Novel

Sejauh ini ia terpental dari putaran bus antarkota antarpropinsi sampai di barat pulau Jawa. Kota adem, ramai, macet, tapi manis-- semanis senyum-senyum pagi perawan SMA. Ya itulah yang ia rasakan untuk pertama kalinya naik bus sampai ke kota Kembang. Lebih jelasnya macet membuatnya terlambat satu jam, hujan yang dingin membuatnya lapar, ketepatan hari minggu yang sudah biasanya lebih ramai...
Pada langit yang mulai hitam dan ia terpental jauh dari lingkaran harapan. Wajahnya perlahan berubah muram. Entah apa yang sudah terjadi hingga membuatnya bertekad berjalan menuju sesuatu yang bertolak dari keinginan hati. Memulai dan sekaligus mengakhiri. Andai saja ada tempat yang dicampakkan Tuhan, mungkin kenangan itu akan ia pendam di sana. Sehingga tiada yang tahu dan membuatnya tidak dapat...
Judul buku: Succubus Dreams Penulis: Richelle Mead Genre: Roman-Fantasi-Humor (21+) ISBN: 978-602-9267-15-0 Jumlah halaman: 416 halaman Hak cipta terjemahan Bahasa Indonesia Dastas Books Cetakan pertama: Oktober 2011 "Alasannya tidak penting. Yang penting dia melakukannya atas kehendaknya sendiri. Bukan hakmu untuk mempertanyakan keputusan yang dibuatnya." ----- Buku ini berkisah tentang seorang Succubus wanita bernama Georgina Kincaid yang memiliki pacar manusia, Seth Mortensen. Georgina dan Seth saling mencintai dan membutakan diri...
Malam merangkak tua. Gelapnya semakin kelam. Taksi yang kami tumpangi membelah Kota Kembang. Jalanan menghadirkan keindahan kerlip lampu di tanah Pasundan. Kemana roda empat ini pergi membawa kami, aku tidak peduli. Aku sudah bahagia. Ike memberiku kesempatan duduk di sampingnya. Dia tidak meninggalkanku di pintu Kafe Paris Van Java. “Ke, bolehkah Mas Tian tahu arti kata syukur yang tadi kamu...
Cukup lama menunggu, napasku seringan kapas saat nampak mobil Tian berhenti di depan kafe. Benar saja, laki-laki yang membuatku gundah itu turun, langkahnya melewati ambang pintu. Aku berdiri untuk menyambutnya. Hendak memanggil, tapi Tian menuju meja lain di seberang. Bukan tempat kami sering menghabiskan waktu berdua. Tak berselang lama, seorang perempuan menghampiri Tian. Laki-laki yang kuperjuangkan berhambur memeluk perempuan itu. Bukan...
Sang surya tergelincir ke ufuk barat meninggalkan puncak teriknya yang silau menyiksa. Langit mulai mengukir lembayung senja. Ruangan lengang, satu persatu tamu telah pulang, termasuk kedua pemilik saham perusahaan. Tinggallah kami: aku, sang psikolog, Inneke dan Erwin serta orang-orang kepercayaan mama yang akan membereskan semuanya. Kulihat cerpenis itu nampak asyik ngobrol dengan redaktur muda di depannya. Entahlah, di satu sisi...
"Selamat ulang tahun, Pak Septian," ucapku seraya memberikan buket bunga. Tian yang tengah berbincang dengan seseorang beralih menatapku. Pria tua yang berdiri di sebelah Tian, lantas memberi isyarat untuk beranjak. Kulihat beliau menghampiri Pak Wongso. "Mbak Inneke, terima kasih sudah mau datang," ucap Tian. Kembali aku memperhatikan Tian. Laki-laki yang mencuri hatiku itu, mengambil alih buket bunga yang kubawa. Entah ini perasaanku...
Mentari beranjak naik menghangatkan bumi, tatkala kepulangan ke Kota Kembang selesai dipersiapkan. Aku sangat merindukan Naya, terlebih ponsel Lisa sulit dihubungi, sehingga aku tidak dapat ‘video call’ dengan si bidadari kecil. Setelah memintaku kembali ke hotel pasca liputan, pagi ini, Inneke mengirimkan sebuah alamat. Dia mengajakku sarapan bersama di sebuah restoran. Sepertinya, ia memberi kode supaya pertemuan dengan orang tuanya...

Mencuri bag.3

Pernah suatu ketika di masa kecil, aku bersama kedua temanku mencuri sebuah mainan dari penjual mainan keliling. Sabtu malam sebelum mencuri, kami bertiga menyusun sebuah rencana. Gaya kami dalam menyusun rencana seperti maling kelas kakap saja. Kami saling bagi tugas. Lagi-lagi, aku mendapat jatah mencuri mainan. Kodok dan Kancil bertugas untuk mengajak ngobrol penjual itu untuk mengalihkan pandangan. Minggu sore tiba,...
“Ayo, sini!” teriak seseorang kepadamu. Lagi dan lagi. Kamu seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Kembali lagi kamu menuruti teriakan itu untuk menuju ke sana. Di sebuah bangunan besar, di dalamnya terdapat meja panjang bersaf dua yang di atasnya tersaji berbagai hidangan. Dari asap yang berduyun-duyun hingga masuk ke lubang hidung, sudah bisa dipastikan hidangan itu begitu lezat. Warna-warni buahnya pun begitu...

Tulisan Populer

Tulisan Terbaru