pixabay.com/couleur

Malam dingin patah hati, serasa memekik dengan kehampaan. Bisu tanpa tahu harus berbicara dengan siapa. Padahal ada banyak rencana yang belum juga terlaksana. Lalu tanya dari sepotong kursi “bagaimana kamu mendefinisikanku?”, memotong lamunan kesedihan. Tanya itu seperti membuat kemajemukan pola dasar dari cara berpikir. Mungkin juga karena berbagai sudut pandang dari ‘bagaimana’, sehingga melahirkan jawaban berbeda-beda.

Definisi hanyalah penjelasan sah yang disepakati bersama. Sebagaimana kursi telah disepakati sebagai tempat duduk. Namun, siapa yang peduli dengan perbedaan kandungan makna di dalamnya? Barangkali yang kalian anggap sepele ternyata menyimpan arti penting, bahkan tak ternilai harganya.

Sadar atau tidak, saat kita sedang melihat film dan menikmatinya, akan timbul rasa yang sama. Seolah-olah kita ada dan ikut menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Masih ingat rasanya di saat Thanos mendapatkan Infinity Stone, ada kekhawatiran yang tidak bisa dipungkiri. Terlebih kita tahu kekuatan Infinity Stone digambarkan sedahsyat itu. Dalam bahasa lain benda itu menjadi berarti sekali untuk Avengers yang mempunyai tugas menjaga alam semesta.

Meresapi hal yang tidak nyata saja kita bisa ikut terbawa. Lalu kenapa kita jarang sekali melihat sesuatu dari artinyaРsudut pandang hak maupun benda itu sendiri? Tidak jarang kita seenaknya saja, seperti sesuatu itu tidak berarti. Padahal kotoran ayam saja sangat berguna bagi tanaman. Tulang ikan sangat berarti bagi kucing dan masih banyak lagi. Seandainya  kita mau menyadarinya, mungkin tidak ada yang sia-sia di dunia ini.

Kursi sangat berharga saat capek jalan kaki ataupun berdiri. Biasanya kita akan cari kursi untuk duduk dan melepas lelah. Begitu juga kursi roda bagi orang yang lumpuh akan sangat berarti dibanding dengan orang yang bisa berjalan. Kursi transportasi juga sangat berarti bagi ibu hamil dan orang yang sudah tua. Sehingga di kendaraan umum mereka lebih diutamakan dibanding penumpang yang lain.

Definisi memang membatasi, tetapi kita juga punya hak untuk mendefinisikan sesuai dengan apa yang kita rasakan. Cincin berupa lingkaran kecil yang ada di jari, akan bernilai sesuai dengan bahan pembentuknya. Namun, hal ini akan berbeda dengan cicin pernikahan. Sebuah tanda ikatan cinta dalam janji suci yang sangat berarti. Kalau pun diganti dengan cicin yang lain secara fisik mungkin bisa sama, tetapi untuk artinya tidak akan mungkin tergantikan.

Barangkali dari kehampaan ini bisa menumbuhkan esensi hidup yang sudah mulai pudar.  Hampa hanyalah kekosongan yang perlu diisi. Definisi itu juga yang membuat kehampaan ini berubah menjadi lebih berarti. Seperti kursi pelaminan yang menunggu mempelai duduk berdampingan.

Secara fisik kursi adalah kursi, tinggal entitas apa yang kita pakai. Kalau semestinya kursi untuk tempat duduk, dalam kondisi tertentu bisa menjadi tempat tidur. Mungkin sungai tidak hanya untuk air, tetapi bisa juga menjadi tempat sampah. Hanya saja kalau ada yang lebih baik, kenapa kita memilih yang buruk? Coba jawab.