Sumber gambar : pexels/rawpixel

Dia itu mitra kerja saya di Perusahaan ini, bukan pekerja

~Pemilik Perusahaan~

Assalamu’alaikum, hai goodwriters, good friends, goodthinkers, goodreaders, dan masih banyak lagi sapaan istimewa yang ingin saya gunakan untuk menyapa kalian semua yang ada di Penakata ini. Iya, kalian yang pernah hanya berkunjung atau pun berkontribusi di sini, semuanya adalah bagian dari Penakata.

Oh iya, akhirnya ada yang memulai juga untuk mengikuti challenge dari bang Eno dan alhamdulillah bukan saya lagi tetapi Sayiba. Prok prok prok untuk Sayiba.

Namun, walaupun misalnya sampai hari ini belum ada yang ngepost juga, saya tetap akan ngepost sih. Karena daripada terus menunggu cinta eh kalian yang belum pasti, saya lebih memilih memastikan diri sendiri saja untuk segera mengikuti challenge sebelum lewat deadline. Karena gak lucu kalau saya ngepost lewat deadline kecuali jika ada perpanjangan waktu. Okeh langsung saja ke topik.

Tapi sebelum itu, saya mau curhat nih ke Bang Eno dan Penakata. Soalnya sebelum menulis ini, saya riset dulu kemana-mana (cuma browsing sih). Mulai dari KBBI sampai blog, web dan jurnal di google. Mau beli buku tentang akronim kok agak eman duite. Hehe. 

Jadi begini, awalnya saya bingung ketika membaca arti dan contoh dari akronim itu sendiri. Bingungnya, pertama karena akronim itu beda dengan singkatan–bisa di search. Contohnya juga berbeda.

Kedua, setelah mengamati youtube channel Penakata yang berisi konten pembahasan challenge ini, bang Eno mengatakan kita ditantang untuk membuat akronim yang bisa menjadi penyemangat untuk para pekerja kreatif seperti beliau dan kawan-kawan sambil menunjuk kaosnya yang bertuliskan, Muda Bekerja, Tua Kaya Raya. Membuat akhirnya saya berpikir, apa maksud beliau tulisan yang seperti pada kaosnya atau seperti contoh akronim yang saya tahu? Karena contoh dari akronim itu sendiri seperti, NKRI(Negara Kesatuan Republik Indonesia), Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu, dll. Atau saya yang memang belum nyambung ya?

Yaudah deh, daripada saya bingung terus sendiri, solusinya kemudian saya buat saja seperti pada judul. Hehe.

PEMIKEBUJA – Persatuan Mitra Kerja Bukan Pekerja

Aneh ya? Haha

Karena pesan bang Eno, buatlah akronim yang bisa menjadi penyemangat mereka para pekerja kreatif sekaligus kita-kita yang mungkin juga merasa sebagai pekerja kreatif, maka akhirnya saya pun jadi ingin mengeshare semangat itu ke kalian saat ini sambil memenuhi challenge kedua dari penakata dan tantangan bang Eno sang musisi, Content Creatorplus Praktisi Digital Strategic yang jam terbangnya juga pasti gak kalah tingginya dengan bang Dina. Hehe.

Sepenggal lirik lagu yang berjudul Zona Nyaman dari musisi Band Indie, Fourtwnty~yang lagi-lagi saat ini lagi booming kembali dengan Fana Merah Jambunya yaitu,

Seperti orang-orang berdasi yang gila materi….

Penggalan lirik itu sepertinya menandakan ada keresahan tersendiri sang musisi ketika memandang para pekerja kantoran yang pagi siang malam lembur bekerja tanpa henti hanya demi materi. Kadang menjadi stres sendiri karena terbebani kerjaan menumpuk tanpa kompensasi yang seimbang.

Kemudian ada penggalan lirik lainnya lagi yang semakin menggelitik, yaitu ;

Kita ini insan bukan seekor sapi

Ya benar, kita ini insan, kita manusia, butuh happy tapi juga butuh materi. Butuh istirahat tapi juga butuh uang. Mau happy kadang-kadang gak terlepas dari money. Mau makan apalagi? Sapi aja butuh makan, apalagi kita manusia? Lalu uang darimana didapat kalau bukan dari bekerja? Setidaknya itulah yang termindset di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Ya memang begitu. Walau jatuhnya malah bekerja dengan terpaksa. Bekerja bukan dengan cinta dan hati tapi demi sesuap nasi. Hanya demi bertahan hidup bersama anak dan istri, tak jarang malah banyak yang depresi karena pekerjaan yang tak sesuai dengan keinginan hati.

Maka muncullah istilah passion yang semakin membuat dilema khususnya para pekerja kantoran yang kemudian merasa terjebak lalu bilang “dunia gue gak di sini“, kemudian memutuskan resign karena kelewat semangat mencari passion yang belum juga ditemui tapi sudah terlanjur undur diri. So, what’s wrong? Apa yang salah? Kata pekerja atau mindset individunya?

