Sumber gambar : pexels/ porapakapichodilok

Hai, masih sepi saja ni challenge-nya. Hehe. Padahal saya malah menunggu teman-teman lain loh untuk mengirimnya duluan. Apa kita saling menunggu ya?Β Haha.

Soalnya beberapa kekhawatiran agaknya masih sering melanda pikiran saya saat mau membuat dan mengirim puisi untuk challenge ini. Salah satunya takut jika makna puisi saya tidak sesuai dengan ekspektasi sebenarnya dari desain bang Dina itu sendiri.

Awalnya saya mengira seperti itu. Namun ternyata kata admin Penakata, kita bisa bebas untuk menginterpretasikan gambar tersebut sesuai dengan apa yang kita pikirkan saat melihat karya tersebut. Bebas sebebas-bebasnya.

Contoh sama seperti halnya puisi, biasanya satu buah puisi itu bisa memiliki interpretasi atau pemaknaan yang berbeda-beda dari sudut pandang tiap orang. Dan itu wajar. Tidak ada yang salah.

Nah, setelah paham, akhirnya saya berani mencoba untuk memaknai sendiri lewat puisi saya di bawah ini. Saya memilih tema The Experiment. Semoga tidak jauh-jauh dari apa yang terpikirkan oleh bang Dina saat membuat desain tersebut. Dan kalaupun tidak, setidaknya saya memaknainya dengan pandangan seperti itu ya Bang. Hehe

Berikut sebuah puisi yang saya persembahkan untuk Penakata dan sekaligus memenuhi tantangan dari Desainer Internasional ternama kita, bang Dina. Semoga menikmati.

 

Andai Kami Bisa Memilih

Ah, manisnya
Cerita masa lalu kalian
Tentang permainan domikado
yang masih jadi primadona

Ah, irinya
Suasana canda tawa kalian
Saat sawah masih jadi tempat paling membahagiakan
Main-main keong sambil bantu bapak menanam padi

Masa yang teramat indah untuk dikenang
Tapi menjadi perbandingan yang mencolok
Bagi masa kami saat ini

Siapapun, wahai siapapun
Pandang kami dari segala arah
Siapa yang paling kuat?
Kami ini bagai belati mati
Tajam tapi tak berarti

Kami masih terus berjuang
Di tengah gerusan yang terus menerjang
Sampai pada nadir
Sampai titik paling genting
Meski terus terlilit oleh balutan-balutan
Yang kalian sebut memprihatinkan

Siapa yang tersalahkan siapa
Siapa yang disalahkan siapa
Kami ingin hidup tanpa merasa mati
Tapi ujung zaman mengarahkan pada moncong kematian yang lebih mengerikan
Dari sekadar jiwa yang fana, jiwa yang merana

Banding, kalian bandingkan
Mengapa tak sekalian saja diretas
Membunuh ruang-ruang imajinasi dan visioner
Kami tergeletak di bawah terik kebodohan
Dan kalian olok lewat kebengisan tuduhan, ancaman, gerusan zaman edan
Buat kami jadi bimbang terluntang

Suguhan pihak-pihak tak bertanggung jawab
Meluluhlantakkan benteng kamii
Dan kaliaaaaan!!!!
Terus saja memaki, mendelik, merampas hati keluh ini
Tanpa berpikir jernih
Mengapa kami begini

Bukankah seharusnya dunia bersuara
Ya, mungkin masih ada suara-suara sumbang
Yang tak dianggap
Yang teremehkan
Yang diam-diam membangun benteng kami kembali
Tapi mereka pasti
Mereka bertindak jeli

Lalu yang melenggang di depan sana
Apa kabar?
Malah melucuti kami dengan beragam teori zaman edan yang tak masuk akal

Ibahlah tanpa menyudutkan
Jadikan rumah ini tempat paling ternyaman
Lalu bentuklah jadi wadah dan jalan pemulihan

Andai bisa memilih
Kami ingin hidup di masa-masa indah yang tak henti kau ceritakan ..
Agar tak ada noda di tiap tubuh kami
Tak ada risau di antara pemburu dan kekacauan logika seperti yang kalian idam-idamkan
Menyalahkan tanpa solusi
Ibah tanpa peduli

Semoga kami tetap kuat berjuang dan bertahan
Menyongsong hari-hari masa depan
Di tengah dunia yang setiap waktu semakin mengerikan

Pagi, 100219

~~~

Nah, itu tadi sebuah puisi yang tercipta hasil dari pengamatan saya terhadap desain gambar yang dibuat oleh bang Dina dengan temaΒ The Experiment.Β 

Untuk kalian terima kasih sudah membacanya sampai habis. Dan segera buat karya kalian juga untuk memenuhi tantangan ini ya. Semoga berhasil menulis hari ini.

Ditunggu event kolaborasi-kolabarasi selanjutnya dari Penakata. Salam literasi. Salam kolaborasi.

Penakata, Place of collaboration for good thinkers

Selamat siang. Jangan lupa makan. 😊

15 KOMENTAR

    • Kemarin aku juga bingung mau kirim apa kak. Sekarang aku malah jadi pengen lagi karena udah paham rule-nya

      Ibarat kita lomba buat makanan. Bahan dasarnya harus tepung semua. Asalkan hasilnya berbeda-beda.

      Bebaskan imajinasimu sebebas-bebasnya. Sebelum berimajinasi itu juga punya Undang-Undangnya
      Ahahaha. Fighting!!
      πŸ™ŒπŸ˜Š