Karya Pena

Gemah takbir terus berkumandang. Allahuakbar ... Allahuakbar... Sholat Id pagi tadi berjalan lancar di kampung nek Inem. Suasana terlihat sedikit mendung, namun tidak ada gerimis apalagi hujan. Teduh dan sejuk. Setelah sampai di rumah, nek Inem langsung berganti pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari. Ia berniat untuk menyibukkan diri daripada berkutik dengan kesepian yang sering tiba-tiba menghantam. Tidak ada kemeriahan apapun...
1/ Untuk apa diingat, tak perlu jua dikenang, bila hadirkuntak diinginkan pun tiada arti meski hanya bayangan. Semua telah hilang dalam kepedih an. Jalan lain masih membentang di depan penuh harapan 2/ Biar semua berlalu bagai hembusan angin senja tanpa larik kerinduan. Tiada tampias asa dalam jiwa. Aku sudahi drama hati yang menyilsa diri. Tak layak dibalut sutera pun disimpan...
Dua bulan lalu "Tahun ini Abang harus bisa membawa kamu dan kedua anak kita pulang kampung ke Pulau Jawa. InsyaAllah." _______ "Bang, tidak usa dipaksa jika masih belum memungkinkan," kataku berusaha memberi pengertian sambil menyantap nasi dengan menu ikan sambel siang ini di meja makan bersamanya. Seperti biasa masih sepiring berdua. "Dek, Abang tau ini akan berat buat kita. Tapi coba kamu pikirkan...
Aku sedang mengancing baju seragamku saat kutatap sisi sebelah kiriku Ruangan ini sunyi sekali Tidak seperti biasa Juga tidak ada seorangpun "Dimana mereka?" Aku berjalan pelan melewati ruang tengah Ini ruangan apa dan rumah siapa? "Aku harus pergi dari sini" batinku Tapi tak kutemukan pintu Seberkas cahaya tampak jauh di ujung sana Apakah itu pintunya? jika iya, maka aku harus segera keluar dari sini
  Malam yang begitu indah, akulah sang rembulan perawan yang kau rajah dengan rajamu. Lalu dari belahan dada, mengalirlah sederas puisi yang tercipta dari degup jantungku. Di sana ada sebuah seruan, kau kini adalah pemilik dari segala tubuhku yang tumbuh menjadi larik-larik puisi. Maka bacalah dengan kecupan-kecupan kecil hingga tuntas. Agar kau dapat mengerti, puisi ini adalah cintaku. -Dan-
BUKAN SEKADAR DARAH YANG MEMBUAT HASRAT. Oleh : Nur Alif Prasetyo Ada jerami yang menjual darah, Di balik raga yang ringkih di timpa angin. Ia punya rasa membelah angkasa, dan menghujam ke dasar samudra. Padahal sorotnya ringan dan sahaja. Bukan sesuatu yang buat lari Ingatlah Mereka penuh darah Mereka suka kamu Mereka akan menerkammu  
Bianglala berhenti berputar Suara riuh gaduh sekitar mengisi rongga telinga Ku alihkan pandangan Sedang mencari Ku edarkan pandangan lebih luas Masih mencari Ketakutan mulai menyelimuti "Dimana?" Aku hanya berdiri tanpa pergi Mulai menangis tersedu-sedu Sesuatu yg menakutkan itu persis disampingku -
Seorang laki-laki yang tidak begitu populer datang dalam pikiranku. Menjejal dengan banyak pertanyaan yang membuatku bebal. Selama hidup berapa kali kamu berpindah-pindah? Mungkin lebih mudahnya, dalam sehari berapa kali kamu berpindah? Jawaban yang paling mudah adalah banyak sekali. Lalu apa yang kamu dapat dari perpindahan itu? Tentu banyak juga. Sayangnya, tidak banyak yang bisa dipetik. Seolah semuanya berlalu begitu saja....
Sabun sebagai bahan pembersih yang sangat lekat dengan kehidupan kita. Sabun telah menjadi kebutuhan pokok seperti layaknya makanan yang kita konsumsi setiap hari, setiap waktu. Bagaimana tidak? Sabun digunakan ketika kita mandi, selesai makan, membersihkan pakaian, lantai, kendaraan, bahkan buah dan sayur yang akan kita masak. Kalau tidak ada sabun, kita bisa apa? Beberapa waktu lalu saya tertarik untuk mempelajari...
Bulan Ramadan katanya bulan penuh rezeki. Ya betul, karena rezeki bisa datang dalam bentuk apa saja. Jelas, belum tentu uang yang kuhasilkan dari hasil berdagang sehari-hari juga rezeki. Nyatanya, semakin banyak uang yang ingin kudapatkan, harus semakin keras pula usaha yang kulakukan. Kalau boleh memilih, sebagai janda aku tentu memilih bulan-bulan biasa, bukan bulan Ramadan. Alasannya, kalau bulan Ramadan, tenagaku bagai...

Tulisan Populer

Tulisan Terbaru