Dalam KBBI, Pekerja adalah orang yang bekerja; orang yang menerima upah atas hasil kerjanya; buruh; karyawan.

Berarti pekerja adalah mereka yang  mendapatkan upah atau imbalan berupa uang, hadiah atau sejenisnya karena telah melakukan suatu hal untuk kepentingan yang lain seperti perusahaan atau kepentingan orang lain. (Bener gak sih?)

Sedangkan Mitra Kerja terdiri dari Mitra yang artinya teman atau kawan. Sedangkan Kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah.

Maka Mitra Kerja adalah kawan atau teman dalam mengerjakan sesuatu hal atau pekerjaan.

Istilah pekerja juga identik dengan hal-hal yang mengarah pada pengabdian yang menjurus ke perbudakan dan pengeksploitasian. Walau tidak semuanya boleh dipandang sama rata. Namun kebanyakan begitu. Para buruh, pekerja kantoran, dan masih banyak lagi manusia- manusia yang dituntut melakukan sesuatu hal yang bahkan tak seimbang dengan upah yang didapat.

Seharusnya para kuli bangunan itu lebih besar gajinya daripada mandor. Melihat tenaga yang dikeluarkan, patut ia mendapat gizi dan makan yang cukup dan pas untuk menggantikan tenaganya yang keluar. Seharusnya para buruh sabun di pabrik lebih besar gajinya dibanding para pengawas yang hanya bisanya mengawasi atau memarah-marahi dan bahkan ada yang tega menyiksa batin juga fisik ketika apa yang dikerjakan pekerja tidak maksimal.

Tangan para buruh juga butuh dikusuk, mata mereka juga butuh istirahat dan perlu vitamin untuk penambah stamina saat harus begadang.

Sombong sekali mereka para manusia yang mengatakan dirinya BOS yang tahunya hanya memandang rendah para pekerjanya. Padahal jika para buruh demo mogok kerja mereka sudah kebingungan karena proses produksi bakal tersendat dan dampak besar akan dirasakan perusahaan itu sendiri.

Tapi inilah faktanya. Kebanyakan para pekerja adalah mereka yang dipandang rendah. Hanya mereka yang dianggap butuh pekerjaan itu, padahal perusahaan juga. Sama-sama membutuhkan tapi tidak tahu diri. Malah berbangga diri dengan keberhasilan bisnisnya, namun dibalik suksesnya ada manusia-manusia yang menderita. Kadang hidup sebagai buruh semakin tak menentu. Tapi perusahaan semakin sukses melejit tanpa malu.

Stop jadi Bos! Stop Jadi Pekerja!

PEMIKEBUJA- Persatuan Mitra Kerja Bukan Pekerja

Hingga lahirlah konsep kolaborasi yang di era digital ini semakin santer digaungkan. Kita mulai lagi konsep yang baru dalam memperbaiki sistem yang selama ini terlihat cacat karena simbiosis yang dijalankan tidak benar-benar saling menguntungkan. Salah satu contohnya perusahaan start up yang sudah menerapkan konsep kolaborasi di bisnisnya. Seperti Tokopedia, Bukalapak, Gojek dan lainnya. Bahkan dari konsep ruang kantor sendiri didesain semenarik mungkin hingga akhirnya bisa membuat nyaman para mitranya –atau sekarang sering dikatakan teamwork— saat mengerjakan amanah-amanah yang perlu diselesaikan. Untuk teamwork yang paling bisa kita lihat dan rasakan kesolidannya adalah para pejuang independen. Baik itu penerbit, musisi, ataupun penulis indie atau independen.

Para CEO menempatkan diri bukan sebagai bos tapi mitra kerja. Begitu pun dengan yang dulu dikatakan pekerja namun sekarang menjadi mitra kerja. Karena sistem yang dianut adalah bekerjasama atau kolaborasi. Contoh seperti GoJek, CEO GoJek mengatakan sering melakukan sharing kepada mitranya yaitu para pengendara GoJek demi mengetahui selancar apakah kolaborasi yang mereka jalankan selama ini. Bahkan beliau berani mengatakan kekuatan atau pondasi dasar perusahaan GoJek adalah Kolaborasi.

Sama halnya di Penakata, bagi kamu yang masih merasa jika menulis di Penakata itu sama saja mengeksploitasi dirimu karena tanpa upah atau parahnya kamu merasa penakata memanfaatkan tulisanmu demi keuntungan individu, udah deh, mulai sekarang singkirin dulu dan stop berpikiran negatif seperti itu.

Konsep kolaborasi dan membangun bersama-sama yang ditawarkan Penakata adalah cara yang tepat. Walau dalam setiap tim atau komunitas tidak terlepas dari yang namanya sosok pemimpin. Begitu pun di komunitas ini dan penakata pasti punya pemimpin itu. Tiap individu pun masing-masing juga punya andil di tiap bagiannya di sini.

