sumber: pixabay.com/StartupStockPhotos

Hai goodwriters, apa kabar? Duh, rindu bersua dengan kawan-kawan yang super kreatif. Hehe. Lama tidak menulis, rasanya seperti menelantarkan Penakata. Padahal sesungguhnya menelantarkan kreativitas diri sendiri yang lama tidak diasah.

Ah baiklah, aku di sini ingin sharing dan bercerita. Mengapa? Karena cerita di sini abadi, aman, dan bermanfaat. Bahkan, curhat saja bisa jadi bermanfaat. Daripada curhat ke teman yang ternyata mukanya banyak, bukan?

Ngobrol santai saja, yuk! Iya santai, sambil ngopi juga boleh. Namun, awas deg-degan! Kalau aku sih tidak tahu ya lebih deg-degan minum kopi atau bertemu doi. Eh.

Gerbang pembuka

Well, baru saja berkiprah di dunia tulis-menulis rupanya banyak sekali cerita yang sebenarnya bisa menjadi bahan tulisan beribu-ribu kata. Berawal dari temannya teman yang tahu aku hobi menulis, tergeraklah hatinya untuk membeli tulisanku. Hei, membeli! Itu artinya, aku menulis lalu dikasih bayaran. Waaah!

Temannya temanku – sebut saja Mawar – memiliki website yang baru dia kembangkan untuk berbisnis. Ah, aku tidak sepaham itu mengetahui bisnis melalui website, jadi tidak usah kuceritakan, ya? Intinya, dia meminta tolong padaku untuk menuliskan beberapa konten yang ia butuhkan untuk pemasaran. Iya, dia minta tolong tapi mau membayar. Pamrih ya aku?

Terserah deh teman-teman menganggap intensiku apa, yang pasti dia hanya berpikir bahwa sebuah karya yang dibuat dengan menguras pikiran dan tenaga, layak diberi imbalan setimpal. Uang, salah satunya. Ya mana bisa kutolak? Wong minta juga tidak! Hehe.

Si Mawar ini percaya saja dengan tulisanku, entah karena dia temannya temanku, atau memang sudah mendesak membutuhkan jasaku. Yang pasti, Mawar adalah gerbang pembuka rezeki yang Tuhan ciptakan.

Setelah Mawar, rupanya ada lagi orang yang membutuhkan jasa ketik alias menulis konten dariku. Perasaanku campur aduk waktu itu. Antara senang, takut, tidak percaya diri, dan juga ragu. Ya bagaimana? Kalau Si Mawar tadi memang akadnya minta tolong, jadi yang kupikirkan bukan lagi menjual karya. Namun kali ini, berbeda.

Sebentar, minum dulu. Serak nih, hawa pegunungan membuat virus-virus flu mudah memasuki tubuhku.

Sebut saja Melati. Melati adalah orang yang tertarik ‘membeli’ tulisanku selain Mawar. Padahal, kenal saja tidak. Pernah baca tulisanku juga tidak.

“Boleh saya lihat tulisan-tulisan Mbaknya?” tanya Melati waktu awal-awal ingin ‘meminta tolong’ padaku. Duh, aku lebih senang menyebutnya meminta tolong. Sebab, kata ‘membeli’ terdengar seperti transaksi membeli cabai di pasar. Eh.

Lagi-lagi, Tuhan membuat skenario itu memang jauh di luar jangkauan kita. Tidak disangka-sangka, kita pasti akan memanen apa yang kita tanam. Bahkan meski cuma menanam setangkai tulang daun bawang yang sayang untuk dibuang.

Yang kulakukan untuk menunjukkan tulisan-tulisan ke Mbak Melati adalah memberi link profilku di Penakata. Yak, meski belum bisa konsisten menulis, setidaknya karya-karya yang terkumpul di Penakata bisa menjadi jalan pembuka rezeki.

“Saya suka gaya tulisan Mbaknya, tapi apakah Mbak bisa menulis tema lain? Saya percaya Mbaknya bisa,” kata Mbak Melati setelah itu. Heran, belum apa-apa kok sudah percaya. Nanti kalau aku tiba-tiba menghilang, ‘kan dia bisa patah hati. Ups!

Kujawab saja dengan tidak percaya diri dan klemerklemer seperti gorengan kemarin sore, “Boleh Mbak kalau dicoba, nanti Mbaknya silakan memutuskan apakah suka tulisan saya atau tidak.”

Mbak Melati lantas memberiku satu judul untuk kutulis dalam 1000 kata. Begitu kuberikan hasil tulisanku hari berikutnya, beliau menyatakan suka dan akan continue berlangganan ‘meminta tolong’ padaku. Tuhan memang baik banget, bahkan pada orang sepertiku.

Penakata juga baik banget, padahal masih bayi dan baru belajar tengkurap. Namun sudah berkontribusi besar pada hidupku. Lebay bahasanya! Kadang, meski masih berkembang, kalau bisa memberikan manfaat, lebih keren daripada yang sudah profesional tapi isinya cuma cari keuntungan, bukan? Kabur ah.

Penakata ini selain menjadi wadah curhat berfaedah, wadah mengeluarkan unek-unek, dan wadah bercerita, juga berfungsi sebagai media pembangun portofolio. Anggap saja begini, misal aku desainer grafis, portofolioku memakai Behance. Kalau aku model, protofolioku memakai Instagram. Namun, jika aku mau membuat portofolio tulisan, Penakata bisa!

Yaps, Penakata bisa jadi media marketing tulisan-tulisan kita lho. Betul, marketing. Bukan cuma cabai, karya juga butuh marketing kali! Era digital gitu loh! Jasa-jasa pembuat tulisan, desain, video, web designer, pokoknya yang kreatif-kreatif begituan sedang banyak dibutuhkan.

Omong-omong, aku bukannya ngalem Penakata, tapi hanya berterima kasih. Coba kalau Tuhan tak menciptakan ide ke Kak Textratis, mana ada Penakata? Coba saja kalau Tuhan tidak menciptakan teman-teman goodwriters, inspirasi menulis untuk membangun unplanned portfolio mana ada?

Suka dan duka yang selalu berdampingan

Sudah hampir 2 bulan Mbak Melati berlangganan tulisanku. Jangan disangka bahwa yang kujalani lempeng begitu-begitu saja. Nulis, selesai, diserahkan, nulis lagi, begitu terus sampai negara api tidak kunjung menyerang.

Tidak!

Sek, minum dulu.

Kadang, demi menjadi pribadi yang baik – wetsehhh! – aku juga harus dimarahi Mbak Melati karena terlambat mengirim tulisan atau karya yang kutulis nyeleneh dari apa yang beliau minta sehingga harus berkali-kali revisi. Bahkan tidak jarang juga aku diingatkan untuk lebih responsif membalas pesan penting.

Namun, bagiku ‘suka’-nya lebih banyak daripada ‘duka’. Kadang, kalau harus menulis tema yang aku belum pernah tahu dan harus menguras pikiran, hal itu jadi sarana untuk belajar. Belajarnya seru lagi, tidak sebosan duduk mengantuk memakan bangku kuliah. Iya, aku tidak doyan bangku kuliah, sebab doyannya nasi. Hehe.

Jadi, kalau teman-teman hobi menulis, Penakata ini siap menampung. Asal tulisannya diberi gambar dengan tepat, pasti dipost kok. Coba saja kalau tidak percaya.

Kalau bingung memulai, cerita saja dulu. Apa pun!

Cukup sekian. Silakan habiskan kopinya!

Temanggung, 8 Agustus 2019

2 KOMENTAR