sumber: pixabay.com/StockSnap

Kecewa. Satu kata itu seharusnya tak ‘kan pernah ada. Di benakku, benakmu, siapapun.

Kecewa. Hanya milik ia yang tak menggantungkan harapan semata-mata hanya pada Sang Pencipta.

Kecewa. Tak ‘kan ada pada ia yang selalu dapat mengambil hikmah dari tiap kejadian.

Aku. Tak mampu sedikitpun meniadakan kecewa dari hidupku.

Seperti saat ini. Aku dengan lesu tak dapat melakukan apapun. Tak mau makan apapun, bahkan sekadar memejamkan mata supaya dapat melupakanmu pun, aku tak bisa. Hanya karena dirimu. Hanya karena kecewa padamu.

Aku hanyalah manusia biasa. Yang terlalu mencintai seseorang hingga lupa, ada hal lain yang harus kucintai lebih dalam. Ada diriku sendiri yang lebih penting untuk kucintai sebelum memulai mencintai orang lain.

“Sudahlah, tak usah lagi pikirkan dia. Dia sudah secara terang-terangan meninggalkanmu,” kata Mbak ketika melihatku hanya berdiam diri di kamar seharian.

Mbak adalah kakak perempuanku yang paling peka sedunia. Percuma menyembunyikan sesuatu darinya, baru merencanakan bohong saja, pasti sudah ketahuan.

“Lelaki kalau sudah tak ada kabar dalam waktu yang lama, pasti ada hal lain di luar sana yang lebih menarik,” nasihat Mas ketika dia melihat mataku membengkak saat baru bangun tidur tadi pagi.

Mas adalah kakak laki-lakiku yang selalu tenang menghadapi masalah. Tempat paling hebat selain Penciptaku untukku berkeluh kesah.

Mas dan Mbak bagai ayah dan ibu bagiku. Harusnya aku beruntung masih memiliki mereka ketika Ayah dan Ibu sudah terlebih dahulu dipanggil Tuhan.

Bayangkan kalau aku jadi Mbak, aku hanya punya sosok Mas sebagai ayah, namun tak memiliki sosok pengganti ibu. Aku, mana mampu?

Sementara Mas. Tugasnya paling berat di keluargaku. Bayangkan, selain bekerja menghidupi aku dan Mbak, dia juga harus mendidik kami, selalu menerima keluh kesah kami adik-adiknya yang cengeng. Melindungi kami.

Di meja makan ini, baru saja aku mendengar nasihat mereka berdua setelah menumpahkan semua kekecewaanku. Marahku, sedihku, yang sesungguhnya amat konyol ini.

Aku, baru saja dikhianati oleh ia yang selama ini menjadi kekasihku.

Hei. Di satu poin ini saja – kekasih – aku sudah melanggar  janji pada Ibu bahwa aku hanya akan menjalin hubungan dengan lawan jenis ketika menikah saja nanti.

Sudah sebulan terakhir kekasihku abai terhadapku. Tak memberi kabar sama sekali. Aku tak tahu ke mana dia, apa yang dilakukannya sepanjang hari, bahkan ia bersama siapa.

Hingga malam itu, tak sengaja kudengarkan radio di stasiun favoritku. Tentang literasi, yang on air setiap jam 10 malam. Aku suka sekali mendengarkan  orang-orang yang membacakan puisinya.

Malam itu, penyiar yang sudah kuhafal betul suaranya, menyebutkan nama seseorang yang akan membacakan puisi. Selain nama, asal orang tersebut juga disebutkannya.

Jelas jantungku berdegup lebih cepat ketika kudengar nama kekasihku disebutnya. Alamat yang selanjutnya diucapkan, menegaskan bahwa orang itu betul-betul kekasihku.

Dia. Yang selama ini tak ada kabar. Muncul untuk membacakan puisi di radio.

Selamat malam Kak Adi, apa kabarnya? Sedang sibuk apa nih?

Aku yang semula tiduran di kamar langsung menegakkan badan. Duduk bersandarkan tembok sambil mengeraskan volume ponsel.

Ya, radio yang kudengarkan ini ku-streaming online via ponsel.

Kabar baik. Saya sibuk kerja aja,” jawab lelaki bernama Adi itu lalu tertawa kecil.

Sungguh. Itu betul-betul suaranya. Seketika aku merinding. Orang yang kurindukan, kini muncul. Hei, ke mana saja?

Oke Sobat Kreatif, Kak Adi ini mau bacain puisinya ya Kak ya. Omong-omong, tentang apa sih ini?

Hening sejenak, sampai lelaki itu menjawab, “Tentang cintaku untuk seseorang.”

Deg. Hei, jantungku hampir saja melompat tak tahu ke mana. Cinta untuk seseorang? Aku kah? Atau … Orang lain?

Ah sial! Jantungku berdegup semakin kencang.

Wah, romantisnyaaa … Udah siap? Silakan dibacakan ya, puisinya.

Siap, Kak.

Kemudian hening cukup lama. Waktu terasa semakin melambat untukku mendengarkan setiap kata yang ia tulis dalam puisinya.

