Sumber gambar pixabay.com/myriams

Masih saja kita bahas bahasa puisi. Meski terbentang antara puisi lama dan baru. Manusiawi juga yang lama dilupakan dan yang baru disanjung. Namun sepantasnya tidak demikian. Berbahasa memang hak semua orang. Gaya bahasa juga menjadi ciri khas orang itu. Tidak ada yang salah. Justru semakin memperkaya bahasa.

Kemarin kita bicara tentang balada dan romansa. Cerita dan cinta yang mestinya bisa bagus. Hanya karena ketidakmampuan berbahasa jadi biasa saja. Ya maaf. Tapi kamu tidak muak-kan, kalau ku ajak bermain elegi dan ode?

Kamu tahu nuansa pagi ini? Sedih dan duka. Ada hal keterkaitan yang semestinya tidak dituduhkan. Ya! Elegi: puisi berisi kesedihan dan kedukaan yang muncul dari rasa. Memang pembagian ini berdasarkan isi puisi. Belum bedasarkan waktu. Untuk itu isi puisi adalah rasanya.

 

Elegi Sakit Jiwa

Telah berserah genap jiwa raga
Untukmu yang selalu kupuja
Malaikat hati
Pemilikku dari ujung rambut dan kaki

Belum cukup atau muak?
Apa pinta yang tidak kutindak
Masih juga kurang
Rasa hati dan jiwa sebesar gunung

Ini bukan tentang aku tapi jiwa
Sakit sesak merusak di pagi buta
Jiwa berkecamuk remuk
Jiwanya hancur tersruduk

Menangislah jiwa yang sakit
Gelisahlah hati yang pahit
Sakit jiwa
Hati yang terluka

Wahai jiwa yang sakit, aku sungguh tidak berkelit
Tunggu saja, kita akan kembali bersama

 

Elegi yang mungkin gagal aku sampaikan. Sudah tahu kan bahasaku murah. Tidak sekeren para pujangga kerajaan. Bukan juga penyair kondang. Tapi tetap aku berusaha belajar. Karena itu lebih indah dari hasilnya. Begitu juga kamu yang ku puja. Lebih indah merasakan cara daripada makan hasilnya.

Teruntuk kamu yang masih setia dengan puisi-puisi. Setelah kesakitan yang kesekian kali. Tentu ada mentari yang bercahaya. Dan itu kamu yang ada di sana. Aku mencoba mengutarakan lewat ode– puisi berisi sanjungan. Karena kamu tokoh penting dalam hidup ini.

 

Dewi Malam

Selendang sutra dan paras jelita
Rona dalam sukma berpancar
Senyummu sabit rembulan malam

Jangan pudar di gemuruh badai hujan
Jangan padam hanya air hujan

Langkah berani dan penuh kasih sayang
Memendam cinta dalam perjuangan
Tangguh tanpa pernah rapuh
Tidak pernah ragu dan tunduk

Kau dewi puja dari kayangan
Turun menjelma bidadari
Membawa mantra dan keajaiban
Puja selalu untuk malam sampai siang

 

Maafkan aku yang kurang akan bahasa. Sulit juga menerawang imaginasi lalu terbentuk diksi. Namun aku harap juga tidak mengurangi maknanya. Karena isi yang lebih aku ingin kamu mengerti. Mungkin juga terasa kurang sampai. Tidak apa-apa ya. Izinkan aku belajar mencintai dan berkata.

8 KOMENTAR