Dokumen Pribadi

Liburan sekolah menjadi hari yang dinanti-nanti bagi banyak siswa. Termasuk Sella, salah satu siswi SMA Negeri 2 Melak. Liburan kali ini ia berencana untuk mengunjungi salah satu tempat wisata yang ada di Jogjakarta. Ia bahkan sudah menyisihkan uang jajan untuk ia gunakan selama berlibur bersama keluarganya.

“Sel, ntar siang ada rapat Osis.” Prita menyambar kipas tangan yang sedang dipakai Sella.

“Kamu darimana? Kok, keringatan gitu?” tanya Sella heran.

“Aku abis keliling kelas, ngasih tau kalau mau ada rapat entar siang.”

“Kok, dadakan banget rapatnya? Lagian, seminggu lagi kan udah liburan sekolah. Ngapain rapat segala? Kenapa nggak sekalian abis liburan sih?”

“Nggak tahu. Kayaknya soal perpisahan Osis lama deh.”

“Iya, nanti aku ikut  rapat.”

Prita mengacungkan jempolnya dan segera berlalu dari kelas Sella.

***

Sella dan semua anggota Osis lama sudah berkumpul di dalam ruangan kelas yang biasa digunakan untuk rapat Osis. Hanggara, si wakil ketua osis menutup pintu rapat-rapat sebelum rapat dimulai.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Derry si mantan ketua Osis membuka rapat.

“Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,” sahut semua anggota Osis yang beragama islam.

“Oke. Selamat siang semuanya. Hari ini kita mulai rapat tentang acara perpisahan osis yang sudah kita bahas minggu lalu. Dari semua usulan yang masuk, kami sepakat untuk mengadakan perpisahan di Gunung S, di hari ke-3 liburan sekolah.”

“Apa!?” teriak Sella yang membuat semua mata tertuju padanya.

“Kenapa? Kamu nggak setuju?” tanya Hanggara.

“Yah, aku setuju-setuju aja. Tapi, kenapa harus hari liburan sekolah? Gimana kalau acara campingnya setelah liburan sekolah aja? Soalnya aku mau ke Jogja,” cerocos Sella.

“Nggak bisa, Sel. Anggota Osis yang kelas 3, udah nggak bakal masuk ke sekolah ini. Jadi, liburan sekolah minggu depan adalah waktu yang tepat.”

“Aku udah pesen tiket ke Jogja.”

“Tiket kamu tanggal berapa?” tanya Derry.

Sella mengangkat kedua pundaknya sambil menggelengkan kepala.

“Loh? Kok nggak tahu? Katanya udah pesen tiket?” tanya Hanggara.

“Mama yang pesenin. Jadi, aku nggak tahu.”

“Ya udah. Tiketnya dicancel aja,” pinta Derry.

“Enak aja. Kalo udah dibayar gimana?” sahut Sella sewot.

“Nanti aku ganti pakai tiket yang baru. Kebetulan abis acara perpisahan ini, aku mau ke Jogja juga.”

“Uuuu … modus!” teriak murid-murid yang lain.

Hampir semua anak sekolah tahu kalau Derry menyukai Sella. Namun, Sella tak kunjung menerima cinta Derry walau cowok yang satu ini sudah jadi cowok populer sebagai ketua Osis yang juga berprestasi di beberapa bidang.

“Sst …. diam!” Hanggara menengahi agar suasana riuh bisa kembali fokus pada rencana perpisahan yang akan mereka adakan di Gunung S.

Satu jam kemudian, rapat selesai dan mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri sesuai dengan tugasnya. Mengingat, acara akan diadakan satu minggu lagi yang juga melibatkan beberapa guru dan Osis yang baru.

***

Sella bernapas lega ketika mengetahui kalau Mamanya belum memesankan tiket. Ia minta keberangkatannya ditunda karena ada acara sekolah yang tidak bisa ia tinggalkan.

