Sumber gambar: honeycombers.com

Pagi, masih bersama rindu disini. Ia menatap sekeliling dan mencari keberadaan Temu. Ia tatap rindu yang tertidur disampingnya bersandar di bahunya sambil mendengkur pelan.

“Rindu, sudah pagi. Kau tidak ingin melihat matahari terbit?”

Pagi sadar Rindu tidak terbangun dengan tegurannya itu. Ia tidak menggeser sedikitpun tetapi terus berbicara.

“Rindu, bangunlah. Tidur melulu tidak akan bisa membuatmu berjumpa dengan Temu, ia hanya berada di dalam mimpi atau alam bawah sadarmu, sungguh menyedihkan bila kau tetap bertahan dengan itu.

Rindu terbangun dan langsung menatap kearah Pagi sambil mengucek matanya perlahan.

“Dimana Temu? Kau tahu hanya dengan tidur aku bisa melepas-nya, rasa rinduku. Melalui mimpi aku bisa bercengkrama dengannya, melalui alam bawah sadar aku bisa mengamati wajah indahnya.

Pagi tersenyum dan langsung mengajak Rindu keluar rumah untuk mengamati matahari yang sebentar lagi akan terbit.

“Mari kita nikmati proses matahari terbit ini jika kau ingin bertemu dengan Temu.”

Rindu terdiam dan menerima ajakan Pagi, ia tak berdaya untuk menolak Pagi karena jujur saja matahari yang begitu terbit akan indah.

Matahari terbit secara perlahan begitupun dengan Temu yang muncul secara perlahan diwaktu itu. Rindu terdiam melihatnya secara nyata, kali ini semuanya nyata. Temu yang mereka cari ada di hadapan mereka.

“Pagi, Temu sudah datang. Rasa Rinduku sirna begitu saja.” Rindu berkata dengan sangat senang.

“Begitulah hidup, untuk bertemu dengan sesuatu kau harus menunggu, tetapi untuk berpisah kau tidak harus perlu menunggu bahkan menginginkannya pun tidak.” Pagi benar pada hari itu, Rindu dan Temu bersatu lagi tanpa khawatir kehadirannya sirna begitu saja.