Sumber gambar: http://www.cuded.com

Aku memang tidak memilih terlahir dengan rentetan penyakit yang menggerogoti tubuh ini. Aku bahkan memiliki sedikit keinginan untuk marah kepada Sang Pencipta, tapi aku tidak bisa melakukan itu karena aku hanyalah seorang hamba. Aku hanya bisa menjalani suratan hidupku walau terkadang air mata jatuh tanpa aku sadar.

Namaku Vita, aku terlahir sebagai bayi yang sangat lemah hingga alat-alat di rumah sakit menempel di tubuh ini agar aku dapat bertahan hidup. Sejak bayi orangtuaku sudah berserah kepada Tuhan jika Dia mau mengambilku kapan pun Dia mau. Tetapi sesungguhnya ini bukan waktuku untuk kembali kepada Sang Pencipta, karena masih banyak tugas yang harus kulakukan di dunia ini.

Saat usiaku 23 tahun, Tuhan lebih dulu memanggil Ibuku untuk kembali ke rumah-Nya, tidak disangka memang, mengingat aku yang sejak lahir sudah bersahabat dengan obat-obatan dokter. Tapi lagi-lagi ini adalah sebuah suratan.

Setelah Ibuku meninggal, berbagai macam penyakit baru menggerogoti tumbuh ini. Bahkan aku hampir kehilangan nyawaku karena aku tak tahan akan rasa sakit ini. Hingga akhirnya Tuhan mengirimkan gadis cantik dan baik hati untuk menolongku dari masa kritisku. Namanya Grace, dia menolongku hanya karena iba terhadap aku yang pesakitan dan harus berjuang tanpa Ibu. Walau sekarang kami sudah tidak berkomunikasi lagi karena Ibu dari Grace yang melarangnya bergaul dengan gadis sepertiku, aku tetap membisikan namanya dalam doaku.

Cukup setahun penyakit liver ditubuhku hilang berkat Tuhan yang memakai Grace sebagai alat-Nya. Tapi tidak berhenti disitu, setahun setelah kesembuhanku Tuhan menitipkan satu penyakit lain bernama Rheumatoid Arthritis, yaitu salah satu jenis autoimun rematik yang menyerang sendi-sendi dalam tubuhku. Walau pun sakit aku tetap berjuang melakukan aktifitasku secara normal walau jauh dari kata normal.

Satu tahun lebih aku berjuang untuk mencapai remisi, hingga aku merelakan pekerjaanku demi fokus akan kesehatanku. Setelah masa remisi itu datang dan dokter mengizinkanku untuk kembali bekerja, aku mendapatkan pekerjaan baru di tempatku saat ini bekerja. Beberapa kali telat karena harus ke rumah sakit untuk control, dan sesekali sakit membuat atasanku melontarkan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan oleh manusia yang punya hati, “Data Service tidak boleh sakit!” kata-kata itu keluar karena aku yang saat itu baru 1 kali sakit setelah 6 bulan bekerja. Dan masih banyak makian-makian yang aku terima karena aku sakit. Aku hanya bisa menangis, dan bersyukur karena atasanku tidak pernah sakit parah yang harus mengkonsumsi obat selama bertahun-tahun.

Kupikir hanya aku yang mendapatkan makian-makian seperti itu, hingga saat temanku yang sedang hamil pun mendapat makian yang tidak kalah mencekik hanya karena adanya pewangi ruangan di toilet karena sensitifitas wanita hamil yang sangat tinggi. “What’s wrong with her? Does she has a heart?” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku. Kejam memang, tidak hanya aku yang pesakitan, wanita hamil pun ia maki. Sakit jiwa, bukan? Atau apakah itu hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang atasan tanpa memikirkan perasaan dan segi kemanusiaan.

Bahkan selain makian, gajiku pun dipotong satu hari penuh walau aku melampirkan surat dokter saat sakit maupun telat. Saat aku meminta penjelasan kepada HRD, mereka hanya bilang itu adalah instruksi dari atasanku. Jadi tidak ada salahnya aku bilang kalau dia manusia paling kejam. Aku hanya berharap dia selalu sehat dan tidak mengalami apa yang aku dan temanku alami.

8 KOMENTAR