Sumber : www.pixabay.com/williamcho

Di tahun 2019 ini tak terasa kita sudah memasuki Bulan April. Dan tulisan ini saya buat tepat pada tanggal 21 April. Memperingati hari lahirnya pahlawan nasional wanita yaitu R.A. Kartini. Kalau menyebut tentang Kartini ingatan kita akan otomatis dibawa tentang kisah pergerakan feminis mengenai emansipasi wanita. Tentunya gerakan tersebut semakin kuat karena didasari pengaruh pemikiran Barat. Benarkah demikian?

Menurut Gadis Arivia pendiri sekaligus Direktur Yayasan Jurnal Perempuan memaparkan bahwa isu feminis yang semakin marak beredar bukan datang semata-mata dari pemikiran Barat. Gadis berargumen bahwa jika ada pesan kesetaraan, kemartabatan dan harkat manusia, hal itu bukan hanya milik Barat, namun bersifat universal, dan itu relevan bagi seluruh wanita. Konsep emansipasi kaum wanita yang digembar-gemborkan selama ini sudah disuarakan bahkan sebelum kisah Kartini menjadi sejarah.

Dalam buku yang saya baca berjudul Sejarah Perempuan Gerakan dan Pencapaian karya Cora Vreede-De Stuers saya banyak tahu lingkup sejarah perempuan. Buku tersebut saya pinjam dari teman yang sedang melakukan riset untuk karya produksi pementasan teater tentang perempuan. Saya diberi waktu hanya semalam untuk menghabiskan 322 halaman, karena buku tersebut harus dibaca oleh sang sutradara pentas teater. Dari sampul buku tersebut terlihat 3 tokoh perempuan Jawa. Saya menebak pembahasannya hanya melingkupi sejarah perempuan di Jawa. Ternyata begitu dalam dan luas pembahasan di buku tersebut, baik dari lingkup baik adat agama, sosial, maupun politik.

Sumber : wacana.ui.ac.id

Persoalan adat dan agama dalam kaitannya dengan perempuan terutama pada konteks cerita Siti Nurbaya. Dari sudut pandang feminis, Siti Nurbaya justru ditokohkan sebagai perempuan yang berpendirian. Beberapa keputusan hidupnya dilakukan secara sadar dan atas kehendak diri. Ketika dikisahkan ia dijodohkan dengan tokoh yang seolah jahat dan jelek secara fisik, kenyataannya ia bersedia menikah dengan Datuk Meringgih. Keputusan tersebut ia lakukan atas kehendaknya sendiri untuk menyelamatkan ayahnya yang berhutang. Ia sadar akan keputusannya dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Tentunya dia adalah wanita yang berpendidikan dan cerdas, karena Syamsul Bahri tertarik pada Nurbaya karena keduanya sering saling diskusi di pelajaran sekolahnya.

Siti Nurbaya menjunjung tinggi ideologi dan pandangan kesetaraan perempuan memiliki kebebasan hak sebagai manusia. Ideologi yang ia junjung tinggi adalah masalah poligami. Hal ini terlihat pada saat ia mengusir suaminya yang melakukan poligami. Terutama dalam adat Pariaman, dikenal praktek adat dimana laki-laki ”dibeli” oleh perempuan. Praktek ini pun dimanfaatkan untuk memperkaya diri laki-laki, sekaligus menjadikan perempuan sebagai budak Poligami. Meskipun secara adat dan agama hal ini diperbolehkan, namun sikap Nurbaya menunjukkan sikap menolak tradisi yang membelenggu dan keinginan untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan.

Kisah Siti Nurbaya hanya sekelumit dari 10 bab bahasan dari buku tersebut. Masalah dan tantangan bagi perempuan dalam mengangkat isu feminis tidak selalu dipandang negatif. Perempuan Indonesia masih harus berjuang untuk membebaskan bangsa dan kaumnya dari kemiskinan, buta aksara, dan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini ditunjukkan melalui beberapa organisasi yang muncul yaitu didirikannya Istri Sedar, Perwani, Gerwani, dan perlindungan hak-hak perempuan dalam rumah tangga seperti adanya perjanjian pra-nikah.

Sekiranya bisa banyak saya ceritakan semua hal dari buku Sejarah Perempuan ini pasti laman ini tidak akan cukup. Mungkin suatu saat kita bisa bertatap muka langsung untuk berdiskusi. Semoga kontribusi saya dalam menyuarakan feminis melalui tantangan #bookforwriter bisa jadi santapan lezat untuk para anti feminis, hehe. Kalau kalau kalian termasuk pro feminis atau anti feminis. Monggo ramaikan ruang komentarnya.

8 KOMENTAR

  1. Di Indonesia masih jarang kesadaran perempuan untuk mulai bersuara lebih dulu. Sedang di luar negeri, setahuku terutama budaya Eropa. Kaum perempuan dan laki-laki memiliki kesetaraan yang sama, bahkan dalam pergaulan sehari-hari.

    Yah, kalau diceritakan juga bakal panjang ini komentarku. Hihiii

    • Itulah katanya demokrasi, sekedar menyuarakan aspirasi saja kadang masih takut-takut. Takut dibilang arogan sok mau menandingi lelaki, takut dibilang kaum perempuan ujung-ujungnya di dapur, sumur, dan kasur. Juga takut apa-apa yang disuarakan salah dikit berujung bui.

      Padahal ya menurutku, kalau perempuan sudah memberikan bukti nyata, contohnya berprestasi di bidang apapun bisa jadi kebanggaan, pengakuan, bahkan bikin minder para lelaki, tanpa harus koar-koar minta pengakuan penyetaraan gender.

      Kan bahas perempuan sampai nggak bisa kontrol ini jari 😅

  2. Untuk teman-teman yang sudah mampir di kolom komentar tulisan saya, maafkan ya kalau saya hampir tidak pernah balas. Secara saya menulis bisa dikatakan egosentris. Kalau menulis semaunya sendiri, sesempatnya, se-moodnya. Jangan tersinggung ya teman-teman penulis. Aslinya lebih asik dan humble kok, haha. Aku mah gitu orangnya😂🤗