Sudah berbulan-bulan lamanya aku bertahan pada kepayahan. Sendiri. Berpura-pura kuat. Tanpa tumpuan. Tanpa teman, tanpa penopang.

Hingga tanpa sadar, diriku hancur pelan-pelan. Kesendirian seolah menjadi teman sejati yang tak pernah meninggalkan. Sendiri, mencerna kata-kata pedas orang lain di luar sana. Sendiri, tak bisa apa-apa ketika seseorang tega menyakiti. Sendiri, bingung harus ke mana ketika diri ini terombang-ambing di persimpangan. Sendirian, meringkuk bersama kekalutan.

Betapa susahnya mencoba berdiri tanpa bantuan. Betapa nyerinya otot-otot tubuh ini harus merangkak bangkit. Sementara hati sudah berkeping-keping tinggal menunggu waktu untuk hancur dan berhambur.

Hingga suatu hari Tuhan mengirimkan sebuah tangan. Awalnya aku ragu dengan tangan itu. Akan adakah yang setia menemaniku melebihi kesendirian?

Namun, raguku perlahan terhempas oleh percaya yang datang begitu saja. Aku menggenggam tangan lembut yang berkali-kali datang padaku itu. Tangan yang pelan-pelan menarikku untuk berdiri. Tangan itu pun tak segan menangkis siapa pun yang menyakiti. Tangan yang tak pernah lelah menopangku ketika lutut ini sudah lemas menahan beban perasaanku.

Tangan itu lama-lama membuatku ingin tahu milik siapa. Aku hanya tahu, tangan itu milik seorang perempuan yang tak pernah kutahu wajahnya. Tak pernah sedikit pun kutahu sosoknya.

Selain tangan lembut itu, hanya suara lembut yang selama ini membantuku merangkak. Tangan dan suara lembut yang saban hari bagai candu. Tanpa sadar melekat menjadi bagian hidupku. Sampai aku lupa, dulu aku sudah nyaris menjadi butiran.

Ah, Sundari namanya. Perempuan yang tak pernah kutahu parasnya. Aku hanya tahu lembut suaranya. Aku pun hanya tahu tangannya yang selalu memberi kenyamanan. Namun, kami seperti saudara kandung yang terpisah sejak lama. Kompak tanpa pura-pura.

Perempuan ini lalu tinggal bersamaku. Kami benar-benar saudara. Ia kakak, dan aku adalah adik. Meski tetap saja, aku tak tahu parasnya. Namun, asal keberadaannya selalu ada, aku merasa baik-baik saja.

Ia suka sekali kopi susu. Sementara aku tidak punya minuman khusus yang kusukai. Kami selalu minum bersama. Di pagi hari, aku minum teh, ia minum kopi susu. Siang hari, aku minum kopi, ia tetap kopi susu. Lalu di malam hari, aku minum susu, ia masih dengan kopi susunya. Tetap saja, kami minum bersama meski beda selera.

Sebelum tidur, ia yang menutup pintu kamarku. Sebab aku ini pelupa, sukanya tertidur tiba-tiba. Meski begitu, kadang ia marah. Kebiasaan buruk ini tak boleh kubiarkan lama-lama, katanya. Ia khawatir jika sesuatu memasuki ruanganku tanpa permisi dan membahayakanku. Ia selalu khawatir jika terjadi apa-apa padaku dan ia terlambat memberikan tangannya.

Ah, meski selalu bersama, aku merasa belum pernah berbuat apa-apa untuknya. Aku hanya bisa menjadi pendengar saat matanya menangis karena hatinya tersakiti. Aku hanya bisa mendengarkan kemarahannya ketika seseorang mengusiknya. Aku pun hanya bisa mendengar nyanyian merdunya ketika ia sedang senang bukan main.

Di situ aku tahu, ia pun manusia biasa sama sepertiku. Dan ini membuatku yakin bahwa ia benar-benar nyata. Bukan imajinasi. Bukan pula hasil pikiranku yang melantur karena bosan dengan kesendirian. Diam-diam aku senang. Karena yang nyata, tak akan tiba-tiba hilang.