Penakata berdiri juga berdasarkan keinginan si penggagas untuk menyediakan wadah bagi dirinya dan para mitranya untuk mengeskpresikan dan menyalurkan bakat-bakat yang ada dengan harapan bisa terbentuknya sebuah komunitas berbeda yang tidak hanya terus berkembang tapi juga kuat dalam segi apapun, bukan juga hanya untuk saling berbagi dan bercanda tapi juga menghasilkan sesuatu untuk kita para penghuni penakata.

Yang terpenting kita harus paham. Semua butuh proses dan untuk mencapai tingkat tertinggi, kita harus bersusah payah dulu bersama-sama melewati tingkat terendah. Seperti katanya, usaha yang tak pernah mengkhianati hasil atau pena yang tak pernah mengkhianati kata. Semoga penakata pun tak mengkhianati kita atau kita pun semoga tidak mengkhianati penakata.

Intinya, tiap manusia haruslah berjalan seimbang dan saling membutuhkan. Sistem mementingkan diri sendiri, perbudakan, penjajahan atau pengeksploitasian secara sepihak harus dihapuskan segera dari dunia ini. Kita seharusnya hidup bersosialisasi. Berguna dan menjadi sumber kebahagiaan terhadap satu sama lain. Bukan malah jadi sumber penderitaan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Kapitalisme merajalela. Sangat miris.

Maka dengan konsep kolaborasi, diharapkan dapat menghapuskan makna “negatif” dari pekerja dan bisa menjadi langkah awal untuk membuktikan bahwa kita punya hak diperlakukan layak walau memiliki porsi kemampuan yang berbeda-beda. Setidaknya saling menguntungkan.

Ambil peran sesuai kemampuan kita. Dapatkan hasil yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan, hak dan nilai dari apa yang kita lakukan. Ada akad dan tak ada pihak manapun yang merasa terdzolimi.

Jika pekerja diganti jadi pegiat lebih asyik kali ya. Pegiat seni, pegiat kreatif atau bahkan para buruh pabrik sabun boleh dong kita sebut sebagai pengrajin sabun? Para pekerja tambang boleh dong disebut pengrajin tambang? Bukan buruh atau pekerja kasar.

Agaknya kalau di kalangan seniman atau musisi dan sejenisnya, menyebut diri sebagai pekerja malah menjadi sesuatu yang keren. Berarti mereka memiliki profesi yang dapat diandalkan dan tidak akan disebut sebagai pengangguran walau jam kerjanya tidak terjadwal rutin seperti pekerja kantor atau pabrik.

Tapi walaupun begitu, setidaknya mereka bebas memilih sesuai hati. Bahwa bekerja menjadi seniman atau musisi, bisa jadi bukan pilihan terpaksa tapi sudah menjadi keinginan bahkan kebutuhan.

Walau rasanya masih sulit membiasakan telinga kita untuk tidak memungkiri bahwa tanpa embel-embel ‘pekerja’ pada tiap individu, khususnya pegiat seni atau wirausahawan tetap sama saja sedang berusaha mencari uang agar mempunyai pendapatan tiap bulannya sebagai biaya kehidupan kan?

Jadi kembali nih, kira-kira sebenarnya masalahnya itu di kata ‘pekerja‘ atau malah ‘mindset Individu‘ nya sendiri sih yang harus dipola ulang?

Bingung? Ya mohon maaf, saya juga. Hehe

Yaudah deh, sepertinya itu saja interpretasi yang bisa saya jabarkan dari akronim yang saya buat-buat sendiri yang dipersembahkan khusus untuk Bang Eno juga Penakata.

Mohon maaf, saya mungkin bukan ahli dalam bidang-bidang yang saya bicarakan ini. Hanya mencoba berpendapat lewat pengamatan mata saya yang sering sliwer ini. Jadi mungkin ada salah-salah kata.

PEMIKEBUJA – Persatuan Mitra Kerja Bukan Pekerja mungkin bisa jadi solusi barangkali? Ah, entahlah.

Semoga suatu saat siapapun dan apapun kegiatannya, kita bisa menjadi Mitra kerja ya. Tapi jangan mengesploitasi. Karena kita sama-sama membutuhkan. Mari bicara. Mari diskusi banyak-banyak. Haha

Salam hangat  dari saya, Sundari Mueeza, Sahabat Penakata.

Salam literasi. Salam kolaborasi

The power of Teamwork. The Power of Collaboration.

11 KOMENTAR

  1. 😱😱😱 Hanya satu kalimat, Dinda, “Hasil semedimu puuuuuuuaaaaaajang banget! Berapa ribu kata nih?” 😵😵😵

    Aku bacanya terengah-engah. Hahahha, sungguh! Namun, apa pun itu, tetap semangat!💪💪

    Oya, kamu bahas KBBI ya? Enggak komen ah. Aku mau tobat sekarang. Wkwkwk. Biar untuk kebaikanku saja. Hahhaha.😉👻