*

“Aku lupa bunyi puisi dia,” kataku yang tak berhasil mengingat satu kata pun puisi Adi. Sudah tak ingat, ditambah hati tak ingin megingat.

“Yahh … Ku sambit kau! Bikin penasaran aja,” gerutu Mbak geram. Ia memang gemar sekali menirukan orang Medan berbicara. Padahal kami orang Jawa tulen. Sementara Mas hanya tertawa sambil melempari wajahku dengan potongan kerupuk.

“Coba ingat-ingat, Dek. Penasaran nih lho.”

Entah mengapa semakin aku mengingat, semakin aku lupa. Aku begitu hanyut dengan isi puisi itu. Tanpa ingat satu kata pun.

“Intinya deh, intinya …,” putus Mas tak sabar.

*

Puisi yang dibacakan Adi berisi tentang rasa cintanya untuk seseorang yang ia beri nama Berlian. Puisinya indah. Hingga aku terbuai.

Puisi tentang getaran cinta itu bertanggal beberapa hari yang lalu. Ketika ia sudah tak ada kabar sama sekali.

Jantungku masih berdegup cepat bahkan ketika puisi itu sudah selesai dibacakan. Puisi itu … Untukku kah? Atau siapa?

Jika untukku, mengapa hati kecilku berkata bukan? Meski tak kupungkiri, ada harapan yang membuncah besar.

Yeaayyy! Itu dia Sobat Kreatif. Kak Adi berhasil bacain puisinya. Dalem banget, ya? Bacanya pakai perasaan banget.” Suara penyiar yang amat ceria itu kembali memulihkan kesadaranku.

Iya, memang lagi mellow aja,” jawab lelaki itu.

Kalau boleh tau, itu puisinya untuk siapa sih?

Deg. Lagi-lagi jantungku sudah tak karuan. Aku kembali memusatkan konsentrasi untuk benar-benar mendengar jawaban yang akan dikatakan Adi.

Untuk seseorang yang kucintai, namun belum pernah kutemui.”

Jawaban itu seolah menggema di telingaku. Berkali-kali. Satu kalimat yang tanpa ampun merobek-robek harapanku. Dengan sadis memutilasi hatiku. Menyulut sumbu amarah yang semula kecil, hingga sekarang membesar.

Aku hanya terdiam. Masih mencerna dengan akal sehatku. Seseorang yang belum pernah ia temui?

Yang jelas, orang itu bukanlah aku. Aku sudah pernah bertemu dengannya dua kali.

Hatiku berusaha memblokade kenyataan bahwa kepergiannya tanpa kabar, adalah karena ia mencintai seseorang yang lain. Kenyataan lain adalah, ia tak menegaskan kepadaku, tak jujur kepadaku sama sekali. Bahkan ia meninggalkanku tanpa sepatah kata pun ucapan perpisahan. Apa salahku?

Waaah … Romantis sekali, ya? Semoga orang tersebut juga mendengarkan puisimu, ya. Siapa ya orang itu? Kak Adi nih, bikin klepek-klepek Sobat Kreatif!”

Hahaha. Aamiin. Semoga dia mendengarkan.”

Hei. Aku ini apa?

Semudah itukah menambatkah hati pada orang lain ketika ia memilikiku? Semudah itukah melupakan perjuangannya dulu untuk menjadikanku kekasihnya? Hingga berpaling pada gadis yang ia sebut Berlian?

Omong kosong!

Aku membanting ponselku ke kasur. Lalu menelungkupkan wajah pada boneka kura-kura besar kesukaanku. Menangis sejadi-jadinya.

*

Mata Mbak berkaca-kaca. Di satu hal karena turut sedih mendengar ceritaku yang menyesakkan, di hal lain karena ia tak tahan pedasnya makan mie samyang.

Begitupun denganku. Air mata dan ingusku sudah keluar deras. Menjijikkan memang. Selain karena isi hatiku tumpah ruah, juga karena aku menahan kepedasan.

Sementara Mas hanya diam. Masih menyuap samyang-nya. Ya, kami sedang entah. Pagi-pagi sudah sarapan makanan super pedas. Untung saja hari libur, sehingga tak khawatir perut bermasalah ketika bekerja.

Nasihat mereka tadi di awal cerita sudah kusimpan rapat-rapat. Mulai hari ini, jam ini, detik ini juga, aku akan melupakan lelaki itu.

Kecewa ini, biarlah jadi pelajaran, bahwa menggantungkan harapan pada seseorang itu sewajarnya saja. Kecewa ini, sebentar lagi akan hilang seiring habisnya samyang yang kulahap cepat. Iya, perutku sudah mulas meminta isinya segera dikeluarkan.

“Kok … Mules, ya?” Mas membuka suara setelah hening beberapa saat.

“Aku juga nih.” Mbak ikut-ikutan.

Kemudian kami meletakkan sendok dan garpu yang masih kami pegang ke piring masing-masing.

Satu …

Dua …

Tiga …

“Aku duluan!!!”

Kami lalu berlari adu cepat sampai kamar mandi.

***

8 KOMENTAR