Sumber gambar pixabay.com/spiritbunny

Kadang hidup itu adalah bualan dan fatamorgana. Hal yang tak hakiki kita anggap sebagai keabadian. Merasa semua ini akan kekal dan selamanya. Padahal umur hanyalah segetas peputaran waktu. Seperti cerita yang saling bergabung dan berseteru. Perawalan tanpa tahu kapan, dimana, ngapain berakhirnya.

Namun semua itu juga bukan perkara mudah. Nikmat yang terasa seakan menjadi kebutuhan tanpa bisa ditunda. Lihat saja pakaian yang kita kenakan. Tentu ada nilai gengsi dan kenyamanan. Ada hal yang pantes dan indah. Pakaian telah berubah makna dan fungsi bagi sebagian orang. Mempunyai arti yang berbeda-beda dari tiap individu.

Makanan juga berubah dari fungsi aslinya. Asupan nutrisi untuk tubuh telah beralih menjadi media trending. Anggap saja kalau belum makan di tempat baru, makanan yang lagi hits. Kamu belum masuk dunia kekinian. Dunia baru yang meretas asal muasal menjadi trobosan jitu. Menggiring rasa penasaran untuk mencoba dan mencicipi. Tapi semua itu juga kembali pada diri kita masing-masing.

True story tentang pakaian zaman penjajahan telah hilang dari renungan. Karung goni tidak mampu lagi bercerita tentang keprihatinan. Diam dan dibungkam oleh gemerlapnya model dari yang jadul sampai yang populer. Kita lupa darah bercucuran dan mayat-mayat tergeletak oleh penindasan. Mengenakan seadanya untuk menutup kemaluan. Ada goni saja sudah syukur dan berterima kasih.

Harusnya mereka merasakan makanan yang enak dan lezat. Bukan nasi tiwul, gaplek, bonggol pisang, dan lain sebagainya. Makan makanan yang layak gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Andai mereka masih hidup mungkin juga sudah tua dan tak mampu lagi merasakan enaknya makanan zaman sekarang. Belum lagi kalau sudah pikun. Tentu keluarga akan merasa risi dan terbebani. Duh! Malang sekali wahai kamu yang dulu pernah merasakan perang kemerdekaan.

Sungguh miris rasanya! Melihat paradigma baru yang telah melunturkan makna. Menipu mata dan juga hati. Kita hilang mengilhami dan terjebak pada hiasan duniawi. Kita di kejar kebutuhan yang kita ciptakan sendiri. Kita dijajah oleh pikiran dan kekawatiran. Tanpa melihat zaman masa perang antara hidup dan mati. Antara bertahan dalam kesengsaraan atau melawan meskipun nyawa harus melayang.

Barang kali kalau kita bisa hadir dan ikut merasakan. Es krim manis ini hanyalah keringat dan jeritan mereka. Kita makan tanpa rasa terimakasih. Paling tidak berdoa dan mendoakan orang yang telah menghadirkan. Tanpa terkecuali mereka yang sudah dulu bertemu dengan ajal.

Barang kali kalau kita bisa sedikit berpikir dan merenung. Baju indah dan keren ini. Hanyalah kepedihan dan penderitaan mereka. Kita pakai tanpa rasa terimakasih. Setidaknya berniat dan berdoa untuk mereka semua. Jangan sampai kita melupakan pengorbanan itu. Meski sedikit pun kita tidak pernah ikut andil secara langsung.

 

8 KOMENTAR