Aku senyum padanya yang tengah memarkir motor, berawal dari obrolan iseng untuk ketemu, jadilah kami merealisasikan wacana. Kebetulan banget, dia sekarang kerja dan ngekos di kota kabupaten, lucunya aku baru tahu itu.

Aku dan dia saling menyapa, biasalah basa-basi ketika ketemu kawan lama. Kami berasal dari satu desa yang sama, udah kenal dan temenan sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, satu kelas terus sampai kelas delapan Sekolah Menengah Pertama. Kelas sembilan, kami terpisah sebab peserta didik jamanku dulu diklasifikasikan berdasar nilai rata-rata. Aku masuk sembilan A dan dia masuk sembilan C, kalau nggak salah ingat.

“Yuk, kamu udah tahu kabar kalau Ita bakal nikah sama Tio?” tanyanya tiba-tiba.

Aku berkerut kening, kaget.

“Oh ya, kok bisa? Wow … lucu ya, Ko?” Aku balik nanya sambil nahan ketawa.

“Lucu kenapa?”

“Ya, lucu aja. Bisa gitu nikah sama temen sekolah, jodoh emang nggak ke mana ya, Ko?”

Dia mengangguk. “Aku denger-denger, dulu Ita pernah pacaran juga sama Chandra pas SMA. Kamu pasti nggak tahu. Salah sendiri misah sih, nggak bareng kita-kita,” katanya kemudian.

Kabar itu lebih mengagetkan lagi, setelah sekian lama aku baru denger slentingan tentang mereka. Nggak habis pikir dan rasanya agak gimana. Ada yang tersisa dan tertinggal sampai sekarang, cerita usang masa lalu yang belum benar-benar tersimpan.

“Hayoo masih nggak asik ya sama Chandra?” ledeknya.

Aku menghela napas dalam sebelum menjawab, “Siapa yang nggak asik sih, Ko? Aku udah males ya ada urusan sama Chandra. Dia itu cowok loh, so kamu tahu sendiri insiden malu-maluin tiga tahun lalu di kafe waktu itu. Terus aku harus gimana, udah capek. Kalau Chandra maunya gitu, aku bisa apa, Ko? Udahlah, nggak usah bahas dia, makan hati.”

Dia ketawa. Sedang aku memilih lanjut makan. Mengusik masa lalu itu seringkali menyebalkan. Apalagi tentang perasaan dan hubungan yang nggak atau belum bisa diakhiri. Kuakhiri dia nggak mau, memperbaiki keadaan aku yang nggak mau. Wis-lah, sampai bulan berubah jadi matahari pun nggak bakal ketemu ujung penyelesaiannya.

“Iya juga, harusnya bisa baik-baik aja sekarang. Toh udah lebih sepuluh tahun, Yuk. Masih aja perang dingin.” Pernyataannya membenarkan kondisi yang ada.

“Hei, siapa yang mau perang dingin. Orang dianya aku baikin juga gitu, gila nggak sih? Di sini kesannya aku yang salah. Sedang cicak di sekolah aja tahu loh, siapa yang bikin runyam. Dia, Ko. Dia.”

Aku mulai kesel sama temen masa kecil yang duduk di depanku ini.

“Jangan ngambeklah, jelek tahu.”

“Enggak kok, lagian mau dia sama siapa aja ujungnya masih nggak move on.” Aku ketawa sendiri, sesekali over PD mungkin boleh. “Dan aku dapetin Adit yang lebih keren,” lanjutku menertawakan Chandra secara tersirat.

Ish, aku jadi inget Adit pula. Sepuluh tahun lebih nggak ketemu dia, sebab orangnya kerja di luar negeri. Adit sudah menikah dan bahagia dengan keluarga kecilnya. Meski kontak virtual masih terjalin dengan baik, tentu rindu itu nggak akan terobati kecuali berjumpa dan bertatap muka.