“Terus, kamu mau nyusul ke Jogja sendirian?” tanya Mama Sella.

“Iya, Ma. Lagian cuma selisih 3 hari aja kok.”

“Emang berani?” tanya Mama Sella.

“Berani, Ma. Aku kan udah gede.”

“Mama yang khawatir kalau kamu berangkat sendirian. Atau semua tiketnya Mama pesan setelah acara kamu selesai. Biar kita berangkatnya barengan aja semuanya.”

“Ya udah, Mama atur aja.”

***

Seminggu kemudian …

Semua anggota Osis yang mengikuti acara perpisahan sudah berkumpul di halaman sekolah. Mereka akan berangkat bersama-sama menuju Gunung S yang terletak di Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat.

“Prita … aku kebelet. Aku ke wc dulu ya! Jangan ditinggalin!” Sella berbisik di telinga Prita.

Prita menganggukkan kepalanya. Membiarkan Sella pergi ke toilet terlebih dahulu. Sementara Prita dan murid-murid lainnya sudah sibuk memasukkan perlengkapan camping ke dalam mobil yang sudah disediakan.

Semua murid memulai perjalanan menuju gunung S. Mereka bernyanyi riang gembira dan bercanda sepanjang perjalanan.

“Aaargh…!” Tiba-tiba Prita berteriak di dalam mobil dan membuat Rendra, supir sekaligus pemilik mobil mengerem dadakan.

“Kenapa, Prit?” tanya yang lain, sementara wajah Prita panik tak karuan.

“Sella … Sella ketinggalan!” teriak Prita.

“Serius? Nggak ikut di mobil yang lain?” tanya Sari.

“Enggak. Harusnya dia ikut mobil ini. Lihat! Tasnya dia kebawa sama aku. Pasti sekarang dia bingung deh mau telpon siapa. Handphone dia di dalam tas ini.” Wajah Prita pucat dan panik, rasa bersalah menyelimuti dirinya. Bisa-bisanya ia melupakan sahabatnya sendiri. Saking sibuknya mengurusi semua perlengkapan, ia sampai lupa kalau Sella tidak ada di antara anak-anak yang lainnya.

“Kok, bisa sih, Sel?” celetuk salah satu murid yang berada satu mobil dengan Prita.

“Ada apa, Ren?” tanya Derry yang ikut berhenti melihat mobil Rendra tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan.

“Ada yang ketinggalan.”

“Apa?” tanya Gerry.

“Bukan apa, tapi siapa.”

“Maksudnya?”

“Ger, kamu kan pakai motor. Tolong jemput Sella dong! Dia ketinggalan di sekolah!” teriak Prita sembari mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.

“Hah!? Kok, bisa dia ketinggalan?”

“Duh … ini semua salah aku. Tadi, pas udah mau berangkat, si Sella izin mau ke toilet dulu. Dan aku lupa karena sibuk ngurusin perlengkapan dan udah ribet banget sama anak-anak ini, nah …” jelas Sella.

“Kok, kita sih?” protes teman-teman yang ada satu mobil dengannya.

“Lah? Trus aku gimana?” tanya Hanggara yang dibonceng Derry.

“Naik mobil sini aja! Kalau jemputnya pakai motor, pasti lebih cepat.” Prita langsung menyambar pertanyaan Hanggara.

Hanggara menurut saja, segera masuk ke dalam mobil sementara Derry kembali ke sekolah untuk menjemput Sella.

Sementara, di sekolah Sella sudah hampir menangis karena ditinggalkan seorang diri tanpa bisa menghubungi siapa pun. Handphone miliknya terbawa Prita dan dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia duduk di birai yang berada di pintu masuk sekolah dan akhirnya menangis.

“Aku pikir, cuma anak kecil aja yang nangis kalau ditinggal.” Suara Derry mengejutkan Sella.

“Kamu … kok masih di sini?” Sella mengusap air matanya.

