Pixabay_Picography

Kawan, mau kah kamu mendengarkan kisah kelam dan pilu di masa lalu? Kisah keangkuhan manusia yang merusak diri mereka sendiri.

 

Masih kuingat bagaimana wajah ceria pagi itu seketika berubah menjadi wajah ketakutan. Situasi tiba-tiba berubah mencekam. Mereka, beberapa temanku harus berdesakan di dalam lemari, bersembunyi menyelamatkan diri, yang bisa saja hilang pagi itu.

Masih kuingat, asap hitam mengepul dan kobaran api membakar rumah-rumah. Suara teriakan dan tangisan dimana-mana. Siang dan malam sama saja, suara tembakan, bau amis, perselisihan yang tidak pernah reda, terus mengalirkan darah ke bumi. Semua saling lempar curiga, tidak ada rasa percaya lagi, saling menuding satu sama lain.

Apakah ini harga yang harus dibayar untuk kerusakan hutan yang dieksploitasi selama ini? Hutan yang telah ratusan tahun memegang hukum alam “dipaksa” mengikuti hukum negara. Dengan istilah canggih “pembangunan”, hutan ditebas, direnggut untuk memenuhi keinginan manusia. Alam tidak pernah tidak ikhlas, tapi tidakbisakah kita memperlakukannya “sedikit” lebih bijak?

Gaya hidup tradisional yang menjaga dan menghargai hutan sebagai tempat tinggal dan sumber kehidupan mulai dicekoki dengan kehidupan modern. Pada akhirnya ada rasa iri dan dendam, sombong dan angkuh, yang memuncak pada dibutakannya mata untuk membenarkan segala cara yang berujung pada pembantaian.

Aku bukannya ingin mengungkit masa kelam itu kawan, hanya teringat akan debat dan perselisihan yang terjadi akhir-akhir ini. Aku dan kuharap kalian juga pasti tidak ingin kekelaman itu terjadi lagi.

Tidak perlu risau memikirkan ingin menciptakan sejarah baru yang spektakuler, cukuplah dulu kita belajar dari masa lalu. Belajarlah dari alam, yang tenang, yang tidak angkuh pada kehidupan dunia.

4 KOMENTAR