pixabay.com/kaboompics

Antara segelas kopi dan pemuda di pojokan toko seperti tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama terpaku oleh eksistensinya masing-masing. Terlihat betul dia lebih asyik menikmati game online dibanding dengan menyadari keberadaan segelas kopi. Ada kemungkinan dia sedang melepas penat di sela-sela pekerjaan. Sehingga mengombinasikan kopi dan game menjadi terapi yang indah. Barangkali itu juga menjadi esensi hiburan yang mungkin dilakukan.

Manusia memiliki tafsir esensi(hakikat) yang merdeka, karena esensi akan berubah sesuai dengan konsep penggunaannya. Namun, perlu kita sadari bahwa segalanya akan bermuara kepada kefanaan. Sehingga masa yang sementara mestinya bisa mendorong akal pikiran untuk melihat sesuatu tidak dari eksistensinya, tetapi esensinya. Dalam proses penyadaran inilah kita akan lebih jembar wawasan juga pengertian.

Eksistensi hiburan dari setiap orang tentunya berbeda-beda. Mungkin bagi pemuda itu kopi dan game sudah cukup menghibur, bagaimana dengan kamu? Pasti akan berbeda. Ada yang merasa jalan-jalan di mall juga hiburan. Ada yang bilang nonton film juga hiburan. Namun, pada hakikatnya hiburan bisa diartikan sebagai sesuatu yang membuat kita bahagia.

Terkadang kita tergesa-gesa menyimpulkan dari eksistensi yang terlihat. Tanpa tahu benar apa esensi yang terkandung di dalamnya. Lihat saja pencuri kelas teri bisa babak belur dan kehilangan nyawa. Sedang yang kelas kakap bisa santai dan diproses secara manusiawi. Bagaimana bisa seorang koruptor diperlakukan beda dengan pencuri motor? Padahal hukum semestinya berlaku sama tanpa memandang strata. Celakanya, hal ini masih terjadi sampai saat ini.

Seperti memilih mencari hiburan di prostitusi, sama-sama membahagiakan, tetapi tidak harus seberdosa itu juga ‘kan?    

Mungkin eksistensi Tuhan juga belum benar-benar kita sadari penuh. Sehingga esensi ketuhanan kita hanyalah fiktif belaka. Bagaimana tidak? Keterkaitan hukum agama yang tidak langsung dipidana, bisa kita langgar sedemikian rupa. Lalu dengan serta-merta kita masih merasa Tuhan itu ada? Sungguh eksistensi yang saling bertolak belakang. Kalau game dan kopi masih bisa menyatu dalam hiburan di pemuda itu. Apakah iya kita tidak malu, menyatukan eksistensi Tuhan dalam ketidaktaatan? Meski hal itu tidak berpengaruh sama sekali untuk-Nya.

Pemuda itu sudah menyelesaikan hiburannya dan bergegas kembali ke dalam toko. Entah, apakah ia hanya mau bekerja atau memang bekerja, tetapi eksistensi kerja menyatu padanya. Seandainya esensi hiburan itu masuk dalam eksistensi kerja. Mungkin apa yang sedang ia lakukan bisa melahirkan kebahagiaan. Apalagi kalau eksitensi ketuhanan yang menjadi esensinya. Wow.

Ini juga hanya khayalan malam belaka. Bila ada kesalahan tafsir, mungkin itulah esensi proses berpikir. Sebagaimana menafsirkan eksistensi pemuda itu, bisa juga salah bisa juga benar. Namun, yang tidak kalah penting adalah apa esensi hidup ini ? Kalau kesulitan, mungkin apa esensi pacaran, menurutmu? Jangan-jangan cuma jadi hiburan saja, ‘kan sedih.