“Aku jemput kamu. Si Prita brengsek banget ya! Bisanya dia lupa kalau kamu masih di toilet, pergi gitu aja.” Derry terkekeh sembari memandangi wajah Sella yang terlihat kesal.

“Kok, diam? Ayo naik! Keburu hujan nih,” pinta Derry.

“Aku nggak ada helm.”

“Gampang. Ntar mampir dulu ke rumahku, ngambil helm.”

Sella segera bangkit dan menaiki motor Derry. Mereka mampir terlebih dahulu ke rumah Derry yang jaraknya tak jauh dari sekolah.

“Der, kayaknya mau hujan deh,” ucap Sella saat mereka kembali melanjutkan perjalanan.

“Iya … udah gelap banget. Anak-anak yang lain pasti udah sampai di Gunung S. Pegangan yang kuat, biar kita cepet nyampe!” pinta Derry dan langsung menarik gas dan melajukan motor secepatnya.

“Der, aku takut!” Sella memeluk erat pinggang Derry sembari memejamkan matanya.

Derry tidak peduli, ia tidak mengurangi sedikit pun kecepatan motornya. Ia tidak ingin hujan turun terlebih dahulu. Dia bisa kesulitan untuk naik ke Gunung S karena jalan menuju ke sana masih jalan tanah yang becek ketika hujan turun.

Rintik hujan mulai turun ketika mereka mulai memasuki Bukit Telaus.

“Der, motornya bisa?” tanya Sella yang semakin khawatir kalau-kalau mereka akan terjatuh, melihat kondisi jalanan tanah yang mulai basah.

“Bisa. Pegangan kuat-kuat ya, biar nggak jatuh!” pinta Derry.

Sella langsung memeluk tubuh Derry dengan erat, membuat Derry tersenyum sembari melihat tangan Sella yang kini melingkar di pinggangnya. Huft … selama ini ia ingin bisa berdekatan dengan Sella, namun sulit sekali. Hanya karena kejadian yang tak sengaja, kini gadis pujaannya itu bisa memeluk tubuhnya dengan erat.

“Sel …!”

“Hmm …” Sella masih membenamkan wajahnya di punggung Derry, ia takut kalau melihat jalanan akan menjadikan dirinya berteriak ketakutan dan membuat Derry panik mengendarai motornya. Dia ingin Derry bisa tetap fokus mengendarai motornya.

“Menurut kamu, romantis yang mana? Naik motor bareng sambil ngebut atau naik motor bareng sambil hujan-hujanan?” tanya Derry sambil berusaha menahan motornya agar tidak terjatuh dan sampai ke atas Bukit Telaus dalam keadaan selamat.

“Yang bener bawa motornya!” teriak Sella saat ban motor Derry beberapa kali menyelip ke dalam tanah yang becek dan tergelincir. Untungnya kaki panjangnya bisa menahan motornya agar tidak terjatuh.

“Ini juga udah bener. Kamu belum jawab pertanyaanku.”

“Aku jawab nanti kalau sudah sampai.”

“Kalau sudah di atas, pertanyaannya sudah lain lagi.”

“Der …! Jalannya susah gini, kamu masih bisa aja bercanda!” celetuk Sella.

“Aku serius, nggak pernah bercanda kalo sama kamu.”

Sella hanya diam sepanjang perjalanan sampai mereka berada di atas puncak Gunung S. Gunung S ini, sebenarnya bernama Bukit Telaus. Karena jalannya yang berbentuk huruf S ketika diambil gambarnya dari ketinggian, maka kebanyakan orang menyebutnya Gunung S.

“Kalian nggak papa?” Prita menghampiri Sella dan Derry yang sudah basah kuyup dan kotor karena terkena percikan tanah.

“Kamu lihat! Kita udah basah kuyup gini dan masih ditanya nggak papa?” celetuk Sella kesal.

“Sel, maafin aku! Aku nggak sengaja ninggalin kamu.” Prita bergegas menuju mobil untuk mengambil handuk.

