Sumber gambar pixabay.com/rawpixel

Sebulan sebelumnya dia bilang “aku pengin ke Semarang.” Aku kira hanya rindu bulan Purnama yang lambat laun akan hilang dengan bergantinya hari. Terlebih aku juga tidak mau terlalu berharap. Bisa-bisa kayak pemilu kemarin. Belum ada informasi resmi dari KPU, eh sudah mengklaim duluan sebagai pemenang. Lebih baik aku menunggu kepastian kapan dia datang ke Venesianya Pulau Jawa ini.

Asumsiku salah besar, dia benar-benar datang dengan seribu satu permintaan. “Aku mau makan babat gongso, ngopi, dan silaturahmi.” Wajarlah bagi yang sudah 9 tahun enyah dari Semarang, ingin bernostalgia mengenang kembali sekaligus mengukir kenangan baru. Diakui atau tidak, kerinduan adalah motivasi paling ampuh. Hingga seorang pemilik @slevinmagazine ini, rela jauh-jauh datang dari Bali. Kalau bukan karena rindu lalu apa? So, jangan sampai rindu kalian bertepuk sebelah tangan. Aku yakin Dilan pun tidak akan kuat.

Setelah selesai menikmati babat gongso dan ngopi, kami pun geser ke Ruang Musik Rahayu. Saat-saat inilah diskusi super serius dari @slevinmagazine, @ruangmusikrahayu, @sarekatkinesemarang, @penakatadotcom, dimulai. Terkait dengan film SOULCUMENTARY babat @tridhatu : Dimensional Journey yang masih dalam proses editing. Sumpah! Untuk hal ini tidak usah dibahas, kamu tidak akan kuat, biar kami saja. Tentang keterkaitan Bunyi, Reaksi, Mistis, Jiwa, dan Nyawiji. Aku bilang juga apa, lebih baik lihat hasil jadinya. Habis itu komentar seenaknya.

Kadang kala kita menutup mata dari proses lahirnya suatu karya. Sehingga karya tidak lagi menjadi buah pemikiran melainkan produk. Saya tidak berbicara tentang industri kreatif. Kata industri terlalu sadis untuk sebuah proses kreatif. Seolah kalau tidak laku di pasar berarti jelek dan karya yang laku di pasar berarti bagus. Apalagi film indie yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata. Pasar mana yang bisa menerima? Kalau tidak dengan menciptakan ekosistem baru lewat saling berkolaborasi.

Kolaborasi dapat melahirkan karya kolektif yang keren. Kesadaran untuk total mencurahkan pemikiran, demi terciptanya hasil yang semaksimal mungkin. Kolektifitas harusnya bisa melahirkan rasa saling memiliki. Tidak seperti industri yang terpaku pada untung dan rugi. Namun, mengajak kolaborasi tidak semudah itu. Banyak faktor kepentingan yang terkadang susah diakomodir. Manusiawi sih! Ada gula pasti ada semut. Tahukan artinya?

Terkadang kami heran melihat politik yang begitu mudahnya berkoalisi. Bahkan masyarakat ikut berkampanye dengan suka rela. Tidak sedikit yang fanatik sampai saling hujat. Berbanding terbalik, jangankan mau diajak kolaborasi. Share publikasi acara saja berasa ruginya setengah mati. Apakah kita harus pakai istilah koalisi? Agar banyak yang suka dan ikut tertarik bergabung. Apakah harus diembel-embeli agama? Biar kolaborasi itu bisa menggema ke dalam jiwa. Saya rasa tidak! Zaman perjuangan sudah lewat, saatnya bersenang-senang. Kasih saja uang ratusan juta niscaya dia akan rela jadi hamba sahaya.

Kami masih yakin bahwa proses tidak pernah menghianati hasil. Usaha dan doa tetap menjadi rumus andalan dalam kehidupan. Selebihnya terserah anda.

15 KOMENTAR