Di pagi hari, kamu pun terkejut ketika kamu dapati tubuhmu terbaring di rerumputan. Dengan rasa heran yang begitu besar di hatimu, kamu bangun dan mencoba melihat sekitar. Tak ada siapa pun, bahkan kamu tak melihat adanya sebuah bangunan dan pohon-pohon menjulang tinggi, hanya pohon bunga yang jaraknya berjauhan.

“Aku di mana ini?” ucapmu entah bertanya ke pada siapa. Sebab seingatmu semalam kamu tidur di kamarmu sendiri.

Kamu putuskan untuk berjalan mencari sesuatu yang mungkin bisa kamu jadikan petunjuk. Mungkin sudah berjam-jam kamu berjalan hingga di kejauhan terlihat sebuah desa. Kau pun berlari ke arah di mana desa itu berada. Seketika rasa lelahmu hilang.

Ada secercah cahaya harapan yang tumbuh di hatimu.

Di depan desa itu terlihat sebuah gapura besar berwarna emas dengan sebuah tulisan yang dengan jelas bisa kamu baca. “DI SINI, KITA ADALAH SAMA”

Sebenarnya ada sedikit ragu di hatimu, sebab dari luar gapura, kamu tak melihat satu pun orang di desa tersebut, hanya bangunan-bangunan aneh. Namun tekatmu sudah bulat untuk masuk ke desa yang sudah ada di depan mata demi untuk mencari tahu sedang berada di mana sebenarnya dirimu. Tempat yang begitu asing, tempat yang sekali pun belum pernah kamu jumpai sebelumnya.

Kakimu terus melangkah hingga melewati gapura tersebut. Ada rasa sakit yang seketika menyerang kepalamu hingga kamu tanpa sadar kamu tertunduk menutup mata dan tanganmu terus menyentuh kepala di mana sakit itu bersarang.

Satu menit berlalu, sakit itu pun hilang. Kamu kembali membuka mata dan berdiri tegak.

Alangkah terkejutnya kamu dengan pemandangan yang berada di depanmu. Desa yang tadinya begitu sepi, kini begitu ramai. Tapi yang kamu lihat bukan manusia normal seperti dirimu. Namun manusia yang pernah kamu lihat di film-film dan di buku dongeng yang pernah kamu baca.

Kamu melanjutkan untuk melangkah menghampiri mereka yang berbeda denganmu. Baru saja kamu langkahkan kaki, kamu menyadari bahwa kamu menginjak genangan air. Di situ ada sesuatu yang aneh pada pantulannya. Seakan tak percaya dengan apa yang kamu lihat. Kamu melihat dirimu pun berubah bentuk seperti mereka yang kamu anggap berbeda tadi.

“Kenapa aku?” ucapmu sambil kedua tanganmu menyentuhi semua bagian tubuhmu. “Kenapa aku bisa berubah seperti mereka?” lanjutmu.

“Hai!” teriak seseorang kepadamu.

Kamu pun menghentikan apa yang sedang kamu lakukan tadi dan mencari di mana suara itu berasal.

“Ayo cepat ke sana!” ucap seseorang di depanmu sambil menunjuk ke arah kerumunan orang-orang.

Kamu masih terdiam.

Orang itu menarik tanganmu sambil mengulangi apa yang tadi ia ucapkan kepadamu. Mau tak mau, kamu mengikutinya.

Sambil mengikuti orang tadi, kamu terus melihat sekitar. Benar-benar aneh, semua orang terlihat tampak sama bentuk dan rupanya. Termasuk dirimu kini.

Meski pun demikian, kamu masih saja bisa mengenali seseorang yang tadi mengajakmu bergabung di kerumunan orang yang begitu banyak. Kamu berdiri di sampingnya. Ikut melihat ke arah di mana ada sebuah pohon yang berada di tengah kerumunan.

Tak begitu lama berselang, ada suara yang terdengar dengan lantang, namun begitu lembut terdengar. Kamu dengan mudahnya menduga kalau suara itu adalah suara dari pohon yang sedang kamu dan semua orang pandangi.

Kamu kembali teringat pada sebuah film yang pernah kamu lihat. Dalam film tersebut kamu melihat sebuah pohon bisa berbicara selayaknya manusia. Dulu kamu hanya bisa melihat dari film saja, kini kamu bisa melihatnya langsung, mendengarkan langsung sebuah pohon sedang berbicara.

“Di sini, kita adalah sama. Tidak ada yang beda. Makanan kita sama, pakaian kita sama, pekerjaan kita sama, waktu kita sama. Ini rumah kita bersama.”

