Pixabay.com/Nikiko

Untuk pertama kalinya membuat syair, kuhaturkan maaf pada siapapun yang membacanya nanti. Maafkanlah aku yang sudah mencoba untuk pertama kali ini. Jika bukan sekarang, kapan? Ia kan? (Edisi ngeles)

Maafkanlah jika ini belum dapat dikatakan sebagai syair, sebab ini hanyalah sebuah kelinci percoabaan. Yah, bagaimanapun, tetap saja harapanku ini sudah layak disebut sebagai syair.

Syair tentang wanita yang ditinggal tanpa kata oleh seorang lelaki yang merasa tak berdosa. Sekuat tenaga meyakinkan, namun ketika sudah yakin ditinggalkan. Jahat? Akh, tolak ukur jahat atau tidak setiap kita berbeda kan? maka nilai sendiri dan petiklah apapun yang baik dari syair ini.  Jika ada. Hehehe

Kuberi judul dengan “Syair Pilu”

 

Syair Pilu

Bulan berganti bulan

Jaman semakin edian

Dan kita semakin disibukkan pada kebiasaan-kebiasaan yang membuat kita semakin heran

Heran, mengapa ia menjadi sebuah kebiasaan

 

Tahun mulai berubah

Entah tahunnya yang berubah, atau kitanya yang berubah

Menanti datangnya pergantian waktu yang absah

Sembari menanti waktu yang semoga berkah

 

namanya manusia, hendaknya lupa

inginnya berkelana

sukanya tak tahu kemana

kemudian mencaci tanpa dosa

 

Sampai pada akhirnya semua berubah

Dari hatimu yang awalnya kuat menjadi rapuh

Dari pikiranmu yang awalnya jernih menjadi keruh

Dari kata-katamu yang awalnya tertata menjadi tak terarah

 

Sampai kau tersadar, Sudah menuju Ramadhan saja

Sikapmu belum juga sama seperti sedia kala

Masih dingin, dan membelu layaknya srigala

Tega nian kau buat itu kepada saya

 

Iya, Saya

Bukankah kita sudah tak pernah lagi menjadi kita?

Ia munsah dengan sikap yang tak tertararah

Kau. Iya, Kaulah pengebab utamanya

 

Dahulu, kau mengemis cinta

Merayu dengan dusta

Meyakinkan dengan nestapa

Kemudian pergi tanpa kata

 

Hey kau, bukankah pernah kau berkata, “Demi pulang dengan damai bersamamu”? dengan lantang?

Kini, kemanakah kalimat itu kau buang dengan laju?

Sudahkah ada bidadari lebih langsing ketimbang aku yang segentong ini mengisi hatimu?

Jika iya. Akh, murah sekali harga kepribadian di hatimu yang sedang perang itu

 

Belum lagi sempat kita usai berperang, sudah kau katakan ungkapan pulang

Namun, begitulah kau. Kau yang mengajak berperang, kau pulang yang terbang dibawa tepung

Lembut, tapi mengepung

Putih, tapi tak terkepung

 

Lupakah kau pada caramu meyakinkanku, hingga dengan mudah kau pergi seolah tanpa dosa

Diperingatkan “Ini soal hati, jangan bermain-main. Tak elok rasanya untuk usia dewasa macam kita”

Namun, nyatanya kau sayat-sayat beribu luka

Ia dari bibirmu hampa, hanya sebuah dusta ternyata

 

Kini, Sudahkah kau tenang usai meninggalkan aku yang tercabik-cabik hatinya?

Kini, adakah rasa bersalah hinggap menghantui hatimu yang entah seperti apa rupanya?

Sudahkah? Atau ia terus diliputi rasa bersalah yang panjang tak terhingga?

Jika ia, maafkan, itu bukan doaku pada Tuhan, melainkan doa-doa orang yang mencintaiku begitu dalamnya.

 

Jika kau menyesal, tak perlu merengek meminta maaf pada korbanmu ini

Kau hanya perlu berbenah, siapa tahu kelak ada karma menanti

Kembalilah pada jalan lurus bernama hati

Iya, hati yang terus ditautkan pada pemilik hati.

 

 

Gimana gengs? Ah sudahlah. Terimakasih untuk yang sudah membaca. Semoga terinspirasi. Terinspirasi apanya? Hahaha, ya terinspirasi pada perjuanganku untuk mencoba membuat syair pertama kali. Yang penting mah niat dulukan?

Jangan lupa ikutan ya. Kalah menang biasa. Kalau kata orang-orang mah “Habiskan jatah gagalmu”. Kalau aku mah, udah keseringan gagal, jadi kebiasaan deh. Miris? Yah nggak miris-miris amat dah, yang penting happy.

Jangan lupa bahagia. Udah, itu aja.

 

13 KOMENTAR

  1. 😂😂😂 Ini sih bukan syair pilu. Sumpah, aku ngakak, Rindu. Syair kocak nih. Wkwkwkkw. Jangan bawa-bawa gentong pula ah. Duh, kamu benar-benar menghibur ih. 😱😱😱

    Salam buat Babang yang bikin kamu kayak gini. Aku punya stok dua Babang, mau? Gimana kalau Babang Al? 😉😉 *Kalau protes, ketahuan kamu stalking wkwkwk.

  2. Wah jadi inget dua bait yang terbengkalai dari entah kapan wkwkwkwk

    Menginspirasi sekali ini mah, kalau nggak dicoba mana tahu bisa atau enggak. Sip. Lanjutkan, setelah adem isi kepala mau buka work sendiri. 🤣🤣🤣🏃🏃🏃