“Ayo naik gunung bersamaku” ucapku ketika kamu memuji keindahan alam yang ditampakkan oleh gunung di galeri ponselku.

“Aku tidak sekuat kamu mendaki gunung. Capek,” ucapmu yang masih sibuk melihat foto-foto itu.

“Terus?”

“Aku maunya naik pelaminan bersama kamu,” ucapmu yang entah ini serius atau hanya guyonan saja.

Aku berhenti mengetik. “Jika Tuhanmu merestui dan Tuhanku mengizinkan, kita pasti bisa naik pelaminan. Tapi jika tidak, kita masih bisa mencuri waktu untuk saling bertemu. Duduk bersama, bercerita tentang kopi, puisi, nasi kucing dan sate ususnya, dan semua yang ada dalam pikiran kita.”

Kini kamu yang terdiam. Mungkin dalam pikiranmu, kamu sedang menyimpulkan apa yang baru saja aku katakan.

Aku dan kamu sebenarnya sedang sama-sama menyimpulkan apa yang sedang terjadi di antara kita. Tapi aku lebih baik menikmati suasana dan kebersamaan kita yang seperti ini meski kita hanya berteman.

Dalam kebisuan kita yang sedang berada dalam puncak pikiran kita masing-masing, seorang pelayan membuyarkannya dengan membawa pesanan kita berdua.

“Eh, berdoa dulu sebelum makan, tuh!” ucapmu menghentikan tanganku yang sudah siap menyendoki makananku.

Aku menuruti saja perintahmu dan melihat kau begitu khusuk berdoa sembari tanganmu bergerak seolah menyentuh dahi, dada kanan, kemudian dada kiri. “Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar” ucapku menyusul doamu.

Tanganku yang sudah siap menyerok nasi dari piringku kembali terhenti oleh suaramu. Apa ada yang salah pikirku.

“Aku sudah berdoa dalam hati tadi,” kataku.

“Bukan itu. Biar aku foto dulu,” ucapmu sambil nyengir dan siap dengan bidikan kamera ponselmu.

Lagi-lagi aku hanya bisa menuruti apa katamu. Aku sudah seperti sapi yang dicocok hidungnya.

Seketika ada hal yang terpancar dari wajahmu, begitu teduh aku melihatnya. Sekian lama aku berteman denganmu, baru kali ini aku merasakan itu. Apa mungkin pintu yang selama ini menutupnya kini terbuka oleh peristiwa tadi. Entahlah, yang kutahu kali ini aku sedang terpana memandangi wajahku. Rasanya, makanan itu enggan aku makan, biar terus kamu foto. Bahkan kini, wajahmu lebih enak ketimbang makanan yang ada di depanku.
***

Sialnya, aku masih saja terbayang wajahmu sampai ke rumah. Ada apa denganku. Sebenarnya ucapanku tadi hanya gurauan saja untuk menanggapi ucapanmu yang aku pun tak bisa menyimpulkan itu gurauan atau serius bagimu. Tapi apa yang aku ucap seolah mengoyak diriku sendiri. Seperti membuka semua dimensi perasaan yang begitu sulit kupahami. Dan seketika cinta itu sudah menduduki hatiku.

Aku pun bertanya dalam hati, bagaimana ini bisa terjadi, bagaimana bisa secepat ini. Setelah sekian tahun berteman denganmu, bahkan tadi sore aku belum mencintaimu, tiba-tiba sekarang aku jatuh cinta kepadamu.

Sialnya lagi, jatuh cinta ini tak membuatku lantas merasa kantuk. Hampir jam 2 sudah, mataku masih segar terjaga. Aku rasa, besok siang aku harus menemuimu untuk menenangkan apa yang sedang gundah dalam hatiku. Maka saat ini aku harus tidur. Kututupi wajah ini dengan menggunakan selimut berharap aku bisa cepat tidur.
***

Selepas bangun tidur, setelah aku mandi, aku langsung menghubungimu dengan niat menemuimu.

Assalamualaikum,” sapa seseorang di sana. Aku tahu itu bukan suaramu dan aku yakin aku tidak salah menekan namamu dari kontak di ponselku.

