Dokpri

 

Hai … Goodwriters …!

Hai, sahabat Penakata!

Hai, semuanya …!

 

Aku boleh kampanye di sini nggak sih? Ini tahun politik ‘kan ya?

Aku mau kampanye boleh dong!

Kalau nggak boleh, silakan dihapus saja postingan ini.

Soalnya, aku lagi pengen banget kampanye di sini. Tapi, bukan kampanye politik. Ini kampanye literasi. Hmm … walau sebenarnya politik juga bagian dari literasi. Tapi, kita singkirin dulu deh hal-hal yang berbau politik. Apalagi ini udah deket … (Tiiit…!)

Sabtu kemarin, taman baca yang aku buka pada 18 Februari 2018 lalu mendapat kunjungan dari perusahaan swasta yang memang lokasinya dekat dengan taman baca. Pertamina Hulu Sanga-Sanga mengunjungi taman baca untuk kedua kalinya. Hmm … dua kali atau tiga kali ya? Aku sampai lupa karena banyak kegiatan di taman baca.

Sebelumnya, pihak PHSS memang sudah mengunjungi taman baca. Awalnya Pak Efendi Zarkasi dan timnya yang datang berkunjung untuk bersilaturahmi. Beberapa hari kemudian, Bapak Hidayah dan timnya berkunjung ke taman baca untuk mengajak diskusi. Kemudian pada hari Sabtu, 16 Maret 2019 keduanya datang bersama dengan Yayasan Taman Kita Balikpapan. Hmm … artinya, PHSS sudah tiga kali mengunjungi taman baca untuk bersilaturahmi dan berdiskusi dengan kami.

Dari hasil diskusi, sudah jelas kalau taman baca akan mengalami banyak perubahan ke depannya di bawah binaan Pertamina secara langsung. Untuk itu, pihak PHSS sengaja membawa teman-teman literasi dari Yayasan Taman Kita untuk membantu menyusun program taman baca ke depannya. Kebetulan, teman-teman dari Yayasan Taman Kita sudah tidak asing lagi denganku. Aku sudah mengenal mereka dalam acara-acara literasi di Balikpapan.

Teman-teman dari Yayasan Taman Kita yang akan memasak semua program yang ada di taman baca. Mereka juga yang akan membantu kegiatan-kegiatan di taman baca ke depannya. Karena aku tahu, aku sendiri tidak akan sanggup mengorganisir semua kegiatan di taman baca dan juga di desa. Untuk mencari seseorang yang sesuai dengan pandangan kita memanglah tidak mudah. Terlebih lagi, menjadi pegiat literasi tidak mendapatkan gaji sepeser pun. Sehingga, tidak banyak yang berminat mengabdi kepada masyarakat. Mereka lebih baik mencari pekerjaan atau kegiatan yang menguntungkan secara finansial.

Sebelum mendpat dukungan CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan setempat, aku memang sudah menjalankan beberapa kegiatan di taman baca. Yang menjadi rutinitas saat ini adalah mengajak para ibu untuk berkreatifitas membuat kerajinan tangan setiap hari Kamis dan Minggu sore. Sementara, anak-anak remaja aku beri kegiatan berlatih kaligrafi setiap hari Rabu, Jum’at dan Minggu.

Yah, bisa dibayangin kalau ruangan taman baca sangat sempit dan butuh ruang tambahan untuk kegiatan-kegiatan mereka. Oleh karenanya, aku membangun lagi sebuah teras yang bisa dijadikan untuk tempat berkumpul dan berkreatifitas.

Semua biaya kegiatan masih menggunakan dana pribadi alias mandiri. Aku tidak pernah meminta sumbangan sepeser pun pada warga sekitar ketika aku membuat sebuah kegiatan. Kalau mereka berniat ingin menyumbang, datanglah ke taman baca tanpa aku harus meminta-minta. Karena aku membuka taman baca untuk umum, bisa diakses oleh siapa saja dan tujuan utamanya adalah membantu masyarakat menjadi lebih baik lagi. Kalau aku minta bantuan terus, yang ada malah masyarakat yang bantu aku, bukan aku yang bantu mereka. Padahal, niat awalnya adalah membantu masyarakat sekitar untuk suka membaca.

Literasi sendiri menjadi salah satu program penting pemerintah dan beberapa perusahaan. Karena, saat ini pemerintah dan masyarakat luas mulai sadar akan pentingnya literasi. Oleh karenanya, kami akan mencoba menerapkan 6 pola literasi dasar di taman baca kami ke depannya. Enam pola literasi dasar tersebut adalah Literasi Baca Tulis, Literasi Berhitung, Literasi Finansial, Literasi Digital, Literasi Sains dan Literasi Budaya & Kewargaan.

Menerapkan enam pola literasi dasar itu tidaklah mudah. Butuh proses yang panjang. Namun, pihak PHSS sudah mengupayakan agar keenam literasi tersebut bisa berjalan.

Setahun perjalanan taman baca dan dipilih oleh Pertamina untuk menjadi sebuah Kampung Literasi tentulah sebuah anugerah yang sangat besar bagi saya. Karena, belum tentu teman-teman literasi yang lain seberuntung saya. Ada yang sudah berjuang sampai belasan tahun baru bisa mendapatkan bantuan. Terlebih predikat Kampung Literasi bukanlah predikat yang ringan. Tentunya cukup berat karena ada banyak program yang harus dijalankan bersamaan.

