Harmoni nada indah adzan subuh membangunkanku. kubuka mataku perlahan-lahan, nampaklah kayu-kayu usuk dan genteng-genteng berbaris rapi, kupalingkan wajahku kekanan (tersenyum) masih tidur, ini adik ku, satriyo namanya dia baru berumur 5 tahun.

Hari sudah berganti ternyata namun aktivitas dan realitas ku masih sama saja. Aku harus bergegas sholat subuh untuk kemudian memasak buat sarapan kami berempat, untuk bapak, adikku satriyo, untukku sendiri dan mas dirga kakakku, dia seorang mahasiswa dan juga bekerja untuk membantu perekonomian kami, memang keadaan memaksa kami untuk demikian karena penghasilan bapak yang sebagai sopir angkot belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Hari ini hari spesial, aku akan memasak sambal goreng pepaya, masakan kesukaan ibu mengingat hari ini adalah hari ulang tahunya. Semoga kau melihat kami dari surga sana dan tersenyum ibu.

Bapak : lek bapak wingi di tembung pak harjo, kenopo kowe gak mlebu kerjo 2 dino?

Dirga : enten kegiatan kampus pak…

Bapak : oh.. la kok gak ijin sek mbe pak harjo?

Dirga : nggih pak mangke tak sanjang kali pak harjo

Bapak : sinau yo apik lek, mung yo hubungan tetep dijaga apik yo

Bapak : nduk, ojo lali yo tuku kembang ngko sore dewe nyekar neng ibu, podo iso kabeh to

Dari percakapan di ruang makan tadi kuperhatikan ada yang berbeda di raut wajah mas dirga, entah cemas, entah bingung aku tak tahu pasti, yang kutahu pasti ada yang sedang dia kerjakan secara diam-diam. dia terlihat begitu sibuk belakangan ini, sering pulang terlambat. Kemarin sewaktu dia menjemputku pulang sekolah, kami tidak langsung pulang tapi mampir dulu ke kampusnya, aku bertemu dengan beberapa temannya yang merupakan anak organisasi, begitu serius mereka membahas untuk pergerakan tolak aturan yang dibuat DPR.

Aku yakin sekali hal itu yang mengganggu pikirannya, pun dengan pikiranku yang melayang kemana-mana dan segudang pertanyaan tentang apa yang dilakukan mas dirga yang kami tak tahu.

Hari menunjukkan pukul 07:30 WIB saya dan mas dirga pamit untuk menuntut ilmu. Sesampainya disekolah aku masih khawatir ditambah lagi dengan pemberitaan di medsos tentang demo mahasiswa di berbagai daerah. Mereka menyampaikan aspirasinya, menggunakan haknya sebagai warga negara untuk ikut andil dalam proses demokrasi, mereka melihat ada yang janggal dengan peraturan itu, mereka mempertanyakan apa maksud dan tujuannya, mereka menunggu didengar oleh penyelenggara negara.

Dibeberapa daerah terjadi kerusuhan demonstrasi, mahasiswa yang berkumpul disemprot air oleh petugas, mahasiswa membalasnya dengan seruan semangat perubahan. diberitakan ada adu fisik antar petugas dan pendemo. Beberapa dilarikan kerumah sakit dengan beraneka luka. Luka fisik maupun luka batin.

Sepulang sekolah aku sudah mendapati bapak dirumah, dengan wajah kusemnya sambil rebahan di kursi kayu ruang tamu.

Bapak: loh ndok wes muleh to

Anak : sampun pak

Bapak : la mas mu ndi?

Anak : teksih teng kampus paling pak

Bapak : yowes enteni sedelok, seh jam sakmene juga

Kami sudah menunggu sekitar 2 jam namun mas dirga tak kunjung pulang, dihubungi juga tidak bisa. Tiba-tiba terdengar suara motor mendekat. Senang rasanya akhirnya mas dirga pulang juga, bapak yang sedari tadi menunggu pun bergegas memakai pecinya dan mengambil buku yasin, aku mengambil bunga yang tadi kubeli sewaktu pulang sekolah, kami langsung saja menuju keluar rumah, namun, setibanya kami di pintu rumah ternyata tidak ada mas dirga, yang ada hanya temannya.

Kami pun bingung kenapa mas dirga tidak pulang tapi malah temannya yang kesini. Kemudian bapak pun bertanya

Bapak: dirgane ndi?

Teman : emm… anu pak..

Bapak : anu opo?

Teman : dirga… niku…

Bapak : opo?

Teman : dirga teng rumah sakit

Bapak : loh lah nopo? dirga kenopo?

Teman : mau dirga nderek demo pak, terus agak rusuh demone

Bapak : ya Allaaah….

Bapak lemes hatiku tak karuan, kami tidak jadi nyekar kami langsung saja menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan mas dirga. Ternyata keadaan mas dirga kritis, entah apa yang sudah terjadi padanya, dan tak lama kemudian mas dirga menghembuskan nafas terakhirnya, mas dirga pergi ke tempat ibu dengan diiringi tangis tak bersuara bapak.

Kado sempurna dari mas dirga untuk ulang tahun ibu.

2 KOMENTAR