Pixabay.com/tookapic

Kaki-kaki giras menelapak di trotoar jalan, langkah kencang melaju tanpa basa-basi. Entah, mengejar atau dikejar. Mereka serasa yakin dan punya tujuan pasti. Di trotoar itu juga terlihat pohon asam yang sedang muram. Padahal pagi lagi indah-indahnya dengan sisa basah air hujan. Suhu sejuk, matahari yang malu-malu, juga lukisan mega yang pudar-pudar syahdu.

Pagi dengan tanya yang terlalu dini. Tawa dan beberapa rencana para pengguna. Sisanya beberapa orang yang terdiam dari lintasan. Begitu juga seekor burung kutilang hinggap di rerantingan. Kicaunya merdu dan meredam murung yang membumbung.

“Apa yang kamu pikirkan, Sam?” tanya Kutilang.

“Apa aku terlihat sedang mikir, Lang?” jawabnya.

Sembari loncat dari ranting satu ke ranting yang lain “Mengapa kamu terlihat murung?”  balasnya penasaran.

Dengan senyum lelah sembari mengangkat bahunya, “hanya soal jenuh,” lanjutnya, “bukan menjadi soal ‘kan?”

“Soalnya, aku melihatmu.”

“Lantas? itu menjadi permasalahan?” tungkas Pohon Asam.

Kutilang kembali berkicau dengan suara terbaiknya, berharap pohon asam menyadari bahwa tidak ada niat buruk sekali pun. Ia begitu perduli, terlebih pohon adalah tempatnya tinggal dan berlindung. Dalam panasnya kota, pohon rindang menjadi tempat berteduh yang adem.

“Apa aku salah bertanya atau waktu yang tidak tepat? Maafkan aku, Sam. Barangkali aku banyak merepotkanmu, tidak ada padaku sesuatu yang berguna untukmu.”

“Tidak, Lang. Lihatlah dirimu, berapa tahun kamu bisa hidup sedang aku berapa ratus tahun berdiri di sini?”

Matahari mulai naik setengah hati dan mega berarak menepi, mendadak cakrawala terbuka biru. Burung kutilang membalikkan tanya padanya, “matahari itu berapa ribu tahun bersinar, Sam? Apa dia juga merasa bosan?”

“Hemm, kamu meledekku?”

“Tidak, Sam. Jelas tidak. Aku sendiri mungkin akan merasakan hal yang sama bila menjadi kamu, bahkan tidak lebih baik. Hanya ayolah, kita nikmati saja apa yang telah terjadi. Kalau tidak mau jadi pohon asam, kamu mau jadi apa?”

Pohon asam terdiam dalam perenungan, ada yang lain di balik itu semua. Hati yang tidak sampai, perasaan yang tertahan dan sesaknya keadaan.

Mereka pun terpenjara dalam bisu. Hingga sekian waktu jalanan mulai kering dan padat kendaraan. Asap dan suara bising memekik telinga. Belum lagi kemacetan oleh lubang-lubang jalan, semakin merusak suasana. Tiba-tiba tetes air mata pohon asam terjatuh bersama sisa air hujan yang menguap.

“Mungkin ini waktu yang tidak tepat atau salah yang harus terucap.  Manusia-manusia itu terlalu arogan, Lang. Beberapa hari lalu aku mendengar akan ada perbaikan jalan. Aku sudah kebal dengan asap-asap hitam pembakaran aspal. Aku juga sudah biasa dengan bising dan kotornya kota.”

“Lalu apa yang menjadi soal, Sam?”

Dalam sedikit isak dan deru suara yang semakin semrawut, tembok pertahanan rasa tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang sebenar-benarnya ada. Ia tidak mampu menahan loncatan gejolak yang merundungnya.

“Soalnya kita harus berpisah. Besok tidak hanya perbaikan jalan, tetapi juga pelebaran. Mereka akan menebangku. Aku tidak lagi bisa menjadi tempat singgahmu. Jujur, bukan kebosanan yang membuatku sakit … “

Burung kutilang tertegun dan berlahan mendekat ke depan paras pohon asam. Di usapnya air mata itu sembari berkaca-kaca. Mereka menyatu dengan kesedihan. Bertemu dalam titik perpisahan. Kutilang terpaku sedih tanpa tahu harus berbuat apa lagi.

“… tetapi aku belum siap untuk menerima semua ini, Lang.”

Burung kutilang tersentak dan beranjak pergi tanpa sepatah kata. Tidak juga kicau-kicau perpisahan ataupun pelipur lara. Kebas-kebas sayap yang penuh amarah melaju tanpa tahu arah. Membumbung tinggi dan hilang tertutup jarak yang semakin jauh. Hanya tanya dan tanda tanya itu yang tertinggal. Sedang saat ini kita tidak pernah menanyakan perasaannya? Ikhlaskah mereka ditebang, tuluskah mereka untuk kita makan?

5 KOMENTAR