Sumber gambar pixabay.com/stocksnap

Siang itu ada pelbagai jajanan pasar; cetot, grontol, getuk, awuk-awuk, di atas meja. Secangkir teh dan kopi semakin menghangatkan pembicaraan. Kami saling berseberangan dan bertentangan soal pemikiran modern. Kata mitos cukup menjadi senjata pembunuh massal atas pemikiran lampau. Sebut saja keterkaitan membawa gunting dan peniti saat perempuan sedang hamil dapat menangkal gangguan makhluk halus. Pasti pemikiran modern akan menolak dan menyebutnya mitos– tidak masuk akal.

Mengurai kata mitos tidak semudah makan getuk. Ketidakmampuan kita dalam memahami konsepsi akhirnya menjatuhkan ke dalam penghakiman. Ditambah kemalasan menerjemahkan pemikiran lampau, semakin membuat jarak dan memperparah sekat antara orang tua dan anak muda. Mungkin pikiran modern itulah yang bersemayam di otakku hingga sekarang.

Diskusi perbedaan pandangan yang sampai dibawa ke ranah keyakinan. Tentu hanya akan menjadikan debat kusir tanpa akhir. Orang tua memang lebih dulu ada, tetapi bukan berarti mereka serba benar.

“Tuhan itu mitos apa fakta, Nang?” Sesepuh desa ini berupaya menjebakku. Sebalnya, getuk yang kumakan tidak juga mampu memberi asupan nutrisi. Bukannya aku tidak bisa menjawab, tetapi pertanyaan ini hanya akan mejerumuskan pada hal yang prinsip.

Lha, ditanya kok malah diam.”

“Saya yakin itu fakta, Pak.”

“Bapak tidak bermaksud apa-apa. Hanya merasa kurang pas dengan caramu menghakimi dan menyalahkan tradisi masyarakat. Kamu belum paham tapi sok keminter. Kalau begitu ada berapa Tuhan di dunia ini, Nang?”

“Pastinya Tuhan saya sama dengan Tuhan Bapak.” Apa sih maksudnya orang tua ini? Bertele-tele tidak langsung pada poin persoalan.

Orang tua itu tersenyum sambil mengambil secangkir tehnya. “Ayo diminum,” ucapnya menawari. Aku pun menyesap secangkir kopi yang disuguhkan. Sembari memberi jeda pikiran yang mulai panas.

“Belum apa-apa kok sudah tersinggung. Begini lho, Nang. Kamu tidak tahu maksud dari dilah yang ditaruh di bawah orang mati dan gaman yang dibawa keluarga saat menghantar ke makam ‘kan?”

“Tidak tahu, Pak.”

Lha gitu kok sudah kementus. Orang dulu itu arif dan bijak. Tidak tergesa-gesa menghakimi seperti dirimu.”

Orang tidak butuh nasehat kok dinasehati. Kedatanganku hanya ingin masyarakat tidak mengultuskan sesuatu yang tidak masuk akal. Mitos kok diperlihara, lebih baik pelihara sapi. Sudah pasti jelas hasilnya.

“Langsung saja pada intinya, Pak. Saya bukan anak yang suka basa-basi,” pungkasku.

Yowes, kalau itu maumu. Dilah itu artinya wedi gusti allah. Tuhan kita sama ‘kan, Nang? Sedang gaman itu gowo iman. Mestinya ini dipahami sebagai doa dan pepeling. Bukannya malah dilihat sebagai kultus dan mitos.” Suaranya mulai meninggi dan tegas. Apa ada yang salah denganku? Orang tua memang selalu sensitif dan tidak mau mengerti keinginan anak muda.

“Lantas? Apa kaitannya, Pak.”

Lho! Kalau kamu mau mempermasalahkan itu, seharusnya kamu juga mempersoalkan pemakaian janur saat pernikahan. Kalau belum paham jangan sekali-kali menyalahkan. Semua itu ada tujuannya, tidak seperti kamu yang seenaknya sendiri.”

Aku tambah tidak paham apa yang dimaksud. Apa mungkin mereka terlalu takut untuk merubah paradigma. Dogma yang terus-menerus diturunkan ke anak cucu tanpa pertanggungjawaban.

“Tujuan saya jelas, Pak. Masyarakat terlalu mengultuskan sesuatu yang tidak masuk akal.”

“Menurutmu! Bukan menurut masyarakat. Buktinya mereka merasa masuk akal.”

Akal kuda apa kerbau yang dipakai. Hal seperti itu, bisa-bisanya masuk akal. Tiap tahun sedekah bumi berdo’a keberkahan dan kemakmuran, tetapi apa? Tidak ada perkembangan sedikit pun. Kemajuan yang digembar-gemborkan setiap calonan Kepala Desa hanyalah mitos belaka.

Kas, kalau kamu tidak bisa mewujudkan cita-citamu bukankah itu juga mitos. Hanya sebuah fiksi yang ada di otak tanpa ada realitanya. Kamu terlalu dangkal dalam berperilaku. Baru berapa bulan datang sudah bertingkah. Berapa kali harus diingatkan? Pelan dan pelan, semua itu butuh pendekatan. Ingat, Kas. Sangat tidak lucu, kalau parit itu kering sebab tidak ada air yang mengalir. HanyaΒ karena sikap kementus dan aroganmu.

12 KOMENTAR

  1. Ciee banyak typonyaπŸ˜πŸ˜πŸ˜€πŸ˜ nervouse kah nulisnya? Hehe. Terima kasih telah menyelesaikan tulisannya.

    Perbedaan mitos dan fakta. Memang iya, terkadang anak jaman now tidak ngefek dan main hakim sendiri dengan penilaiannya terhadap sesuatu.

    Tidak suka bertele-tele juga. Hihi

    Ini yang kta kakak memasukan konsep di dalamnya itu? Jadi tidak kelihatan ada curhatnya (kalo bahasa Brina) hihi

    Pertentangan antara pendapat anak muda dan anak tua (eh, mana ada) heheh. Ini cukup mewakili curahan yg kemarin tentang menulis diari ituπŸ˜…πŸ˜…

    Yeess!!! I LOVE it.