Gemeretak gigil berjibaku kenangan yang datang mendera. Kilatan petir bak sebuah film hitam putih menjejak pasti. “Tiada aku yang mendamba bila rupamu tak hadir mengoyak dinding ingatan, kekasih.”

Lalu sapuan angin membilur sendisendi tubuh mencerca diri kian ambigu. Mengapa selalu hujan yang menikam lalu dan dejavu biru menyeruak bisu?

“Percuma mengikrar kata mampu, Sayang. Bila kenyataannya kau bersimpuh di bawah guyuran itu.”

Memejam mata merela pingitan sketsa masa lalu berpesta pora seolah mencemooh. Biar luruh derai pada kelopak bening. Biar tak menyesak dada menahan isak kian mendendang

“Jangan memaksa terlupa, Sayang. Bila kenyataannya dia masih pongah bertahta pada sisi romansa pikirmu.”

Sudah, sudah kulindu rindu yang merapal pilu. Kujenuh melawan maunya hati, melupa hujan untuk malam berkabut sendu.

Celebes, 310119