Sumber gambar pixabay.com/abhishekraj13

Sore yang penuh dengan suara pujian-pujian dari masjid. Orang di pasar masih saja sibuk dengan kegiatannya. Hanya beberapa orang yang datang. Mungkin 2 persen dari jumlah populasi yang ada. Celakanya saya masuk juga ke dalam 98 persen yang tidak ikut datang ke masjid. Lalu saya mencoba bertanya pada diri sendiri. Kenapa saya tidak datang dan menjalankan ibadah?

Pertanyaan yang sederhana tapi susah untuk diakui. Padahal kalau kita sedang naik kereta api ataupun naik pesawat terbang. Tentunya akan datang lebih awal dan rela menunggu. Bahkan untuk pesawat terbang bisa satu jam sebelumnya. Perbedaan yang sungguh signifikan dibanding dengan menunggu waktu masuk ibadah. Celakanya kita sengaja menunda dan menunda. Hanya karena kemalasan ataupun pekerjaan.

Bagaimana rasanya telat ke kantor? Kalau belum kerja. Bagaimana rasanya telat masuk sekolah? Kalau kita masih waras tentu akan ada rasa malu dan bersalah. Datang dengan mata orang-orang tertuju pada kita. Sungguh tidak nyaman dan tidak enak. Percayalah! Saya sudah pernah mengalami dalam kondisi waras.

Tapi kenapa menjadi berbeda saat hal itu di tempatkan pada urusan ibadah? Tuhan memanglah Maha Pengasih dan Penyayang. Hingga memberikan kelonggaran waktu pada hambanya. Bahkan kalau sedang berpergian kita masih diberikan keringanan. Tidak ada yang dipersulit sama sekali. Lantas alasan apalagi yang mempersulit diri ini.

Kadang rasa malu itu hanya sampai di tenggorokkan. Sama sekali tidak sampai pada hati nurani. Kesadaran yang bebal oleh bentuk duniawi yang melankolis. Logika yang kacau oleh kebutuhan yang diada-adakan. Kita selalu lupa kalau hanya hamba. Kita sudah berasa paling berkuasa dan abadi selama-lamanya.

Itulah kenapa ada cobaan datang melanda. Itulah kenapa ada ujian mendera. Semua itu adalah kasih sayangNya. Agar kita ingat dan sadar. Namun ada juga yang diberikan kenikmatan tapi tindakannya justu menyimpang dari agama. Mungkin dia sedang dilulu tapi tidak merasa.


Kapan kau utamakan panggilannya nak? Ibumu selalu mengingatkan hal itu padamu.

Entah aku harus belajar dari mereka yang melangkahkan kaki tanpa ragu. Menunaikan ibdah tanpa khawatir. Menuju dan memenuhi panggilannya. Kalau ibu menanyakan kapan? Aku belum yakin untuk menjawab. Belum bisa untuk berjanji. Meskipun itu adalah kewajiban. Maafkan anakmu bu.