Sumber dok. probadi

Seorang laki-laki yang tidak begitu populer datang dalam pikiranku. Menjejal dengan banyak pertanyaan yang membuatku bebal. Selama hidup berapa kali kamu berpindah-pindah? Mungkin lebih mudahnya, dalam sehari berapa kali kamu berpindah? Jawaban yang paling mudah adalah banyak sekali. Lalu apa yang kamu dapat dari perpindahan itu? Tentu banyak juga.

Sayangnya, tidak banyak yang bisa dipetik. Seolah semuanya berlalu begitu saja. Sekiranya ada, hanyalah sebuah lembar dokumentasi biasa. Sehingga di bulan Ramandan ini, membuatku berpikir kembali. Membongkar sekaligus merestart aktifitas sehari-hari. Memang terkesan ribet dan bertele-tele, tetapi kalau hidup ini cuma sekali bukankah sangat ironis untuk disia-siakan.

Puasa di bulan Ramadan bisa sampai saat ini, karena adanya literatur yang jelas. Banyangkan, kalau informasi itu musnah dan sama sekali tidak ada rujukan yang bisa digunakan. Barangkali kita tidak akan pernah mengenal Agama Islam. Padahal, begitu sulitnya saat itu untuk bertukar informasi. Namun, mereka tetap berusaha menulisnya dengan sungguh-sungguh. Sedang yang sekarang begitu mudahnya mencari informasi, tetapi tidak menjadi apa-apa.

Hal itulah yang melahirkan konsepsi tentang LITELATOUR, menulis pengalaman perjalanan tidak hanya sebagai informasi, tetapi mempunyai nilai dan dampak positif. Bahkan, berdiam diri dengan berbagai pemikiran termasuk dalam perjalanan batin. Sayangkan, kalau hanya dibiarkan menguap begitu saja? Sayogyanya bisa kita abadikan ke dalam tulisan. Siapa tahu yang tadinya tidak penting suatu hari nanti menjadi berarti.

Dalam satu tempat saja bisa menghasilkan berbagai macam sudut pandang yang berbeda. Belum lagi dari orang yang berbeda, tentu akan semakin memperbanyak kekayaan pengetahuan. Hal ini bukanlah mengada-ada, cobalah kalian cari di Google dengan keyword ‘kotak amal’. Apa yang kalian temukan? Penjual kotak amal, pencurian kotak amal. Sulit sekali menemukan tulisan tentang, apa itu kotak amal? Kapan digunakan di Indonesia? Mengapa namanya kotak amal?

Sumber dok. pribadi

Padahal kalau kita lihat dalam gambar itu, sudah ada kotak yang berada di depan pintu. Dari hal sederhana inilah, apakah kalian tahu asal-muasal benda-benda yang ada di dalam rumah? Bagaimana perjalanan benda itu wujud dan bisa kita gunakan? Lihat saja buku The History of Java, yang merekam dengan detail keragaman dan keunikan tanah Jawa. Lalu kita yang hidup di tanah Jawa, sepertinya belum ada ketertarikan sama sekali. Untuk itu, ayolah mulai sedikit demi sedikit mengabadikan perjalanan hidup ini.

Lelaki itu menunjuk ke lampu bohlam yang tergantung tempat antara kami. Kemajuan penerangan saat ini, bisa jadi berawal dari penemuan api. Lalu perkembangan pola pikir manusia membawa penemuan-penemuan baru hingga sekarang. Untuk lebih memperjelas lagi. Lelaki itu menunjukkan Wayang Beber yang konon sudah ada sebelum Wayang Kulit. Itulah pertama kalinya aku melihat langsung bentuk Wayang Beber yang asli. Bahkan, sampai saat ini, aku belum pernah menyaksikan pertunjukan Wayang Beber sama sekali.

Pertanyaan lelaki itu pun tidak harus langsung dijawab. Aku sendiri baru berusaha memulainya. Setiap langkah berpijak pasti akan ada kejadian yang tidak bisa ditebak. Tinggal kita mampu atau tidak untuk merangkainya ke dalam kata-kata. Bukan mampu tapi mau. Karena aku yakin kalian semua bisa, hanya belum mau saja.

5 KOMENTAR

  1. Aku punya catatan, tapi yang kutulis termasuk Literatour apa enggak ya? Hmm baru ketika masuk ke dunia tulis menulis, sering nulis apa aja, nggak semua sih.

    Yang selalu kutulis itu, dengan siapa aja aku kenalan. Apa dampak positif yang mereka bawa untukku pribadi, sampai percakapan mendetail, apa yang kami gagas dan harapkan di masa depan.

    Tujuan awalnya, biar aku nggak lupa siapa aja yang mewarnai proses. 😆