Program ke depannya, taman baca akan menjadi pusat kegiatan berkreatifitas dan kegiatan-kegiatan lainnya. Alhamdulillah … taman baca saat ini menjadi tempat ngumpulnya anak-anak, remaja dan anak-anak muda. Tidak perlu heran kalau setiap hari selalu ramai, siang dan malam. Oleh karenanya, semua waktu dan pikiranku hampir habis untuk taman baca. Aku juga harus bisa membagi-bagi waktu untuk kegiatan-kegiatan di taman baca.

Taman baca yang nantinya akan menjadi Kampung Literasi, akan bersinergi dengan beberapa pihak pemerintahan atau pun swasta dalam memajukan literasi di Indonesia. Taman baca juga nantinya akan memiliki sub divisi atau komunitas-komunitas di dalamnya. Seperti yang sudah berjalan yakni Mamuja (Mama Muda Samboja) yang aktif berkreatifitas untuk mengisi waktu luang para Mama dengan kegiatan-kegiatan positif yang bisa memberikan manfaat ke depannya, baik nilai moral maupun nilai ekonomi.

Tepat setahun taman baca berdiri. Aku membuat perkumpulan ibu-ibu yang diberi nama Mamuja. Nama Mamuja sendiri adalah hasil diskusi dari ibu-ibu muda pertama kali pada tanggal 03 Februari 2019.

Ini adalah salah satu video kegiatan Mamuja : Dokumentasi Mamuja

Seiring dengan keaktifan ibu-ibu muda dalam membuat kreatifitas. Si anak-anak muda juga pengen bisa berkreatifitas. Aku juga sebenarnya sudah lama berdiskusi dengan mereka. Hanya saja aku belum menemukan penggerak yang tepat untuk mengumpulkan anak-anak mudanya. Tapi, tadi sore mereka sudah menyatakan kesiapannya kalau aku akan meluncurkan “SAKRAL” untuk mewadahi kreatifitas anak-anak muda di wilayah Samboja.

Sakral sendiri sebenarnya masih menjadi rahasia dan aku baru mengungkapkannya di sini, untuk sahabat Penakata. Sakral adalah akronim dari Samboja Kreatif Aliansi, yang insya Allah akan segera aku aktifkan saat anak-anak muda sudah benar-benar siap melaksanakan kegiatan rutin di taman baca. Karena selama ini masih menjadi wacana. Rencananya akan aku luncurkan saat Kampung Literasi Pertamina sudah resmi berdiri. Karena Sakral nantinya akan mengorganisir divisi seni yakni seni rupa, seni musik, seni tari dan teater. Aku sendiri sudah menggenggam nama-nama anak muda yang akan aku ajak untuk aktif di taman baca. Sebelumnya, aku sudah berdiskusi dengan mereka dan mereka siap kapan saja. Nunggu aku punya dana buat kegiatannya, hahaha…

Sudahlah … cukup sampai di sini saja cerita mini dari perjuangan saya mendirikan sebuah taman baca. Oh ya … sebelumnya aku juga mau ngucapin terima kasih buat kak Dan (Penakata) karena sudah mendonasikan buku-bukunya ke taman bacaku. Semoga bermanfaat.

Untuk melihat update kegiatan di taman baca, silakan follow instagram @tbm.bungakertas ya! Soalnya, zaman sekarang mah zaman semua hal kudu difoto dan divideoin supaya nggak dibilang hoax. Asli loh ini, taman baca aku bukan hoax. Kalau nggak percaya, langsung datang aja ke taman baca. Aku pasti seneng banget kalau ada yang bisa menyempatkan waktunya berkunjung ke taman baca.

Semoga kegiatan-kegiatan ini bermanfaat dan menginspirasi teman-teman. Keterbatasan bukan batasan kita untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Justru keterbatasan lah yang membuat kita bisa memaksimalkan diri kita untuk melampaui batas. Tetap semangat menjalani harimu, apa pun yang terjadi …

 

 

Salam Literasi,

 

 

Rin Muna,

East Borneo, 21 Maret 2019

24 KOMENTAR

  1. Kak Rin, My Mom. Kesibukanmu semakin bertambah pasti. 😔
    Tapi aku senang. Tetap syemangat ya 😘

    Untuk Mamuja bukan Pemikebuja syemangat juga 😘💕

    Aku nulis challenge-ku aja inget Mamuja terus. Wahahha. Ternyata sama nge-postnya. Hasyemm. 😄

    Kangen kita dulu, hiks. 😘 Semoga kalian dua gak sibuk terus dan bisa meluangkan waktu ngumpul lagi berempat yo.

    • Hehehe.. iyah.. aq kangen ngobrol ketawa ketiwi sampe berjam-jam.. kalo malam gak terlalu sibuk sih.. ngerjain ini itu juga nyambi.. bawa santai aja.. kerjaan di rumah sendiri gini mah bebas…
      Hehehe…
      Kayaknya semua mulai sibuk masing2 dengan dunianya… sampe gak tau mau ngobrolin apa lagi. Nggak ada bahannya.. wkwkkwk…
      Mamuja memang selalu mengingatkanku pada Muja.. pdahal itu nama bukan aq yang create loh.. temen2 dari Mamuja yang bikin itu.. emang ya.. sebenernya emak2 itu udah kreatif dari lahir.. cuma kdang nggak ada wadahnya aja buat nunjukin kreatifitasnya… hehehe

      Aq ada deretan buku yang bisa direview.. masih butuh gak buat Kacaku?
      Sorry baru balas.. jarang pegang hp supaya si anak nggak berkeinginan main hp juga.. hehehe