Waalaikumsalam,” jawabku. “Maaf ini …” ucapkan ragu.

“Ini ibunya Gendis,” sahutnya cepat.

“Oh, saya Kerta. Temannya Gendis. Maaf Bu, Gendisnya ada?” tanyaku, namun seketika aku dengar isak tangis dari balik sana. “Halo, Bu?” lanjutku hati-hati dengan rasa penasaran yang sudah hinggap di hatiku.

“Begini, nak Kerta. Gendis sedang koma,” ucapnya sembari ditimpal dengan tangisan kembali.

Aku terkejut, masih belum mampu menerjemahkan secara pasti. Sedang aku tahu, baru semalam aku bertemu denganmu dan semuanya baik-baik saja. “Maaf, maksudnya bagaimana ya, Bu?”

“Tadi malam Gendis mengalami kecelakaan dan sekarang sedang koma di Rumah Sakit.”

Ah, rasanya pernyataan itu membuatku merasa lemas. Aku hanya bisa diam membisu. Aku tak tahu harus berkata apa.

“Halo nak Kerta,” suara itu membuatku tersentak kembali.

“Iya, Bu. Gendis dirawat di Rumah Sakit mana, ya?”

“Rumah Sakit Harapan, nak.”

“Baik Bu. Terima kasih.”

Sungguh badanku masih terasa lemas. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Di balik itu, lagi-lagi timbul rasa takut yang sangat besar di hati. Rasa takut kehilanganmu.
Dengan sekuat tenaga dan perasaan yang campur aduk, aku langsung menuju Rumah Sakit.
***

Dengan jurus rayuan, akhirnya aku diberi waktu 5 menit untuk menemuimu. Masih dengan rasa kecamuk di hati, aku berjalan mendekatimu. Aku duduk di kursi yang berada di sebelah kanan ranjangmu. Aku pegang tanganmu yang tak memberi respons apa pun. Aku mulai berbicara padamu meski tak juga ada tanggapan darimu. Kamu masih pada diammu yang seperti itu.

“Aku tahu kamu bisa denger suaraku di sana, Dis. Tolong denger baik-baik. Mulai tadi malam, aku jatuh cinta kepadamu. Sungguh kini aku takut kehilanganmu, Dis. Kamu pasti ingat obrolan kita tadi malam. Aku nggak ingin mengajakmu naik gunung lagi, aku mau mengajakmu naik pelaminan saja. Aku sudah tak peduli dengan Tuhanku dan Tuhanmu, aku hanya ingin bersamamu. Tolong jangan tinggalin aku sendirian di sini, Dis. Aku sayang kamu.
Kamu ingat nggak waktu kita pertama kali bertemu. Waktu itu aku tanpa sengaja menendang tasmu hingga berserakan semua isinya, lalu kamu dengan wajah marah memaki-maki aku. Jujur dalam hati waktu itu aku berkata, amit-amit punya pacar kayak cewek ini, galak, judes. Hahaha. Tapi seiring waktu berjalan kita malah menjadi teman dekat, bahkan sekarang aku jatuh cinta padamu.
Ya, sudah. Aku nggak punya banyak waktu. Sekali lagi, aku sayang kamu, Dis. Aku mau hidup bersamamu. Pokoknya aku tunggu kamu. Cepat bangun ya.”

Aku beranjak dari kursi. Sebelum pergi, aku beranikan diri untuk melakukan hal yang belum pernah aku lakukan kepadamu, hal yang seharusnya aku lakukan saat kamu tidak seperti ini. Sebuah kecupan aku titipkan di keningmu.
***

Mulai kini, aku tak akan melupakanmu, kau akan tersimpan dalam hati untuk selamanya.
Tak kusangka, untuk kedua kalinya, aku melakukan hal itu lagi kepadamu, mengecupmu lagi dengan keadaan yang jauh berbeda saat di Rumah Sakit. Di batu nisanmu, aku titipkan kecupan terhangat untukmu.

6 KOMENTAR