Ketika kata sepakat dan jabat tangan formalitas usai, ada senyum tak tertahan dan euphoria perasaan bahagia tak terbendung dalam diri. Mungkin ini jalan, mungkin juga takdir, namun tidak mungkin semua ini tampak terang jikalau aku tidak pernah meminta pada-Nya.

“Setelah ini, kamu mau ke mana?” tanyanya saat kami ada di luar zona resmi. Dua rekan yang lain sudah pergi lebih dulu.

“Balik, naik ke Selatan,” aku masih menekuri kopi dan menatap layar yang berpendar.

“Ke tempat yang waktu itu dulu, gimana?”

Sejenak aku berpikir sebelum menjawab, “Boleh, bilang aja kalau laper.”

Dia tertawa lalu membantuku beberes, tak lupa mengingatkan agar aku menyimpan baik-baik dokumen yang sekarang jadi tanggung jawabku. Kami melangkah ke luar kafe bersama obrolan soal jam berapa aku pulang esok hari.

Mengingat pertemuan kemarin sore, betapa aku menyadari bahwa takdir itu terkadang lucu, rumit dan out our control. Hidup kita adalah peran, meskipun skenario sudah diatur oleh-Nya, tetaplah ada perjuangan besar untuk mencapai titik yang diingini. Mana mungkin kita akan mendapat atau menjadi apabila berusaha saja tidak mau.

Aku percaya bahwa pemikiran positif, akan membawa banyak hal positif. Katakanlah dengan pikiran yang selalu baik terhadap hal apapun, efeknya bisa lebih besar dari apa yang pernah terbenak. Setidaknya itu yang aku rasakan kini.

Bukan satu atau dua hal, tapi sudah terlalu banyak yang terjadi, rasanya aku tidak bisa mengurainya. Kesempatan yang datang, ruang gerak menyenangkan, persahabatan, pertemanan baru, serta napas yang masih lekat dalam raga. Keterlaluan sekali kalau aku sampai lupa bersyukur.

Maka, jangan sampai putus asa, apapun hal buruk yang mungkin tengah dialami, yakinlah esok hari semua akan berlalu. Kita akan baik-baik saja. Jangan mengeluh, memangnya sudah sejauh apa kita berusaha?

Masih terlalu awal untuk berhenti dan meratapi.

Sebelum perjalanan pulang

29 Juni 2019

2 KOMENTAR