Beranda Karya Pena Halaman 37

Karya Pena

Perkenalan

Aku tersenyum setelah membaca balasan pesan darinya. Menurutku, dia laki-laki yang sangat terbuka, apa adanya. Tidak sungkan bercerita banyak hal padaku, sekalipun itu masalah personal. Jujur, aku pribadi masih sedikit keheranan. Kenapa dia terkesan 'nyaman' berbagi denganku? Seolah aku yang bukan siapa-siapa ini, berhak tahu semua tentangnya. Bukan berarti aku tidak mau tahu, atau lebih mengenal, bukan! Aku hanya merasa...
  Aku tidak mengenalmu dengan baik. Aku biarkan kamu lewat begitu saja. Menguap dan terbang bersama udara. Tapi apakah kamu akan membenciku? Patutnya aku yang semestinya membencimu. ______________________ Buku tulis dengan goresan puisi antara kamu dengan masa lalumu. Di saat kamu keluar kelas dengan teman-teman spesialmu. Tanpa sengaja 'ku dapati buku LKS Matematika tergeletak di atas meja. Matematikamu memang di luar kepala....

Saat Kau Putus Asa

Ada banyak cerita yang bisa kau dengar Tentang perahu-perahu nelayan Yang harus tetap berlayar Menembus ombak ganas Menerjang maut dengan tangguh Tentang malam-malam Yang seharusnya jadi waktu lelapkan diri dan pikiran, Tetap ada mereka yang harus terus berjalan Menggendong peluh dari harapan Menerobos angkuh jadi kekuatan Bukan dengan tangan kosong Apalagi senyum istirahat Tentang pagi-pagi yang seharusnya disambut dengan teh dan sarapan Tapi ada mereka yang tak memiliki waktu Untuk sejenak saja duduk...

Kata

Kata ini lahir dari rahim rasa, sederhana tak berbalut diksi mewah. Kata ini lahir saat ku menjauh dari rayumu.Ku berlari dan terus menjauh namun dirimu selalu mengikuti. Kamu, tak ubahnya bayangku sendiri. Terkadang aku mengejar, terkadang aku yang dikejar.Terkadang... jalan beriring. Kata ini, lahir saat suaramu menjelma simponi, begitu meneduhkan, aku terbuai. Kata ini, lahir dari rahim rasa; cinta dan benci Kata ini, lahir...

Kita dan Mimpi

Aku tak pernah memahami Alasan terlalu sulit mendeskripsikan Anganku yang berlebihan Atau mimpi ini memang besar? Tuhan lebih tahu dari cukup Waktu lebih bijak memijak masa Dunia lebih pandai sembunyikan takdir Dan kita tak lebih dari manusia Yang hanya mampu meraba serupa mungkin Malam dan pagi juga ikut berpartisipasi Malam yang bekerja memikul mimpi Pagi yang berusaha mencerahkan asa Dan kita jadi pemeran dalam skenario-Nya yang luar biasa Di masa-masa bergulir Pastilah...

Mengarang Rindu

  Tiada resah yang bergejolak Tiada angan yang meniadakan-nya ada Dan tiada siluet abu, putih, biru, jingga, merah muda atau kemerahan Hanya malam bergumul bimbang dan diam Langit pagi ini masih terlalu gelap Suara gema lebih mendominasi Dan aku terjaga di depan pintu Memandang langit yang tak kunjung menampakkan Menata rayu Pada bayangan yang terlalu kelam untuk di cumbu Mengarang rindu Pada siapa yang entah dan bagaimana dirindu Dan, sepiku jatuh meraung...
Cantik bukanlah standar yang bisa ditentukan seenaknya. ~ Siang itu di lobi kampus, Fio hanya memakan sedikit bekal yang dibawakan Mama dari rumah. Bekal itu dikemas sedemikian rupa membentuk karakter tertentu seperti bekal anak TK yang imut dan menggemaskan. “Dua centong nasi 195 kkal, telur dadar goreng 135 kkal, dua potong sosis goreng 185 kkal, brokoli rebus 28 kkal, sama mayones 40...
Keluarga, sungguh tidak seorangpun mampu mengatakan secara sembrono. Kepercayaan yang luar biasa serasa saling menjaga. Tak semua bisa menjadi keluarga bahkan keluarga itu sendiri. Urusan percaya memang tidak bisa dianggap enteng. Butuh proses berdarah ataupun moment yang tepat. Apalagi percaya hubungannya sama hati. Benda absurd yang tak bisa diterawang dengan mata terbuka. Dunia batin harus pakai mata batin alias...

Tulisan Populer

Tulisan Terbaru