“Emang dasar ya, minta maaf tapi malah ngeloyor pergi!” dengus Sella makin kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.

“Nih, kalian keringkan badan dan ganti baju dulu.” Prita mengulurkan dua buah handuk pada Derry dan Sella.

“Makasih. Tenda kita mana?” tanya Sella masih kesal.

“Itu, yang biru.”

Sella bergegas menuju tenda yang ditunjuk oleh Prita. Sementara Derry juga menghampiri Hanggara dan teman-temannya yang lain.

Hari mulai gelap, mereka membuat api unggun dan duduk melingkar. Hanggara menjadi MC dadakan dalam acara perpisahan yang sederhana itu.

“Oke. Karena malam ini adalah malam perpisahan kita. Akan ada persembahan lagu spesial dari ketua osis kita. Mari kita sambut penampilan dari …. Derry Hidayat!” teriak Hanggara yang disambut tepuk tangan riuh oleh murid-murid yang lainnya.

Derry tersenyum, memetik setiap senar gitarnya perlahan dan mulai bernyanyi. Matanya memandang satu per satu siswa yang ikut dalam acara ini. Orang yang ia cari tidak ada di antara mereka. Namun, Derry tetap menyelesaikan lagunya.

Derry memberikan gitarnya pada Hanggara untuk menggantikannya bernyanyi lagu berikutnya. Ia menghampiri Prita yang sedang asyik makan jagung bakar.

“Sella mana?” bisik Derry di telinga Prita.

“Tidur.”

“Ck, jam segini sudah tidur?”

Prita menganggukkan kepalanya.

“Kamu nggak bisa bantuin aku?”

“Bantuin apa?”

“Aku pengen nembak dia malam ini.”

“Hah!? Serius? Tapi, dia udah tidur di tenda. Aku nggak berani ganggu dia. Dia masih kesel banget sama aku.”

“Ya udah, deh.” Derry membalikkan tubuhnya, berjalan perlahan dengan perasaan kesal. Ia menendang botol mineral yang dilewatinya dan masuk ke dalam tenda.

***

“Sudah bangun?” Derry duduk di sisi Sella yang sedang berdiri seorang diri menanti fajar.

Sella tersenyum, “Sengaja tidur cepat supaya aku bisa bangun pagi dan melihat pemandangan awan yang indah di sini. Beberapa kali aku ke sini, nggak beruntung.”

“Oh ya? Kamu nggak tahu kalau tempat ini indah bukan cuma di pagi hari.”

“Maksudnya?”

“Semalam aku cari kamu. Kata Prita, kamu sudah tidur.”

Sella hanya tersenyum menanggapi ucapan Derry.

“Sel, kamu tau nggak kalo senyuman kamu itu manis banget.”

“Gombal!” sahut Sella.

Derry terkekeh. “Eh … kamu belum jawab pertanyaan aku yang kemarin.”

“Pertanyaan apa?” tanya Sella pura-pura lupa.

“Kamu mau nggak jadi pacar aku?” tanya Derry tanpa menoleh sedikit pun ke wajah Sella, ia membuang pandangannya pada langit yang mulai terang.

“Idih … pertanyaan yang kemarin nggak begitu.”

“Aku ‘kan udah bilang, kalau sudah sampai sini pertanyaannya akan berubah.”

“Berubahnya jauh banget!” Sella membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi.

“Sel …!” Derry meraih lengan Sella untuk menahannya pergi.

“Kenapa lagi?” tanya Sella.

“Kamu belum jawab pertanyaanku.”

“Pertanyaan apaan?”

“Ish … aku serius, Sel. Kamu mah becanda terus!”

“Lah? Kamu yang aneh. Tadi nanyanya sama siapa? Kamu nggak liat muka aku sama sekali. Kirain nanya sama awan.” Sella berusaha membela diri.