Semua orang bersorak-sorai seakan menyambut gembira pidato singkat tersebut. Semua orang terlihat gembira, termasuk kamu. Entah bagaimana bisa kamu ikut merasakan kegembiraan itu, kamu sendiri pun bingung. Seakan ada sebuah mantra yang membuat hatimu menjadi senang dan lupa dengan semua masalah di kepalamu.

Semua orang saling menari, meloncat dan berputar lalu terbang. Kamu yang melihat pemandangan itu pun menjadi heran. Namun tanpa pikir panjang, entah ada dorongan dari mana, kamu berniat untuk ikut melakukannya. Seakan semua sudah berada di dalam dirimu. Tanpa ragu kamu pun melakukannya, terbang seperti mereka. Kini kamu terbang layaknya burung. Senyum di bibirmu semakin mengembang, rasa bahagia di hatimu semakin terasa.

“Hai, bagaimana aku bisa melakukan ini?” tanyamu kepada salah satu orang yang terbang di sampingmu.

“Di sini, kita adalah sama,” jawabnya lalu melesat menjauh darimu.

Kamu terus terbang, merasakan sensasi yang tak pernah kamu alami seumur hidupmu. Kamu pun mulai lupa dengan niat awal untuk mencari tahu sedang di mana kamu ini. Kamu tak lagi peduli dengan apa yang terjadi padamu. Kamu terus terbang ke sana kemari sampai lupa waktu dan tak melihat lagi orang-orang terbang di sekitarmu.

Masih berada di udara, tiba-tiba saja kekuatan terbang itu hilang dari tubuhmu. Dengan cepat kamu meluncur bebas ke bawah.

“Aaaa!” teriakmu begitu kencang mulai saat kamu menyadari kamu jatuh sampai akhirnya kamu menyentuh tanah.

Seketika itu kamu tersentak dan terbangun dari tidur yang begitu lelap. Dalam keadaan masih duduk di ranjang, kamu menghela nafas panjang sebagai tanda itu tadi hanyalah mimpi.

17 KOMENTAR

  1. Kak Dan, ceritanya bagus. Tetapi, aku mau komen soal tata bahasa dan narasi.

    Ada inkonsistensi penggunaan kata ganti subyek, kadang kamu dan kau. Karena ini narator yang bicara harusnya hal ini tidak terjadi.

    Serangan kata ‘kamu’ sebab tokoh hanya satu orang, harusnya tidak perlu tiap kalimat disebutkan subyeknya.

    Penggunaan titik dan koma perlu diperhatikan lagi, di beberapa paragraf aku ngos-ngosan bacanya, karena enggak tahu mau berhenti di mana.

    Tips biar tepat titik dan koma, baiknya dibaca keras apa yang ditulis, jadi kita menguji napas sendiri sampai di mana bisa bertahan.

    Duh maafken kalau komenku rada sok tahu yak, wkwkwk jarang komen sekalinya komen panjang bet. ✌️✌️✌️

  2. Karena di sini kita adalah sama, makanya kita saling mengingatkan dan memberi masukan. Kalau ada kata-kata kami, terutama aku yang tajam atau menyakitkan hati, bilang saja Kak Dan. Aku lebih suka kayak gitu daripada main sindir. Kami juga tidak luoat dari kesalahan dan razanya menyenangkan bila ada yang memberi tahu. Wkwkkwk. Hahahaha. 😉😆

    Sebenarnya enggak komen lebih menyenangkan dan melegakan. Bisa juga hanya komen ” keren, nice, oke, setuju, lanjut, terima kasih …” lebih sederhana dan enggak beban juga sih. Cuma, sayang saja kita sudah baca hanya komen gitu. Bacanya saja lama, masa komennya pendek banget. Bercanda Kak Dan. Isi kepala orang beda-beda. Hahaha.👼👼

    Dapat ide dari mana nih, Kak bikin cerpen ini? 😄

    • Setuju Kak Ana isi kepala manusia itu beda-beda. Masing-masing punya style berkomentar sendiri-sendiri 😂. Mungkin diam memang lebih baik Kak, ketimbang diungkapkan takut serba salah 😁. Mungkin saling menjaga hati saja. Jagalah hati jangan kau nodai. Jagalah hati lentera hidup ini 🙏.
      Maaf ikutan nyungsep di sini 🤗🤗🤗

    • Pertama emang niat bikin cerita menggunakan POV2, lalu menentukan sebuah tema di mana aku ingin membuat cerita orang tidur lalu bermimpi. Lalu mengalirlah sebuah cerita seperti itu. Sebab di mimpi orang bisa jadi apa saja, bahkan bisa terbang.
      Awalnya, adegan tidur aku tulis di bagian pertama, tapi aku pikir2 gak seru, pembaca akan dengan mudah tau itu mimpi, lalu aku balik dan jadilah seperti itu.