sumber gambar : pexels/ zunzun

Ibu. Sosok hebat yang sering sekali menjadi topik utama dalam kehidupan kita. Ibu, seorang wanita kuat dengan berbagai keahliannya. Dia bisa menjadi apapun yang kita mau. Dia bisa memberi dan mengorbankan apapun untuk kita. Sosok pemberani yang begitu luar biasa mengatur langkahnya untuk tetap memberi yang terbaik untuk buah hatinya.

Kurang lebih sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu. Bukanlah waktu yang sebentar untuk menggendong kita dalam kandungannya. Membawa kita ke manapun ia pergi. Ia telah ikhlas dalam hal apapun. Begitu pula ketika melahirkan kita. Ia telah siap dengan rasa sakit yag pasti akan membuatnya setengah mati menahan. Ia berani menerima resiko merasakan bagaimana 20 tulang patah bersamaan. Rasanya bahkan lebih sakit dari apapun. Tapi ia berani. Berani mengambil resiko itu. Berani mempertaruhkan nyawanya demi kita yang wajahnya saja pun belum terlihat. Yang tidak tahu apakah pengorbanannya ini akan terbalaskan dengan kebaikan anaknya atau tidak kelak ketika besar. Ibu tak memikirkan hal itu. Yang ia pikirkan adalah bagaimana cara agar secepatnya menyaksikan tangisan pertama dan raut wajah mungil kita.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian Ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim )

Tak heran jika Rasulullah saw menyebut sosok Ibu tiga kali berturut-turut ketika salah seorang menanyakan pada siapa pertama kali ia harus berbakti. Ibumu. Dan yang keempat kalinya Rasulullah saw baru mengatakan Ayahmu. Sangat jelas terlihat jika penghargaan akan kedudukan seorang ibu jauh lebih tinggi dibanding seorang ayah. Sampai-sampai bahkan surga pun dikatakan ada di bawah telapak kaki Ibu. Walau tidak untuk menandingi ataupun menyamai derajat seorang ayah, ibu selalu elegan dalam kemuliaannya. Hal ini juga menandakan bahwa memang pengorbanan seorang ibu berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan seorang ayah. Mulai dari ia hamil muda, merasakan mual dan pusing kepala yang tak bisa terkendali, sampai membawa kita ke manapun saat mulai hamil besar. Dan bukankah proses melahirkan bahka jauh lebih dituntut untuk berjuang setengah mati? Nyawalah taruhannya. Apapun caranya ia berusaha mempertahankan kehidupan bayinya tanpa memikirkan bagaimana nasibnya setelah itu. Bahkan ia rela, jika saja dipilih salah satu yang harus hidup, ketahuilah, dengan air mata yang masih  menggantung di pelupuk karena menahan tangis, dengan keringat yang begitu basah membanjiri wajahnya, ia lebih memilih  mengorbankan hidupnya demi kehidupan bayi mungilnya. Memberikan seluruh napasnya untuk sang buah hati. Tanpa syarat.

Bahkan perjuangannya tidak bakal sampai di sini saja. Ketika ia telah menjadi seorang ibu, waktu isirahatnya pun ia gantikan untuk hanya sekedar mengayun kita sampai terlelap. Mengorbankan penampilan menariknya ketika masih gadis, demi mengorbankan waktu agar bisa merawat kita dengan sebaik mungkin ketika telah menyandang status Ibu.

Ibu, selalu spektakuler dalam hal apapun.

Ibu, tak ada kata-kata yang cukup untuk mewakili kasih sayang dan pengorbananmu. Hanya doa yang bisa terus kuhaturkan pada Allah SWT, agar engkau senantiasa sehat selalu dan mencintaiku tanpa syarat. Lillahi ta ‘ala.

Hei, di mana ibumu sekarang? Jika ada di dekatmu, peluklah ia dengan sepenuh hati. Terus kalau dia protes,”Eh, peluk peluk pasti ada maunya nih.”

Jawab saja dengan lembut, “Iya, mau menyayangimu selamanya.”

 

Selamat malam. Jangan lupa makan.

3 KOMENTAR