Sumber: pixabay.com

Aku berdiri di antara orang-orang asing di sekelilingku, kecuali dia, satu orang yang sangat kukenal. Senyumnya menjalarkan setitik rasa bahagia yang tak bisa terucap. Ketika apa yang kumau bisa aku dapatkan dan saat sebuah impian bisa jadi kenyataan, apa hal yang lebih indah dari semua itu? Jawabannya, mungkin tidak ada.

Tempat kami berada kini, ruangan yang tidak begitu luas, hanya berukuran sekitar sembilan kali sembilan meter. Tetapi tata letak dan desain interiornya cukup memuaskan, bagiku. Sederhana dan ya, aku menyukainya.

“Apa boleh aku mengajak beberapa temanku ke sini?” tanyaku padanya.

Alih-alih menjawab, dia hanya tersenyum padaku, sembari mengerling satu mata. Kami tertawa sesaat.

“Berarti boleh,” kataku berasumsi.

Aku meraih ponsel di dalam saku, hendak menghubungi seseorang yang kemarin bilang tengah ada di pulau Jawa.

“Hei, kamu ndak mau ketemu sama yang satu ini dulu,” tangannya menghentikan jariku yang tengah mengetik, aku menengadah dan mengikuti tatapan matanya mengarah pintu masuk, “aku yang mengundangnya,” katanya lagi.

Aku terpana sesaat, pandanganku terpaku pada siapa yang baru saja melewati ambang pintu. Tapi bagaimana mungkin, bagaimana mungkin dia mengundang padahal mereka belum kenal, menurutku belum saling kenal, meski aku pernah menceritakan salah satu ketika bersama satu yang lain.

Yang baru datang tersenyum padaku, melambai dan arah kakinya menghampiri kami. Dia menyalamiku dan tak ketinggalan dia yang ada di sampingku, kami bertiga berdiri, saling melempar senyum canggung.

“Aku tinggal dulu,” izin pergi, dia yang lebih dulu bersamaku.

Dia berlalu tanpa menunggu jawaban atau sebuah persetujuan. Lantas aku mempersilakan yang baru datang untuk duduk, dia mengambil kursi yang letaknya arah jam tiga dariku. Tak perlu aku jelaskan itu sebelah mana, kan?

“Apa ini mimpi?” tanyaku.

Dia mengedikkan bahu, “Sepertinya begitu.”

“Dan ini sangat sulit dipercaya, aku kira obrolan kemarin cuma omong kosong,” aku menyandarkan punggung. Masih penuh keraguan dengan apa yang terjadi saat ini.

“Sepertinya bukan.”

“Aku serius,” tukasku. Aku menegakkan badan kembali, lalu menyambar gelas yang berisi sisa jus alpukat.

Aku bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan aku doyan minum jus alpukat. Kenapa semuanya aneh dan semakin aneh.

“Dua rius malah. Bukankah cuma waktu yang menjadi kendala atas semua yang pernah menjadi rencana kita?” tanyanya sekaligus pernyataan akan kenyataan yang memang begitu adanya.

Aku menggumam.

“Kamu bahagia?” tanyanya tiba-tiba.

Reflek, aku menatap wajahnya, heran. Apa maksud pertanyaan itu, dan kenapa dia menanyakannya. Tapi, yang bertanya malah melihat ke arah lain, pandangannya tertuju ke dia yang tadi meninggalkan kami.

“Apa aku menunjukan sebuah ‘ketidakbahagiaan’?” aku membalik pertanyaan.

“Tidak,” dia menatapku sekarang, “tapi aku tetap ingin tahu jawabannya.”

Oh sorot mata itu sangat menuntut dan menjebak. Aku sudah terkena jebakan itu, satu kali dan berulang kali setelahnya, ketika aku tak dapat mengelak dan berbohong tentang apa yang tengah kusembunyikan. Dan gundah yang ini, belum ingin kuceritakan, belum … berarti menunggu waktu yang tepat.

“Aku bahagia, tentu,” jawabku.

Dia tersenyum, tapi aku tahu itu tidak tulus.

“Kapan kamu mau bicara, paling tidak mengakuinya, selain padaku?”

“Tentang?”

“Sesuatu yang mengganggu pikiranmu belakangan ini.”

Aku mencari-cari suaraku yang tertahan, tertahan karena ingin menyanggahnya. Bahwa masih ada, ada yang belum kukatakan pada siapapun, termasuk diriku sendiri. Ya … pada sisi lain logikaku saja, aku masih berusaha ingkar, tak mau mengalah dan mengakui, bahwa aku menyumbang separuh kesalahan atas apa yang terjadi sekarang. Meski tidak ada yang menyalahkanku, tapi aku merasa punya andil. Kalau aku tidak punya salah, mana mungkin kondisinya bisa jadi begini?

“Aku ….” Haruskah aku bilang padanya sekarang?

“Kamu tahu harus bilang apa, kan?” Dia terus mendesakku.

Aku tahu, tapi … seperti ada tangan kasat mata yang membekap mulutku. Pandangan mataku jadi tidak fokus dan memandang segala arah tanpa benar-benar melihatnya. Tiba-tiba keraguan menyergap, mengikis habis keberanianku bicara, padahal yang akan kubicarakan adalah tentang orang lain lagi. Bukan dia atau dia yang sekarang berdiri jauh di sana.
Apa … apa yang salah denganku, aku cuma perlu bilang jujur dan bertanya. Itu saja. Tetapi tidak semudah apa yang ada dalam pikiranku ….

Waktu bergulir dan kami masih saling membisu.

Aku terempas dari sana ketika dering ponsel mengejutkanku. Aku terjaga dan mendapati panggilan masuk yang seketika membuatku panik. Sontak aku bangun dan menelepon balik. Dengan napas yang masih belum stabil dan tangan berkeringat, aku menekan nomer ponselnya.

Kami saling membalas salam dan dia bilang, “Mumpung aku cuti, kapan kita ketemu dan aku pengen denger cerita lengkapnya.”

“Kapan aja boleh, tapi nggak janji aku bakal cerita.”

Yang ini sulit, dan mungkin akan bertahan dalam diam, terkubur selamanya di sana, palung terdalam. Aku menyerah, ketika sebuah kejujuran itu tidak lagi dinilai jujur, dan ucapan sebenarnya dianggap langkah denial, manipulatif.

Mungkin lebih baik membisu, dan biarkan dunia berkata semau mereka.

Di bawah langit
06 Agustus 2019