Sumber gambar : pexels/pixabay

Fitrah Manusia adalah menjadi Pejuang

Sesungguhnya, manusia itu diciptakan dengan fitrah atau sifat dasar pemberani dan tangguh sejak lahir. Bermental pejuang dan pantang menyerah. Jika diperhatikan, bayi sejatinya terlahir dengan sifat-sifat dasar hebat yang tanpa kita sadari berlahan terpendam–mungkin bisa jadi hilang karena telah terpengaruh oleh didikan orangtua yang kurang memahami cara merawat sifat dasar yang sudah melekat di diri sang bayi. Hingga ia tak mampu untuk mempertahankan dan tumbuh berkembang dengan sifat dasarnya tersebut.

Coba perhatikan bagaimana seorang anak yang baru belajar berjalan. Saat jatuh ia tetap bangkit. Walau menangis karena sakit tapi apakah ia akan merasa putus asa dan berhenti belajar untuk bangkit? Tidak. Setelah menangis ia akan tetap kembali merangkak, berdiri dan berusaha untuk terus seperti itu. Kadang juga ketika ada sesuatu benda yang dilihat dan diinginkannya, pasti akan ia kejar sampai dapat.

Lalu Mengapa Saat Ini Kita Merasa Tak Mampu?

Ketika tumbuh dewasa banyak dari kita yang merasa tidak mampu, merasa tidak kuat dan tidak bisa melakukan ini dan itu. Padahal dulu kita adalah bayi yang pantang menyerah itu kan? Kita adalah yang selalu suka tantangan. Kita adalah yang memiliki rasa penasaran yang begitu tinggi di masa kecil.

Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Cara Didik Orangtua

Nah, bisa jadi memang iya. Lingkungan keluarga dan cara didik orangtua yang kurang tepat bisa menyamarkan sifat dasar itu seiring berjalannya waktu tumbuh kembang anak. Mungkin saja kebanyakan dilarang melakukan hal-hal yang terlihat membahayakan padahal sebenarnya jika orangtua mau dan sabar terus mengawasi tanpa melarang tidak akan menjadi sesuatu hal yang begitu mengkhawatirkan. Contohnya, saat dia penasaran dengan sebuah benda lalu ingin mengejarnya dan mendapatkannya–namun karena orangtua rasa tidak perlu–akhirnya melarangnya. Atau mereka yang memanjakan anaknya dengan fasilitas yang lengkap. Hingga membuat sang anak berpikir tanpa berusaha keras saja semua sudah tersedia kok. Hal itu akan membiasakan anak untuk akhirnya mengabaikan sifat dasarnya dan tumbuh berkembang menjadi anak yang manja. Apa-apa harus dituruti. Membiasakannya jadi tidak percaya diri untuk tumbuh dengan mental pejuang dan pemberani.

Memang benar, saat kecil kita belum mengerti tentang bahaya itu apa, kita juga belum bisa menjaga diri sendiri. Tapi apa iya semuanya jadi dilarang dan terlihat berbahaya? Tidak. Orangtua bisa memilih kok mana yang seharusnya bisa dilakukan sang anak. Gak mungkin juga orangtua tidak melarang ketika anaknya bermain api misalnya. Hanya saja yang terpenting caraΒ  menghindarkannya dari api bukan dengan hanya melarangnya. Tapi lebih kepada memberi pengertian bahwa api itu berbahaya– jikaΒ  tidak digunakan dengan baik. Lalu alihkan kepada hal-hal yang bisa ia lakukan namun tetap tidak membuatnya merasa bahwa caranya berjuang itu salah.

Saya memang belum menikah, apalagi mempunyai bayi. Walaupun begitu, jangan dulu berpikir saya sedang belaga bicara tentang pendidikan anak tapi berpengalaman saja belum loh ya.

Karena sebenarnya ilmu ini didapat dari salah satu teman saya, ia seorang wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak satu. Dia mengatakan itu kepada kami kemarin ketika berdiskusi tentang caranya mendidik anaknya. Wanita yang saya panggil kakak itu mengatakan bahwa menurut buku yang ia baca, selama ini banyak orangtua yang mendidik anaknya kurang tepat. Ya seperti yang saya katakan di awal tadi. Kebanyakan melarang hingga membuat sang anak tidak lagi ingin melakukan banyak hal. Anak pun menjadi merasa tidak percaya diri untuk menjadi pemberani. Memanjakannya dengan fasilitas mewah. Dengan alasan menyayangi karena tak ingin anaknya merasakan penderitaan, padahal tanpa sadar berlahan ia sedang membunuh bibit-bibit sifat unggul yang melekat di diri anak itu sendiri.

Saya memercayai itu, karena telah merasakan sendiri. Ibu saya adalah orang yang paling memanjakan saya. Dia sering mengambil alih pekerjaan yang rasanya saya sudah putus asa dan tak mampu mengerjakan dengan alasan tidak tega melihat saya merasa seperti itu. Bapak juga dulu melarang saya untuk kuliah sambil kerja, tidak boleh nge-kos sendiri dan sangat khawatir ketika harus merantau dan hidup sendiri di kota besar. Nah, larangan-larangan itu ternyata berdampak pada mental. Sejatinya saya adalah orang yang suka berjuang, berani melakukan banyak hal. Saya ingin menjadi anak perempuan yang mandiri. Ada hasrat seperti itu yang sering terlintas dalam benak saya tiap harinya. Namun, pengaruh menjadi anak terakhir dan perubahan ekonomi keluarga yang terus membaik ketika saya lahir–membuat mereka jadi bersikap seakan-seakan saya tidak boleh merasakan apa yang dirasakan kakak dan abang saya di masa-masa tersulit mereka.

Walau nyatanya, ya begitulah, karena seperti sudah dibiasakan tidak dibolehi ini dan itu, hingga membuat saya terlanjur berada di zona nyaman. Kemudian sulit untuk berkembang karena kurangnya motivasi diri dan lingkungan untuk menimbulkan kembali mental pejuang dan pemberani yang terpendam dalam diri.

Dulu saat kuliah bukannya saya tidak pernah bermimpi dan berusaha menjadi pengusaha sukses. Tapi kegagalan-kegagalan di awal saja sudah tidak didukung keluarga. Katanya ini dan itu yang malah membuat saya down dan berpikir, ah sudahlah. Cari yang pasti-pasti saja.

Tapi bukan berarti saya menyalahkan keluarga ya. Saya yakin semua yang mereka lakukan itu adalah bagian dari bentuk kekhawatiran dan ungkapan kasih sayang yang orangtua berikan pada anaknya. Hanya saja caranya yang mungkin kurang tepat. Lagian keluarga mana coba yang tega menjerumuskan anggotanya sendiri?

Karena harta yang paling berharga adalah keluarga

Maka dari itu pendidikan dalam hal mendidik anak juga perlu kita pelajari. Agar kelak niat baik kita terhadap anak tidak malah merugikan mereka dan masa depanya.

Intinya, jika saat ini kamu merasa tidak mampu, ingatlah bahwa sejak lahir kamu itu sudah menjadi seorang bermental pejuang. HanyaΒ mindset dan kemauan kita saja yang perlu terus diasa agar bisa memunculkan kembali kekuatan itu.

Tulisan-tulisan ini pun lahir dari hasil perjuangan saya melawan malas dan kurangnya kemauan saya untuk mulai menulis. Masih bayi saja bisa, mengapa sekarang tidak?

Jangan berhenti berjuang. Apalagi memperjuangkannya.Β Eeaak. Semangat.

8 KOMENTAR