orang yang cepat mewek pada hal-hal kecil dan aku lega karena itu bukan penyakit. *Maaf, sedikit curcol.😂😂😂

    Bon, arti baper buat kamu apa? Kamu masuk kategori baper enggak? Kuharap enggak, Bon. Urusan hati kayak gini yang rugi banyaknya cewek. Wkwkkwk. Masih untung kalau pas terpuruk bisa produktif menulis, nah kalau enggak dan menangis terus di pojokan gimana. Heheheeh. Semangat, Bon. Bikin cerita yang gokil dong. Aku enggak bisa ih. Mungkin karena enggak suka baca cerita komedi kali, ya? Bisanya yang bikin orang baper saja. Huuuuuaaaa, balik lagi ke baper. Wkwkwk.😂😱😝

    Pagi, di kotaku cerah. Aku harap, isi kepalaku juga tidak bermasalah, tetapi penuh dwngan ide. Mauku sih. Ah, doaku tepatnya.😇😇