Sumber gambar pixabay.com/sferrario

Masa itu surat masih menjadi romantisme percintaan. Tetangga yang sekalian menjadi adik kelas di sekolah dasar. Telah mengisi hati tepat aku naik kelas 6. Kami memanglah anak-anak tapi tidak tahu hati ini sudah serasa dewasa. Saling rindu saling cinta layaknya orang kasmaran.

Masa itu berapa ratus ribu kertas kulayangkan. Pertemuan malam di mushola menjadi tempat saling tukar balas. Dia membalas suratku dan aku membalas suratnya. Sungguh aku juga tidak paham. Sungguh terlalu dini untuk mengenal kata cinta. Kami saling menyayangi meski umur baru sepotong pagi.

Masa itu berapa kali aku terbagun dari tidur. Ingin sekali pergi kerumahnya mengetuk pintu jendela. Hanya sekedar bertemu dan memandang senyumnya. Tapi sayangnya aku tidak seberani itu. Hingga rasa itu kutahan sampai pagi berangkat sekolah. Meski harus tidur berkawan gelisah semalaman.

Ah! Aku benci siksa batin. Cintaku berlebihan untuk masa kecil. Ari namamu harus kuhapus sebelum aku menjadi majnun. Aku yakin ini hanya cinta monyet. Kebiasaan sering bertemu di kampung dan juga di sawah. Membuatmu selalu ada setiap mataku membuka.

Di pematang sawah menjaga padi agar tidak dimakan burung. “Besok kita akan jarang bertemu lagi,” ucapku haru dengan kesenduan yang mendalam.

Pastinya semua akan berubah. Aku sudah mulai masuk SMP dan kamu masih di SD. Aku akan menemukan pergaulan baru dan tidak bisa menjamin masih samakah perasaanku?

Masa itu aku masih mengirim surat. Meski mushola tidak seramah dulu lagi. Mulai sepi dan sudah jarang disinggahi. Aku taruh kertas di selipan bambu belakang. Sewaktu pura-pura main untuk bertemu kakakmu. Saat itu pula aku bisikkan “ada kertas putih terselip kata-kataku di belakang rumah.”

Masa itu kamu juga tidak kalah akal. Pura-pura membantu menjemur padi. Sesekali matamu memberikan isyarat ke tumpukan batu yang ada di pojokkan rumah. Lalu tersenyum seolah-olah kamu merasa aku sudah tahu maksudmu. Kamu pintar memainkan peran Ari. Kamu buat aku penasaran setengah mati. Hingga ingin cepat-cepat selesai dan mencari balasanmu.

Masa itu kamu masuk sekolah menengah pertama. Pergaulan baru membuatmu berubah. Aku yang mencoba bertahan dengan perasaan. Tapi tidak dengan kamu yang sudah mulai enggan. Abai dan cuek serta tidak perduli sama sekali. Surat sudah menjadi romantisme basi. Pertemuan bukan lagi hal yang dinanti. Semuanya tidak seperti biasanya. Kamu mulai menemukan cinta yang lain.

Masa itu andai aku mau sombong tidak sedikit cewek yang suka denganku. Tapi untukmu aku hanya bisa diam dan membiarkan mereka tanpa balas. Semua belum bisa aku hilangkan begitu saja. Bekas itu mengecap dalam di hati. Namamu terukir permanen tanpa mampu aku ganti. Aku benar-benar majnun di himpit sepi. Sedang kamu tersenyum tanpa aku lagi.

Masa itu aku mulai sadar sewaktu nilai ujianku anjlok setengah tiang. Berhiaskan warna merah yang membuat orang tuaku marah. Tangis ibu berderai di antara isak perih sakit hatiku. Aku harus melupakanmu. Kamu sudah tidak layak untuk aku puja. Kamu seperti antek-antek Belanda yang merampas kebebasan. Aku benci kamu Ari.

Aku tutup masa itu dengan memberikan surat terakhir. Surat berisi permohonan maaf dan juga ungkapan terimakasih. Tak tertinggal juga lirik lagu Malaysia dari Screen.

Bila Cinta Didusta

Bila cinta didusta, hati mulai gelisah
Hilang kekasih hati, hidup jadi merana
Insan jadi idaman, kini dimilik orang
Cinta yang diimpikan, putus di tengah jalan
Terpaksa mengalah

Mengapa menyinta, andainya tak setia
Tak usahlah bercinta, jika hanya berpura
Bila hati ‘dah jemu, mula berpaling tadah
Tak pernah difikirkan, orang yang ditinggalkan
Tersiksa sayu pilu

Oo-oo merayu-rayu
Oo-oo ingin kembali
Oo-oo meratap sayu
Tidak mungkin orang simpati
Menoleh pun tak sudi

Andainya ditakdirkan, cintamu didustai
Pastinya kau mengerti, siksanya perpisahan
Hanyalah ditemani sesalan

Mengapa menyinta, andainya tak setia
Tak usahlah bercinta, jika hanya berpura
Bila hati ‘dah jemu, mula berpaling tadah
Tak pernah difikirkan, orang yang ditinggalkan
Tersiksa sayu pilu

Oo-oo merayu-rayu
Oo-oo ingin kembali
Oo-oo meratap sayu
Tidak mungkin orang simpati
Menoleh pun tak sudi

Andainya ditakdirkan, cintamu didustai
Pastinya kau mengerti, siksanya perpisahan
Hanyalah ditemani sesalan

Lagu itu kutujukan untukmu. Menutup kisah masa percintaan terlalu dini. Kisah yang semestinya belum patut kita rasakan. Sakit hati yang seharusnya belum pantas untuk kita nikmati. Kita terlalu kecil untuk sebuah mimpi dan harapan. Terlebih keinginan selalu bersama-sama selamanya. Tapi tanpa mengotori hubunganmu terimakasih sudah menerima tulisan-tulisanku.

33 KOMENTAR

  1. huks sedih sekali kak Textra..
    mengingat cinta monyet emang bikin senyum-senyum menthel ya..
    brasa primadona begitu banyak yg suka..
    Semoga kak Textratis menemukan jodohnya yang bisa merubah nyanyian Melayu ke nyanyian India ya kak..
    🤣🤣🤣

  2. 😱😱😱😂😂😂 Sumpah, ngakak so hard. Duh, Dasamuka menyedihkan sekali masa kecilnya. Kayaknya banyak dijewer Emak nih. Hahahaha, aku kok bahagia banget bacanya. Sampai keluar air mata saking lucunya ngebayangin cinta monyetmu, Bang.

    Astaga, aku kok suka dengan Ari! Wakakak. Ari, kamu keren. Hahahaha. Salam buat Ari, Bang. Merdeka! 😅😅😅

    *Protes, lagunya enggak kenal dan enggak tahu!🙄😏😕