Beranda Karya Pena

Karya Pena

Meng-hambar

Sebentar lagi, senja menyatakan pamit, sudah waktunya ia kembali. Memadu kasih dengan kekasihnya yang entah siapa. Aku tak pernah berkenalan dengannya. Bahkan, untuk sekedar mengintip bagaimana bentuk hidungnya saja aku tak pernah. Semburat jingga di langit juga pamit pulang. Ia harus mengurus anaknya yang belum juga mandi, suaminya yang belum dibuatkan kopi tanpa gula. Pedagang kaki lima memilih berhenti juga. Mungkin...
Lama sebelum ini serta sebagai alasan untuk ia pergi ke Bandung, ada kisah yang terasa tidak biasa. Cintanya begitu kentara berbeda dengan rasa cinta sebelum-sebelumnya. Entah sudah berapa kali ia merasakan hubungan percintaan, tetapi sampai detik ini, kisah inilah yang membuatnya terasa di surga. Laki-laki yang ia cintai lebih dari apa pun dan siapa pun di jagat cakrawala ini....
Sejauh ini ia terpental dari putaran bus antarkota antarpropinsi sampai di barat pulau Jawa. Kota adem, ramai, macet, tapi manis-- semanis senyum-senyum pagi perawan SMA. Ya itulah yang ia rasakan untuk pertama kalinya naik bus sampai ke kota Kembang. Lebih jelasnya macet membuatnya terlambat satu jam, hujan yang dingin membuatnya lapar, ketepatan hari minggu yang sudah biasanya lebih ramai...
Pada langit yang mulai hitam dan ia terpental jauh dari lingkaran harapan. Wajahnya perlahan berubah muram. Entah apa yang sudah terjadi hingga membuatnya bertekad berjalan menuju sesuatu yang bertolak dari keinginan hati. Memulai dan sekaligus mengakhiri. Andai saja ada tempat yang dicampakkan Tuhan, mungkin kenangan itu akan ia pendam di sana. Sehingga tiada yang tahu dan membuatnya tidak dapat...
Gelas yang pecah berkeping-keping tak mungkin bisa dikembalikan seperti semula, seperti halnya yang buruk di dalam diri. Mungkin bisa untuk diperbaiki, namun akan ada bekas meski dalam bentuk kenangan masa lalu. Sekuat tenaga kamu mencoba mengubur semua masa lalu itu. Semua jejak tentang dirimu, kamu musnahkan. Tak luput juga dengan jejak digital yang dulu pernah begitu kamu puja sebagai wadah...
Sudah berbulan-bulan lamanya aku bertahan pada kepayahan. Sendiri. Berpura-pura kuat. Tanpa tumpuan. Tanpa teman, tanpa penopang. Hingga tanpa sadar, diriku hancur pelan-pelan. Kesendirian seolah menjadi teman sejati yang tak pernah meninggalkan. Sendiri, mencerna kata-kata pedas orang lain di luar sana. Sendiri, tak bisa apa-apa ketika seseorang tega menyakiti. Sendiri, bingung harus ke mana ketika diri ini terombang-ambing di persimpangan. Sendirian,...

Elegi buat CS

Demi tirus pipi juga dada dara padat terisi kau melawat ke Wonjin klinik alhasil dapatlah wajah cantik ramping tubuh dan sepasang kaki jenjang adalah bagian indah dalam mimpi para mojang senyum anggun dan rias wajah sempurna berpijar merona memanjakan mata pria darmakelana tapi sayang para perundung di internet menikam dan mencincang lewat kata berbayonet luka itu tak kasatmata dan kau pun malu untuk bercerita selanjutnya kau pun tersenyum anggun dengan leher berkalung juga kedua kaki...

Kado untuk Ibu

Harmoni nada indah adzan subuh membangunkanku. kubuka mataku perlahan-lahan, nampaklah kayu-kayu usuk dan genteng-genteng berbaris rapi, kupalingkan wajahku kekanan (tersenyum) masih tidur, ini adik ku, satriyo namanya dia baru berumur 5 tahun. Hari sudah berganti ternyata namun aktivitas dan realitas ku masih sama saja. Aku harus bergegas sholat subuh untuk kemudian memasak buat sarapan kami berempat, untuk bapak, adikku satriyo,...
Oleh swarna hati  Jangan salahkan gerimis yang terhenti dan tak menyisahkan kenangan lagi seperti lembayung jingga yang mulai memudar tenggelam tergantikan malam padamu yang ku puja maafkan bila hati terlalu menjalin asa yang tak berkesudahan dan tiada kau simpan meski seuntai benang pada waktu yang terus berputar, dimana ada arah yang patah dan menghilang aku bersembunyi diantara pohon-pohon kehidupan, menyembunyikan luka lalu yang tak pernah...

Sebuah Rasa

Sudah sebulan lebih meninggalkan kota Istimewa, seperti ada keping-keping yang tertinggal di sana. Benar kabar burung di segala penjuru, "Kota dengan kenangan di setiap sudutnya." Ah, bahkan untuk sekedar melupakan namanya sejenak aku belum mampu. Benar-benar banyak yang tertinggal di sana. Kenangan, kesenangan, duka, hingga perjuangan yang menjadi saksi. Aku masih meninggalkan orang-orang terkasih di sana. Entahlah, entah aku yang...

Tulisan Populer

Tulisan Terbaru