sumber: pixabay.com/StockSnap

/1/

Jalanan Temanggung – Secang
Hari hujan
Aku menguap
Bus melaju kencang
Serupa pembalap melintasi sirkuit

Berguncang hebat
Tak peduli lubang jalanan sebesar danau yang terkuras
Menerabas genangan hujan yang mengendap
Menciptakan tsunami kecil bagi kendaraan sekitar

Bus bagai raja jalanan
Melayang
Menerbangkan aku, sopir, dan para penumpang

Tak peduli reot
Tak peduli karatan

Kursi tak lagi robek yang busanya keluar-keluar
Berganti kursi eksklusif
Tebal, empuk, tak lupa seatbelt yang terpasang otomatis
Pun helm tercanggih dari masa depan menempel di kepala

Bus meninggi
Sayur mayur menjelma senjata penyelamat
Ayam berisik menjelma pasukan tentara kuat

“Selamat datang di masa depan, kami ada misi bagimu.”
Si empu suara adalah perpaduan mesin canggih dan manusia gagah 
Berpakaian aneh, menghampiriku
“Kau kuberi misi,” bisiknya

Aku membuka mata
Bus berhenti
Kenek berteriak, “Terminal, terminal!”

/2/

Perjalanan Secang – Ambarawa
Jendela masih basah oleh titik-titik tangisan alam
Melewati pepohonan dan hutan-hutan
Mengembun, menciptakan hawa syahdu untuk terlelap

Aku menguap
“Kau punya misi.”

Bus kami melesat di atas hutan
Hei, kami di antara awan-awan
Meninggalkan truk-truk raksasa pengangkut pasir dan bebatuan
Meninggalkan motor-motor dan mobil-mobil mini

Kaca helm canggih bak kacamata penembus apa saja
Kusaksikan gerombolan orang
Menebang habis pinus-pinus yang tak bersalah
Bukan untuk kepentingan bersama

Tentara ayam maju di barisan terdepan
Menembaki para penebang ilegal

Rasakan!
Senjata sayuran, tomat, dan telur melesat
Melumpuhkan siapa saja yang bersalah

Bus kembali ke atas jalan
Menyaksikan siapapun yang butuh pertolongan
Manusia tua renta tampak tertatih menuntun sepeda motor putih

Rupanya bahan bakar habis
Kami melesat menolong
Memberi dedak makanan ayam
Bahan bakar mutakhir ramah lingkungan

Semua selamat
Alam selamat

Benda kotak di brankas besiku berbunyi
Alat komunikasi dari masa depan
Kutekan tombol
Lalu kukatakan, “Lapor. Misi selesai.”

“Sampai mana, Nduk?”
Aku membuka mata
Busku kembali menjadi bus reot memabukkan
Berjalan perlahan

Tentara kembali menjadi ayam
Sayuran dan telur terduduk lemas
Dedak berdiam bau di dalam karung
Kubenahi kursi yang busanya hampir keluar

“Sampai Ambarawa, Bu.”

/3/

Di terminal Ambarawa
Bus menjelma menjadi panggung dengan karpet merah
Para penyanyi unjuk kebolehan
Suaranya mengalun merdu
Seiring ukulele yang menjelma piano raksasa
Penyanyi dengan jas mahal membuka suara,
“Aku tak mau kalau aku dimadu.”

Lihatlah. Aku berada dalam pesta
Seorang pelayan menghampiriku
Rapi dengan tuksedo dan dasi pita
“Wine … Koktail …”

Suara pelayan itu tak kunjung berhenti
Hei aku tak tuli
Suara itu terulang-ulang, terus dan terus …

“Air mineral … Tahu … Tahu … Kacang …”
Rupanya pedagang asongan

Sekian
Berakhirlah imajinasi dalam bus ekonomi

Perjalanan Temanggung – Semarang, 2 Februari 2019

16 KOMENTAR