Apalagi jika ia sudah menjadi bagian dari diriku. Aku tak tahu apa jadinya jika perempuan itu betulan imajinasi pikiran ngawurku.

Hari terus berlalu. Aku bersamanya, menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Kami menjadi sosok yang baru yang siap menertawakan keterpurukan di hari lalu.

Tangan perempuan itu pun pelan-pelan melepasku pergi untuk mengepakkan sayap sendiri. Memandangku dari jauh. Tidak. Ia bukan meninggalkanku. Sebab, aku pun tahu bahwa ia turut mengepakkan sayap, meski berbeda arah.

Aku dan ia punya rumah untuk kapan pun kami kembali. Tempat singgah jika suatu hari lelah mengepakkan sayap. Tempat berteduh jika langit mendung tak kunjung berlalu.

Suatu hari, aku ingin pulang. Begitu pula dirinya. Namun, aku tak lagi mendapati rumah teduh kami. Rumah itu lenyap sendiri tanpa permisi.

Tentu saja, aku tak akan tahu lagi bagaimana bisa menggenggam tangan kakakku. Begitu juga dirinya. Aku yakin, ia pun kebingungan dengan rumah kita yang lenyap tanpa sisa.

Separuh bagianku kini melemah. Kucoba mencari rumah kami demi bertemu dengannya. Namun, sedikit pun tak kutemukan petunjuk. Tidak! Aku harus bagaimana lagi?

Jika rumah itu hilang, perempuan itu juga akan ikut hilang.

Aku … Kembali sendiri. Keterpurukan yang pernah kutertawakan bersamanya, kini berganti menertawakanku.

Bersama air mata, logikaku meneriakiku keras-keras, “Ia hanya imajinasi! Sadarlah!”

***

Aku terbangun dari tidur dengan badan lemas. Mataku membengkak, sisa mimpi semalam yang ternyata membuatku menangis betulan. Aneh sekali. Mengapa aku merindukan sosok imajinasiku sendiri?

Aku mencoba duduk, lalu mengambil gelas berisi minuman di nakas samping tempat tidurku.

Prang!

Gelas itu tak mampu kusangga oleh tanganku yang tak berdaya. Ini lebih aneh lagi. Separuh tubuhku lemah karena aku kehilangan imajinasiku. Hei. Sebegitu gilakah aku?

Tok tok tok!

Aku mendengar pintu kamarku diketuk seseorang. Aku ingin bergegas membukanya. Namun, baru saja mencoba berdiri, lututku lemas. Aku jatuh terduduk. Benar-benar tak berdaya oleh imaninasi otakku sendiri. Tolong! Aku pasti sudah betul-betul tidak waras.

Pintu itu lagi-lagi terketuk. Aku hanya menangis. Meratapi diri yang menyedihkan ini. Membiarkan seseorang di balik pintu itu jangan sampai melihatku begini.

Namun, kudengar gagang pintu tertekan pelan. Sebuah tangan menyembul. Bersama suara lembut. “Hei, ayo minum kopi. Kakak sudah menunggumu dari tadi!”

Napasku tercekat. Suara itu …

Bagai mendapat kekuatan tiba-tiba, aku langsung berlari dan menubruk sosok itu untuk memeluknya.

Terima kasih Tuhan. Ia … Bukanlah imajinasi.

***

Temanggung, 14 November 2019

Selamat ulang tahun kakakku yang bukan imajinasi. Maaf, aku tidak tahu alamat rumahmu. Jadi, tidak ada kado spesial yang akan membuatmu terkejut bahagia. Tak ada pula ucapan, karena aku ingin sesuatu yang tidak biasa. Namun, sepertinya cerpen yang kubuat di tanggal 13, tak bisa selesai tepat pada pukul 00.00 tanggal 14.

 

Dari adikmu yang payah

2 KOMENTAR