Mengingat bagaimana kita bisa menjadi begitu dekat mampu menghadirkan senyum dan tawa.

Aku bisa tertawa dan tidak menyadari arti kepergian ibuku, tapi setelah setahun berlalu aku menangis tersedu karena rindu, dan dirimu yang ada disampingku, menepuk pundak dan menghapus air mata. Dirimu yang mengulurkan tangan dan memboncengku menuju sungai. Pertama aku ragu, tapi setelah melihat keberanianmu terjun dari jembatan ke sungai membuatku menjadi berani untuk mencoba, padahal saat itu aku belum bisa berenang.

Aku terjatuh, dan kamu memintaku untuk menghiraukan luka yang terukir karena terjatuh saat belajar sepeda, aku mengikuti saja semua ucapanmu dan mengabaikan rasa sakit. Sangat konyol, aku bahkan mengikuti instruksimu menyajikan air sungai yang mirip air teh itu kepada kakakku dan teman-temannya. Untungnya mereka tidak sakit perut.

Semuanya menjadi seru saat bermain bersamamu, walaupun hanya memancing undur-undur di bawah rumah betang. Semua terasa menyenangkan, walaupun aku harus mengayuh sepeda cepat-cepat saat kita dikejar anjing penjaga yang kebun pemiliknya kita injak-injak, padahal itu hari pertama puasa dan kita harus menahan haus setengah hari lagi.

Aku baru sadar, masa kecilku terlalu banyak berlalu bersamamu. Kita hanya terpisahkan saat ingin mewujudkan impian masing-masing. Sore yang masih ditemani hujan, kau datang ke terminal untuk menyerahkan notebook dengan motif dandelion sebagai hadiah ulang tahunku yang tidak terbungkus kertas kado, tidak keren sekali.

“Masih suka dandelion kan?”

“Masih lah.”

“Disaat gadis lain menyukai bunga mawar atau bunga dahlia, kenapa kamu malah menyukai dandelion, apa bagusnya?” setelah sekian lama, dirimu baru menanyakan kenapa aku menyukai dandelion.

Aku tidak menjawab, hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Mungkin karena kesal, kau kemudian mendorongku dan menyuruhku segera naik bis. Sore yang dibungkus hujan dan perpisahan kita.

***

Sekarang kita berjarak. Apakah karena kita bukan anak-anak lagi. Apakah kedekatan seperti dulu terlalu membuat kita tidak nyaman dan canggung saat ini? Entahlah, akupun tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Aroma lavender menyeruak, deretan bunga lavender yang menjadi usulanmu untuk dijadikan hiasan pelaminan agar tidak didekati nyamuk sungguh ide yang lucu. Selamat menuju hari bahagiamu, semoga kau bahagia selalu, teman masa kecilku.

6 KOMENTAR