sumber: pixabay.com/jill111

Siapa suka makan makanan pedas?

Lidah Indonesia memang penyuka makanan pedas dan kaya bumbu. Makan kalau tidak pedas seperti ada yang kurang. Ibarat nasi tanpa sambal, sungguh terasa hambar.

Di sekitar kita pun penjual makanan pedas dapat kita temukan dengan mudah. Makanan apa pun dikasih cabai. Bahkan tingkat kepedasan makanan dibuat berlevel-level, supaya kita para pembeli lebih mudah menyesuaikan selera pedas dengan kemampuan kita.

Yang paling favorit adalah kalau hari sedang hujan. Enaknya makan mie instan, betul? Ditambah cabai yang banyak jadi makin ciamik. Angetanget pedes top markotop gemah ripah loh jinawi.

Eh tapi, buat kamu penyuka pedas, apalagi yang sampai berlevel-level hingga level ratusan cabai dibabat habis, hati-hati Guys. Ibarat game, semakin tinggi level, jangan sampai tiba-tiba game over.

Kasus nyata terjadi pada temannya temanku. Ia harus dioperasi karena mengalami radang usus. Penyebabnya, terlalu sering makan dengan tingkat pedas yang berlebihan.

Hal seperti ini memang tidak banyak terjadi. Namun, 2018 lalu kasus serupa juga terjadi di Edinburgh pada acara perlombaan makan pedas. Seperti dilansir dari okezone.com, dilaporkan bahwa beberapa peserta dilarikan ke rumah sakit karena perutnya mulas, ulu hati sensasinya terbakar, sakit kepala berat dan lainnya.

Rasa pedas memang bikin lidah panas membara. Seperti halnya naik roller coaster, inilah sensasi yang disukai orang-orang. Ya, sensasi rasa panas yang menjalar di seluruh bagian lidah. Soalnya lidah tidak punya reseptor rasa pedas. Adanya manis, asin, pahit, dan asam.

Nah, kalau ditanya orang, “Reseptor rasa pedas di lidah terdapat di bagian mana?” Jawab saja, “Di hati.” Iya, soalnya dengar omongan orang-orang di luar sana yang tak enak tentang diri kita. Hmm.

Bercanda.

Para peneliti juga menemukan bahwa orang yang sering makan pedas, akan cenderung lebih kebal menahan kepedasan. Reseptor tubuh kita sudah menyesuaikan diri dengan sensasi terbakar.

Omong-omong, Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada alasan dan manfaatnya di dunia ini. Cabai pun begitu. Alih-alih buat pedes doang, cabai mengandung vitamin C yang tinggi, lho. Kalau sariawan, tempelkan saja cabai ke luka sariawannya. Dijamin, nangis!

Selain itu cabai juga tinggi kalium, asam folat, fosfor, vitamin A, dan vitamin serta mineral lainnya. Membosankan banget kalau kusebutkan semuanya. Yang pasti, semua zat gizi tersebut amat baik bagi tubuh kita.

Nah, yang menyebabkan cabai memiliki sensasi pedas adalah capsaicin. Capsaicin terdapat di macam-macam makanan pedas seperti cabai dan lada. Capsaicin ini kontroversial sekali. Di satu sisi, capsaicin pada makanan pedas berpotensi untuk mencegah kanker, penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.

Perlu dicatat. Meski cabai bermanfaat dalam mencegah penyakit-penyakit tersebut, namun ia bukan obat. Supaya tubuh tetap sehat, ya harus gizi seimbang makanannya. Manfaat-manfaat tersebut dapat kita rasakan apabila konsumsinya tidak berlebihan. Cukup.

Lalu,  masih soal capsaicin, di sisi lain ia dapat menyebabkan peradangan jaringan sehingga mukosa lambung atau usus mungkin rusak karena makan cabai dengan porsi yang cukup besar. Bahkan lebih parahnya lagi, capsaicin dapat memicu kanker.

Menurut penelitian meta analisis Chen tahun 2017, semakin tinggi level makanan pedas yang kita konsumsi, dapat memicu terjadinya berbagai jenis kanker. Biasanya kanker yang terjadi adalah kanker lambung. Nah, tadi usus, sekarang lambung. Ngeriii!

Penelitian tersebut mengkaji 28 penelitian tentang hubungan cabai dengan risiko kanker. Sembilan belas artikel menemukan bahwa mengonsumsi cabai dapat memicu kanker dibandingkan dengan tidak mengonsumsi cabai. Sementara itu, 9 artikel lain menemukan bahwa mengonsumsi cabai multilevel lebih memicu kanker.

Lalu, kita harus bagaimana?

Belum ada penelitian yang menemukan dosis aman bagi kita untuk mengonsumsi cabai. Namun, asal cukup dan tidak berlebihan, tidak masalah. Tinggal lihat saja kondisi tubuh kita. Jika tidak kuat, tidak usah dipaksakan demi gengsi dan ingin dibilang keren!

Referensi: 1, 2

4 KOMENTAR

  1. Aku enggak suka makanan pedas. Enggak suka sensasi pedas yang ditimbulkan makanan itu pula. Masalahnya, kalau makan pedas sedikit saja tenggorokan rasanya sakit dan kayak enggak bisa napas. Wkwkwk. Telinga rasanya jadi tuli deh kalau makan pedas, terutama cengek.😑😯

  2. Kak Ibbon: iya dong kak, soalnya puasa. Batal kalo makan. Hiyaaa hiyaaa 🙈🏃

    Kak Yuke: wah wah, kak yuke yg setrongny luar biasa ternyata ga suka pedes. Hihi

    Kak Ana: serius Kak sampai kaya gitu? 😱 Ah tapi, bagi orang yang tidak suka pedes, bersyukurlah, aman dari segala risiko2 radang2 wkwk