Gambar by pixabay

Kehidupan ini di antara dinding dan pintu keluar. Sesuatu yang menyekat ruang satu dengan yang lainnya. Batas wilayah umum dan pribadi, antara sesuatu yang berarti dan biasa. Apalagi dalam satu atap ini hidup dua jenis manusia yang berbeda.

Kotak persegi inilah yang menjadi sekat sangat pribadiku dengan orang-orang sekitar. Tempatku bersembunyi dari segala sesuatu yang orang lain tidak harus tahu. Karena menurutku, mereka hanya sekadar ingin tahu bukan peduli.

Hari-hari berganti, perkenalanku dengan teman-teman dimulai dari sebuah pesta kecil untuk menyambut penghuni baru. Acara sore sederhana dengan piza di halaman depan kamar.

Oot yang membuka acara seperti memberi arti tertentu padaku. Senyumnya serasa tengah mengucapkan selamat datang pada kebahagiaan. Teman-teman yang lain juga memberikan jabat hangat. Tidak lupa petikan gitar dari jari-jari Oot membuat kami bersenandung ria. Hari yang indah, sore yang menyenangkan, dan malam yang sempurna. Aku menemukan keluarga baru saat aku merindukan kasih sayang.

Di sini pula aku mulai belajar melupakan seseorang yang pernah mengisi hatiku, meskipun aku tahu dia berusaha mengejarku tanpa lelah. Mencari tahu di mana aku tinggal, menghubungiku melalui berbagai jalan. Aku yang berusaha membuka realita, tidak sebanding dengan mimpi dan cintanya. Aku kerap menangis di balik dinding persegi, bukan karena aku tidak mencintainya, tetapi caraku menyayanginya adalah dengan menyadari kenyataan.

Kamu tahu ironi? Aku hanya tahu dengan segalanya kita tidak bisa memiliki orang yang kita sayangi. Sejauh aku berpindah, ironi itu masih saja membuatku gundah. Mungkinkah terjadi? Sesuatu yang bertentangan secara prinsip dapat bersatu secara homogen.
Setiap sepi aku berkunjung ke laboratorium hati untuk mencoba zat-zat pengemulsi, tetapi sampai rasa putus asa itu datang, aku belum juga menemukan. Sejak itu pula aku berusaha tidak mencampurkannya kembali dan menutup percobaan yang tidak akan pernah bisa berhasil.

Pasti di matanya aku orang yang tidak berperasaan. Menelantarkan seseorang yang sedang berjuang untuk cintanya. Tidak acuh pada perhatian dan kepedulian yang dia berikan. Namun percayalah, Sayang, masa itu sudah kulalui dengan segalanya untukmu. Apa yang tidak? Semua yang kumiliki telah aku berikan. Andai kamu bisa menyadarinya, yang lebih merasakan sakit itu aku. Sesuatu yang kuyakini akan selamanya, ternyata harus berakhir karena restu orang tua. Andai kamu memaksaku untuk memberontak, lebih baik aku memilih tidak dilahirkan ke dunia ini.

Tempat ini juga yang terkadang memberikan rasa bahagia yang samar. Adakalanya aku pulang disambut dengan senyuman Oot yang menenangkan. Sering juga hinggap rasa cemburu harus melihat kemesraan mereka secara langsung. Sedang di sini hanya aku dan Ajai yang sendiri, sehingga teman-teman sering menjodohkan kami agar berpacaran saja. Hingga suatu ketika pada ulang tahun pacar Oot, kami semua ditraktir makan. Saat itu pula Ajai menawariku boncengan.

“Hai, Ala.”

“Hai, Ajai.”

“Kamu diundang ke acaranya Oot, ‘kan, La?”

“Iya, Jai.”

“Tahu tempatnya tidak?”

“Belum tahu sih.”

“Ya, sudah, datang bareng aku saja.”

“Boleh, tapi enggak merepotkan, ‘kan?”

“Enggaklah.”

Kupikir Ajai sengaja menungguku pulang. Tidak biasanya dia meluangkan waktu duduk sendirian di depan kamar. Namun, itu pemikiranku. Tidak menutup kemungkinan aku salah mengartikan.

Kuakhiri percakapan dengan pamit dan berjalan ke pintu kamar sambil senyum-senyum tanpa alasan. Tumben ini cowok berani memulai, kemarin-kemarin ke mana saja? Aku sengaja tidak memberikan banyak waktu untuk dia agar tidak tumbuh rasa yang berlebihan. Di dekatnya, aku berusaha bersikap wajar dan biasa-biasa saja.

Di lain sisi aku juga berusaha mempersiapkan hati. Menyembunyikan perasaan cemburu yang mengusik hatiku dengan memasang raut bahagia. Apalagi ini acara ulang tahun kekasih Oot. Sedikit pun, aku tidak ingin terlihat terluka karena perasaan cemburu ini. Setidaknya, itulah caraku membalas kebaikan yang pernah Oot berikan kepadaku.

Dinding kamar ini mengajariku berbagai cara menuju pintu keluar. Saat aku sudah menemukannya, risiko apa pun siap aku hadapi. Suara ketukan pintu membangunkan aku dari lamunan panjang dan kesendirian.

“La!” Suara seseorang memanggilku.

“Iya, sebentar.” Dengan terburu-buru aku membuka pintu kamar.

“Ada apa, Ot?”

“Maaf mengganggu, La.”

“Enggak apa-apa, Ot. Ada apa?”

“Kapan kamu ada waktu? Aku minta tolong ditemani beli kado dan kue.”

“Emm …. Aku menyesuaikan waktumu saja, Ot.”

“Oke. Nanti aku hubungi kamu ya, La.”

“Oke.”

“Ya, sudah, selamat istirahat. Maaf menganggu, besok aku kasih kabar, ya?”

“Oke.”

Aku menutup pintu kamar dan kembali rebahan di kasur. Belum juga aku siap membuka pintu itu, sudah harus dipaksa untuk menghadapi sesuatu yang belum aku persiapkan. Aku tidak tahu seperti apa raut wajahku saat ini. Antara kaget, syok, atau apa adanya. Ah! Aku tidak ingin berpikir lagi. Saat ini aku hanya ingin tidur.(*)