Dokumen pribadi

Meski sudah lewat saya harap tidak basi. Karena yang basi adalah yang hanya mengucapkan tanpa ada realisasi. Yaps, ucapan-ucapan selamat yang banyak berseliweran di dunia digital seperti hanya kata-kata hampa. Ya namanya juga ucapan, wajar-wajar saja sih.

Berbeda sekali dengan Sarekat Kine Semarang, tidak hanya sekadar ucapan selamat Hari Film Nasional. Tetapi juga mengajak para pencinta perfilman Semarang untuk nobar dan diskusi santai. Suasana yang intim membuat kami seolah dipertemukan kembali dari masa silam. Reunian orang-orang keren dalam perkawinan yang menghasilkan sebuah embrio baru.

Tatang, Dimec, Arga, Pendik yang tergabung dalam SKS (Sarekat Kine Semarang) juga sedang dalam project pengerjaan film dokumenter. Mereka juga lagi sibuk mempersiapkan berbagai acara pemutaran film di bulan Maret ini. Sumpah! Itu sangat keren dan luar biasa.

Dokumen pribadi

Bersama Arief CEO dari eskapisme.com pembicaraan semakin renyah. Mulai dari sejarah lahirnya tanggal Hari Film Nasional sampai pada film di era digital. Pembahasan yang menggugah gairah untuk bersama-sama berkiprah dan kembali menghidupkan film indie di Semarang.

Tidak lupa teman-teman UKM Sinematografi USM Canopus, Ragil dari Megapicxel.studio, Mas Wardiman kamerawan handal Semarang, Serta teman-teman lainnya yang ikut serta menyukseskan acara. Semakin memberikan varian sudut pandang dan menambah pengetahuan di industri perfilman.

Diskusi itu membuat pikiran ini menelisik jauh ke belakang. Melihat kembali lembaran-lembaran perjalanan film di Indonesia. Bioskop dan film merupakan ikatan yang setia. Film harus tetap diproduksi agar bioskop tidak sepi.

Menengok Semarang di tahun 1936 terdapat 4 bioskop yaitu City Theater (Liem Koen Hwan), Djagalan Bioscoop (A. E. Lazare), Oost Java Bioscoop (W. Appel), dan Royal Theater (Liem
Khoen Goan). Ini membuktikan bahwa bioskop masih menjadi kegandrungan dari dulu sampai sekarang. Meskipun era digital memberi tawaran film dalam genggaman. Film tidak akan bisa dipisahkan dari bioskop.

Film indie tentu tidak mudah bahkan sangat kecil kemungkinan bisa masuk ke dalam layar lebar. Tetapi hal ini tidak jadi soal, jika kita mampu membuat ekositem baru– meningkatkan lagi kualitas dan kuantitas. Jika filmnya berkualitas dan jumlahnya banyak, tentu tidak menutup kemungkinan adanya pemutaran film indie secara kontinu di bioskop-bioskop alternatif.

Kalau bioskop alternatif bisa terorganisasi dengan baik tentunya akan ada regulasi produksi yang sehat. Minimal ada modal awal yang bisa digunakan untuk memproduksi film lagi. Karena tidak bisa dipungkiri namanya produksi itu butuh biaya.

Memang tidak semudah saat kita berucap tapi buktinya sampai detik ini kita sudah berani mengambil sikap. Tantangan memang dilahirkan bagi orang-orang hebat. Karena lamanya waktu tidak akan menjamin bagi orang-orang yang tidak berbuat. Tetap semangat insan perfilman terlebih pegiat film indie Semarang. Salam pena yang tidak pernah berkhianat pada kata.

28 KOMENTAR

  1. Kak, banyak kata yang salah itu, kelebihan dan kekurangan.

    -tergabung
    -kontinyu
    -menutup

    Setahuku, pelbagai itu digunakan kalau ada ragamnya. Untuk yang hanya sebutan tanpa penjelasan, baiknya gunakan berbagai saja.

    Misal: Warung itu menjual pelbagai macam makanan manis; permen, kue kering, coklat, gulali dan masih banyak lagi.

    Ini nulisnya buru-buru pasti, nggak dicek ulang sebelum post. Atau isi kepala yang kembali penuh? butuh restart lagi.

    CMIIW

    Hayah, tadi mau baca aja, asal lewat ternyata malah ngoceh sepanjang ini. Yo wis lah, kalau bisa diedit tuh. πŸ˜„

    Apa cuma aku yang merasa judul enggak sinkron sama isi? πŸ€” Piss Kak, ✌️ seriusan aku lagi mikirin kolerasinya di mana. Ini apa aku yang lagi penuh isi kepala yak? πŸ˜₯🀣

  2. Ok, yang bener kontinu, Kak. Aku sampai buka kamus jam dini hari ini. Hahaha

    Tapi kan tulisan mencerminkan kondisi dan situasi penulis itu sendiri. Wis ah, nanti malah jadi debat. Kalau interpretasi yang kubaca salah, maafken. βœŒοΈπŸ™‚

  3. 😱😱😱 Wih, ramai! Aku bingung mau komen apa, Bang. Wkkwwk. 😝😝

    😭😭😭 Aku mewek nih, kok enggak ada cowok yang komen? Huaaaaa, menyebalkan sekali! Wkwkkw.

    Baiklah, aku sudah baca dan berharap yang terbaik saja deh buat perfilman Indonesia dan pegiat film indie Semarang.πŸ‘»πŸ‘»

    Bang, aku kasih PR, ya?

    1. Abang pelajari penggunaan kosakata “tetapi” dan “namun”. Nanti Abang mengerti. πŸ˜‰

    2. Ekosistem benar, theater yang Abang tulis juga benar (kalian dapat 50 poin masing-masing deh) πŸ˜‰

    3. Biasakan menggunakan kapital untuk nama tahun, bulan, dan hari, Bang. Ingat itu! *Cek paragraf 3 😈

    4. “pelbagai” tidak diikuti dengan tindakan
    “berbagai” diikuti. Jadi @Yukeneyza benar. 😑

    5. “memanglah” tidak perlu pakai partikel “lah”. Rancu itu, Bang.πŸ˜‘

    6. “Film Bukan tentang Seberapa Lama, tetapi Seberapa Kuat Kamu Menghadapi Tantangan”😦

    ** Biasakan menggunakan tanda koma (,) setelah kata “tetapi” dan “namun”. Aturannya bisa Abang pelajari. Itu aku kasih tugas di poin satu. Nanti Abang mengerti. πŸ˜•πŸ˜΅

    *** Bang, gambarnya gantilah. Merusak mata tuh. Apa pula yang mau dilihat dengan gambar enggak jelas kayak gitu. Cari di Pixabay, Bang. Kalau pakai gambar kayak gitu enggak bakalan lolos nih tulisan. Huh, Abang kayak enggak ngerti saja. Toh, kami pembaca juga enggak bisa lihat siapa yang eksis di foto itu. Lebih baik kami melihat gambar yang bagus asal sesuai dengan isi kontenmu, Bang. Gantilah, Bang. Please. Merusak mata nih. 😲😲😲