Asumsi mainstream terbentuk begitu saja. Klasifikasi positif dan negatif mau tidak mau sejalan dengan asumsi tersebut.

Kita tahu bahwa sekarang sedih itu sama dengan positif, bahagia sama dengan negatif, berhasil sama dengan positif, gagal sama dengan negatif.

Lebih parahnya labelisasi sepihak yang bisa jadi dianggap lebih buruk dari negatif, lebih baik dari positif. Misalnya saja, dalam beragama seseorang dengan kriteria tertentu menganggap orang lain yang tidak sesuai kriterianya kafir.

Pada kasus tersebut selain mengutamakan egoisme individu atau egoisme kelompok khusus juga mengorbankan kata kafir itu sendiri.

Kafir, tidak sepenuhnya buruk. Setiap manusia mempunyai unsur itu. Siapa pun saja yang tidak sejalan hukum hukum kehidupan yang memang sudah seperti itu adanya berarti dia kafir. Kafir itu menutupi. Orang berbohong bersrti menutupi kebenaran. Ini saya berbicara secara universal, bukan merujuk kepada golongan tertentu.

Positif dan negatif dalam pandangan mainstream sebagaimana yang sedang berlangsung yang dianggap bagus dalam kehidupan diam – diam menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri. Hidup menjadi hitam–putih. Terkotak – kotak. Kelihatannya rapi, tapi bisa jadi setiap yang ada di dalam kotak masuk ke kotak yang salah.

Bunuh diri, ketika seseorang melakukannya itu buruk. Tetapi, setelah itu terjadi apakah itu serta merta dianggap buruk. Padahal, salah satu hal yang melakukan bunuh diri selalu menyembunyikan alasan mengapa ia bunuh diri. Akhirnya orang menduga – duga kemudian menganggap bahwa itu sepenuhnya buruk.

Dalam adat dusun ada yang percaya bahwa sebelum terjadi suatu peristiwa bunuh diri ada semacam pulung, digambarkan seperti bintang berekor berwarna merah, yang jatuh di lokasi bunuh diri. Jika memang seperti itu benar adanya bisa jadi bunuh diri itu adalah sebuah kepastian yang tidak bisa dielak oleh siapa pun.

Mungkin itu yang bisa dilakukan pelaku–semacam protes, kritik terhadap kehidupan yang berlangsung di tempat tersebut. Kalau ditarik ke wilayah lebih luas, bisa juga itu kritik kehidupan terhadap perilaku manusia. Atau bahkan bisa jadi peringatan Tuhan kepada manusia.

Kita ingat cerita Nabi Khidir ketika beliau diminta Nabi Musa untuk membimbing Nabi Musa. Nabi Khidir, membunuh anak kecil. Yang menurut kitab suci, itu diperintah Allah karena di masa depan—melalui petunjuk Allah diketahui bahwa si anak kecil tersebut akan mrlakukan berbagai hal yang merugikan manusia.

Nabi Khidir sebagai manusia punya pilihan mau membunuh mempunyai pilihan untuk melakukan dan tidak melakulan. Tetapi posisinya dalam perhubungan antara manusia dengan Tuhan membua membunuh menjadi wajib.

Sedikit berbeda bentul dengan kasus bunuh diri tersebut. Namun juga ada sedikit kesamaan. Kesamaannya adalah bisa jadi itu semua memang harus terjadi, karena kehendak kehidupan atau pun kehendak Tuhan.

Kalau merujuk pada hal tersebut kita bisa tahu sebenarnya hal utama pembentuk asumsi adalah yang seharusnya atau default dengan kehidupan, atau Tuhan. Misalnya saja positif itu yang berakibat baik dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, buruk sebaliknya yang merugikan kehidupan sosial-kemasyarakatan dalam arti yang sebenar – benarnya. Sedih, gagal, bisa jadi positif jika itu berakibat pada kebaikan sosial-kemasyarakatan dalam arti yang sebenar – benarnya.

Jika kita merujuk ke penjelasan Nabi Khidir tadi namun menggunakan perspektif yang lain bisa jadi memang seperti inilah yang harus terjadi. Apa sih yang bisa kita harapkan dari zaman peralihan?

12 KOMENTAR