“Tapi banyak yang bilang, Chandra lebih ganteng dibanding Adit. Kata cewek-cewek di kelasku dulu.”

“Emang sih, Ko. Kalau dari fisik jelas cakepan Chandra, tapi cakep juga buat apa kalau bikin kesel. Sifatnya nggak banget deh, mending Adit, dia baik. Poin plus-nya, si Adit dulu lebih terkenal.”

Kubantah argumennya dengan pembelaan diri, meski dalam hati aku nggak bisa bohong. Rasa untuk Adit nggak pernah ada, dulu sampai sekarang. Sedang Chandra masih jadi sosok yang meluluh lantakan hati yang mendamba. Cowok yang memilih diam dan menganggap aku akan maklum dengan perilakunya.

Kadang aku heran, kenapa makhluk yang bernama laki-laki itu selalu ingin dimengerti. Sekalipun mereka tahu nggak akan ada keselarasan antara pemikiran cowok yang logis dan sifat cewek yang selalu terbawa perasaan.

Aku juga nggak mencari pembenaran atas sikapku yang memilih pergi. Misal cewek lain bisa memaafkan dan memulai kembali, tapi aku nggak bisa. Berapa banyak cerpen yang kutulis tentangnya, nyatanya masih nggak bisa mengurai apa yang sekian lama kusut. Nggak mampu mengubah ending kisah itu setelah tahun demi tahun terlewati.

Aku dan Chandra, tidak pernah berakhir karena kami tidak pernah sepakat memulai.

—–

Benakku dipaksa mengingat, bibir ini terbiasa menjawab obrolan serta pertanyaan yang sama setiap tahun. Mendekati ambal warsa antara aku dan Chandra yang hanya berselang dua hari, juga rencana temu kangen selepas lebaran yang selalu penuh drama. Kadang terbetik niat untuk tidak datang, but how is possible? I know I can’t.

Aku nggak datang, mereka yang akan berbondong ke rumah, menjajah ruang tamu orang tuaku dengan kelakar dan sampah berserakan, bisa sampai semalam suntuk nggak pulang.

Kami selalu membicarakan apa yang terjadi di masa putih biru, nggak akan ada surutnya menertawakan kekonyolan kami di kala itu. Saat-saat terindah yang mempertemukan kami dalam ikatan persaudaraan yang begitu erat. Meski sekarang, jarak ruang dan waktu sekian lama memisahkan. Akan selalu datang ucapan sayang dan ungkapan kangen yang menggebu ketika bertemu.

Mungkin yang nggak terbiasa dan belum tahu, akan menganggap aneh suapan antara satu dengan yang lain, berbagi makanan dan minuman tanpa canggung. Bahkan, kami nggak keberatan berbagi dari alat makan yang sama.

“Yuk, tukeran minum ya. Jus jambu punyamu lebih enak, nggak terlalu manis,” pintanya.

Aku tertawa kecil. Percuma juga minta izin, gelasku sudah diambil alih olehnya.

“Boleh, coz we are—“

“We are brothers and sisters, kita satu, saudara, selamanya.” Dia menegaskan kalimatku yang terpotong.

Sayangnya Chandra menolak jadi anggota keluarga. Andai dia mau menghargai keputusanku. Pasti kini, semua akan baik-baik saja. Apa harapan baik itu akan jadi angan belaka? entahlah tiada yang mampu menjawab selain, waktu.

—–

I miss you all
Yuke aka T-REX
Cutest young sister, the one and only.

—–
28 April 2019
It’s Milk
Blora

10 KOMENTAR

  1. Ish, bukannya peremouan yang selalu ingin dimengerti. Mentoknya, lelaki suka enggak ngeh. Sukit untuk mengerti. Wkkwkwkk😎👻😝.

    Bagaimana kabar Chandra sekarang? Masih adakah getar-getar cinta di anata kalian? Huuuuaaaaa, enggak ikutan ah.🚶😉