“Oke.” Derry berdiri di depan Sella, menatap gadis itu lekat, tepat di manik matanya. Perasaannya makin tak karuan, jantungnya berdebar kencang dan ia tak mampu mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya. “Mmm … mmm….,” Derry meraih kedua tangan Sella.

“Am em am em aja! Cepetan ngomongnya!”

“Sel, aku tuh grogi tiap deket kamu.” Derry mengusap keringat yang keluar dari dahinya. Padahal, cuaca pagi ini sangat dingin, tapi ia justru berkeringat karena gugup.

“Grogi kenapa?”

“Ka-karena … karena … aku cinta beneran sama kamu.”

“Terus?”

“Ya … kamu mau nggak jadi pacar aku?”

“Harus jawab sekarang?” tanya Sella menatap Derry.

Derry menganggukkan kepalanya.

Sella tersenyum. “Makasiih ya … selama ini kamu sudah baik sama aku. Sering bantu aku, selalu ada kapan pun dan di mana pun aku butuh.”

“Aku minta maaf kalau selama ini aku nggak pernah bisa nerima kamu. Bukan berarti aku benci sama kamu. Tapi, aku sendiri belum yakin sama perasaan aku juga kamu.”

Derry menjatuhkan lututnya ke tanah. “Sel, aku beneran cinta sama kamu. Aku bakal lakuin apa aja buat kamu. Asal kamu mau nerima cinta aku.”

Sella tersenyum. “Aku mau terima cinta kamu.”

“Serius? Kamu mau nerima cinta aku? Makasiih ya!” Derry bangkit, melompat bahagia dan memeluk tubuh Sella.

“Apaan sih!? Jangan peluk aku! Aku belum selesai ngomong!” sentak Sella.

Derry melepaskan pelukannya. “Eh!? Iya, deh. Ngomong gih!”

“Aku mau terima cinta kamu kalau lima tahun lagi kamu masih ngomong sama seperti yang kamu omongin tadi.”

“Kenapa harus lima tahun? Kenapa nggak lima bulan aja?” tanya Derry.

“Karena selama lima tahun kita akan ngelewatin banyak hal yang akan membuat perasaan kita berubah. Aku nggak akan pernah tahun lima tahun lagi kamu masih cinta sama aku atau enggak. Setidaknya … dengan lima tahun itu, kita bisa bedain perasaan yang kita alami sekarang ini sebenarnya cinta atau hanya sekedar suka.”

“Oke. Aku ngerti. Akan kujaga perasaanku supaya nggak berubah sampai akhir hidupku.”

Sella tersenyum. “Makasih.”

“Sel, kalau tadi aku ngasih pertanyaan … boleh nggak aku minta permintaan?”

“Der … kamu abis ngasih … trus diminta lagi?”

“Iih, bukan gitu. Ini bukan makanan kali.”

Sella terkekeh. Derry merapatkan tubuhnya pada gadis itu. Mereka bersama menikmati hamparan awan yang membentang luas di hadapan mereka.

“Aku pergi dulu ya!” pamit Sella.

“Mau ke mana?”

“Mau pipis. Kenapa?”

“Oh … nggak papa.”

Sella berlalu pergi meninggalkan Derry.

Derry langsung melompat sambil berteriak kegirangan. Tak peduli dengan banyak pasang mata yang menatap dirinya.

Sella menatap tubuh Derry dari kejauhan. Ia tersenyum geli melihat tingkah Derry yang menari-nari seorang diri. Lucu … hanya itu yang terlintas di pikiran Sella.

 

Kita tidak akan pernah tahu

Kapan waktu akan membunuh rasa cinta kita

Kapan waktu akan merubah cinta jadi benci, benci jadi cinta

Yang kita harus tahu adalah

Cinta tak akan pernah salah memilih dan memiliki

 

Ditulis oleh Rin Muna
Untuk Sahabat Penakata
East Borneo, 31 Januari 2019

5 KOMENTAR