Sumber gambar pixabay.com/miracosic

Berbagai kehidupan yang berlangsung dari zaman ke zaman memberikan perkembangan yang signifikan. Mulai dari permulaan pasang surutnya Sungai Nil dan juga pengamatan benda-benda langit. Hingga rasi bintang memberikan petunjuk bagi para nelayan untuk pulang. Kemajuan juga mulai merambah ke dunia-dunia lain melalui filsafat.

Perbintangan berhasil bertahan sampai saat ini. Bahkan di setiap negara memiliki mitos dan kepercayaannya sendiri. Mulai dari zodiak, sio, tidak ketinggalan juga weton di pulau Jawa. Hal ini yang menjadi fokus saya saat melihat challenge times designer for writers. Hitungan Jawa atau biasa kita sebut primbon. Menjadi salah satu pegangan masyarakat penduduk Jawa.

Lihat saja bagaimana masyarakat Jawa ingin mendirikan rumah? Mereka akan menghitung hari yang bagus dan baik. Hitungan itu tergabung dari weton yang akan menempati dan hari yang tepat untuk membangun rumah. Hal ini juga sebagai pengharapan agar menjadi tempat yang membawa kabaikan dan keberkahan.

Dalam kaitan benda tentu tidak banyak problem dan masalah. Tapi berbeda dengan kaitan cinta antara manusia. Bagaimana jika cinta itu dihitung dan ternyata tidak cocok? Tentu akan menjadikan sebuah masalah yang berarti. Saya anggap ini menjadi masalah serius. Soalnya tidak sedikit dari teman-teman desa yang nekat karena satuan hitungannya tidak baik.

Calon istri dan suami nilai wetonnya digabungkan dan jika berjumlah 28 menjadi nilai yang sangat buruk. Belum lagi kalau ada teror akan ada keluarga yang mati. Jika perkawinan itu masih dilangsungkan. Teror inilah yang menyebabkan horor dan membuat takut sebagian masyarakat. Tidak sedikit orang tua yang melarang dan mengagalkan pernikahan anak-anak mereka.

Saya pun pernah mengalaminya sendiri. Bagaimana harus beradapan antara restu dan penolakan orang tua. Namun bukan berarti saya takut terhadap hitungan. Terlebih hanya tiada keikhlasan orang tua. Karena itulah tangis pilu seorang ibu meluluhlantahkan rasa cintaku padanya. Cinta yang kami perjuangkan kandas dan lenyap begitu saja.

Seolah takdir mudah dibaca dan diterjemahkan oleh manusia melalui perhitungan. Belum lagi kalau hitungan itu telah terjadi. Semakin memperkuat keyakinan dan menjadi contoh kebenaran yang pernah ada. Perhitungan semakin menjadi horor dan teror. Bukan sebagai rambu-rambu dan petunjuk. Belum lagi hal itu di-amini oleh sebagian besar masyarakat.

Zodiak dan sio hanyalah tanda dan petunjuk, bukan sebuah kepastian. Horor yang mucul hanyalah sebuah ketakutan tanpa sebab. Padahal manusia diberi akal untuk berpikir membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Cukupkan pada pengetahuan dan ilmu serta belajar dari pengalaman. Hal-hal diluar kemampuan manusia bukan menjadi tanggung jawab kita. Tanpa mengintimidasi mereka yang mempercayainya.

Ketakutan itu tidak ada, resikolah yang mestinya kita siapkan penanggulangannya. Rasa takut tidak bisa membuat kita menjadi lebih baik dan maju. Butuh keberanian yang mampu memberikan nilai dan value positif.

16 KOMENTAR