Sumber gambar pixabay.com/prettysleepy2

Hai Dinda! Apa kabarmu hari ini? Aku yakin kamu baik-baik saja. Karena ada lafadz doa yang aku panjat tiap kali teringat. Meski telingamu tiada pernah mendengarnya. Mungkin juga suaraku yang lirih. Tapi aku yakin Tuhan mendengar apa yang aku ucapkan terbaik untukmu. Dinda masih setiakah kamu dengan diriku? Atau mungkin cukup membosankan mengenal diriku. Entah sudah berapa detik kita terjebak dalam rasa. Aku sendiriΒ tidak pernah menghitung dan sengaja tidak mau mengingatnya.

Tiada makan yang nikmat selain bersama-sama denganmu. Tidak peduli di mana saja. Aku tetap merasakan bahagia asal satu suap nasi berlauk senyum manismu. Bahkan yang rasanya pedas sekalipun bisa berubah jadi sedap. Aku tidak paham tentang ini semua. Tentang perasaan dan rasa lidahku. Semua berubah saat berada di dekatmu.

Hari ini kamu sedikit cemberut. Ada bias rahasia di sorot matamu. Meski sudah kamu tutupi dengan senyum. Aku tidak pernah bisa kamu bohongi. Mana lagi tempat menuangkan gundah selain secangkir kopi. Aku jemput kamu dan kuajak jalan-jalan sore. Menikmati senja di antara celah-celah gedung bertingkat. Hingga kamu mengajakku mampir di kedai kopi.

Antarakata

Kafe yang tanpa batas waktu memberimu cukup ruang untuk menuangkan gundah gulana. Cerita tentang masa depan yang seakan tidak berkawan. Begitu juga kita yang sudah beberapa kali di lihat banyak pendatang. Mereka seakan ingin merampas tempat duduk ini. Aku tidak mau mereka merusak kebahagian kita. Curahkanlah isi hatimu aku selalu setia mendengarkannya. Menangislah bila itu perlu. Jangan takut lapar. Nanti gantian kamu akan aku ajak makan.

Benar kamu lapar ‘kan? Aku ada tempat makan enak, Dinda.

Bawa Daku Pergi

Tempat yang mungil di pinggiran jalan serasa menikmati sepinya jalan kota. Ceritakan kembali gundahmu sambil menikmati nasi kotak ini. Siapa tahu kamu akan merasa lega. Merasa sudah meluapkan semua permasalahan kehidupan. Sama seperti apa yang kamu makan. Kalau kuat habiskan. Kalau tidak jangan paksakan. Karena semua itu tidak akan membuatmu bahagia.

Indahnya kota berhias lampu dan bintang. Malam lautan dan pantai hanya ada suara ombak.

Taman Tabanas Bukit Gombel

Bukit yang pernah membuat kita duduk di larut malam. Saat jalan sepi dan kota mulai membisu. Pada waktu itu juga aku sertakan kata cinta untukmu, Dinda. “Don’t leave me, Kanda,” katamu dengan wajah harap-harap jangan pergi. Aku tahu perasaan sakit putus cinta. Paham sekali rasanya dihianati. Bukit inilah saksi kita untuk mengutarakan janji. Setia satu sama lain tanpa ada ingin pergi dan membenci.

Kata-katamu mulai habis. Marahmu juga sudah tidak nampak. Senyum itu kembali merekah. Bersama lampu kota yang sombong. Sudah lupakan saja masa lalumu, Dinda. Biarlah dia pergi bersamanya. Sedang yang di sini ada aku dan kamu. Ku panggil kamu Dinda dan kamu panggil aku Kanda. Ikatan hati yang abadi. Hingga suatu hari nanti kita dipertemukan kembali. Karena mati bukan inginku tapi takdir. Sampai aku tiada atau kamu yang mendahului. Kita harus saling tunggu sebelum masuk surga.

21 KOMENTAR