Dunia tidak membutuhkan Martir tetapi pemimpin — potongan percakapan dalam serial TV Iron Fist besutan Marvel.

Yang ideal terbentuk. Ia masuk ke dalam pikiran setiap orang. Berdamai dengan orang itu. Namun ia tak akan pernah sama satu sama lain.

Ia yang berdamai dengan yang ideal tak cukup hanya sendiri. Harus ada orang lain yang sama dengan orang yang berdamai dengan yang ideal. Sebagaimana Adam yang meminta teman berjuang dan diberi teman berjuang bernama Hawa.

Ruang berpendapat memang telah terbuka luas. Orang bisa melakukan diskusi – diskusi tentang banyak hal. Lebih jauh sampai kepada beradu tentang yang ideal.

Selama ia tidak lupa bahwa orang lahir untuk menjadi dirinya, bukan yang lain, siapa pun saja boleh menemukan yang ideal menurutnya, tak akan terjadi masalah.

Sebagaimana kemesraan Abu Nawas dan Harun Ar – Rasyid. Ketika Harun Ar – Rasyid menyuruh Abu Nawas menghitung berapa jumlah bintang di langit Abu Nawas dengan santai membawa kambing dan bilang kepada sang raja, jumlah bintang itu sama dengan jumlah bulu kambing itu.

Tak ada dendam. Ada kisah semacam itu yang cukup banyak.

Perhubungan semacam Abu Nawas dan Harun Ar – Rasyid yang asyik agaknya kini cukup sulit ditemukan.

Davos, sebagai teman seperjuangan bocah Rand yang tersesat di Kun Lun dan akhirnya menjadi Iron Fist, punya versi yang idealnya sendiri. Sendiri tak cukup, orang lain harus berdamai dengan yang ideal versinya.

Baginya hanya ada satu cara, menjadi Izrail dan mencabut nyawa siapa saja yang tak berdamai dengan yang ideal menurutnya. Ia mencuri Fist dari bocah Rand dan mengaku sebagai The Immortal Iron Fist. Ia kumpulkan pasukan untuk mewujudkan yang ideal menurutnya.

Sejarah tak pernah berpihak kepada martir. Oleh si pengarang cerita, Davos tak dibuat
menang. Bocah Rand tetap menjadi penentu walaupun pada akhirnya Fist diberikan kepada Colleen, pacarnya, seorang keturunan Iron Fist perempuan pada masa lampau.

Jumlah Davos, tidak sedikit. Ada yang sadar tak ada Naga di dalam tubuhnya yang memberikan kepalan tangan ajaib serupa Iron Fist. Maka, kepalah tangan itu diganti bom, mengahancurkan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Ada juga yang menggantinya dengan fatwa. Ada juga yang menggantinya dengan hukum. Digunakan untuk mencari kebocoran dari mulut orang. Dengan kebocoran itu dia bisa menyerang yang ideal hasil kedaulatan orang lain dan menarik orang lain untuk meyakini yang ideal menurutnya.

Dalam sebuah rapat dusun yang membahas tentang acara merti dusun saya pernah mengusulkan, “Sekali – kali jangan menggelar pertunjukan wayang, diganti sarasehan budaya supaya generasi muda mengerti tentang tradisi merti dusun.” Tidak terlalu lama, ada orang yang mengutarakan responnya, “Tidak setuju, itu namanya berusaha menghilangkan adat dusun yang sudah lama dilaksanakan.” Saya diam, agaknya dalam posisi ini saya dianggap semacam Davos.

Namun, saya jadi sadar, saya sebagai orang dusun yang lahir belum terlalu lama mempunyai kriteria berbeda tentang yang ideal dengan orang dusun lama.

Kehidupan berjalan dengan sebagaimana mestinya agaknya bukan karena pemaksaan – pemaksaan yang ideal menurut kita kepada orang lain, atau kelompok lain. Tetapi tetap menjalankan yang ideal menurut kita dan tak perlu memaksa orang lain untuk menjalankan yang ideal menurut kita.

Lalu, bagaimana dengan para Nabi, bukankah mereka juga memaksakan yang ideal kepada orang lain ?

Sebelum kita berikan stigma memaksa kita lihat, di Makkah, apakah Nabi Muhammad memaksa orang Makkah untuk mengikuti ajaran Islam ? Tentu tidak, Nabi Muhammad hanya memberikan penawaran – penawaran kepada penduduk Makkah. Tanpa pedang. Kalau pun ada peperangan, itu karena memang orang islam terancam nyawanya, kalau tidak berperang mati. Apakah Nabi Muhammad memaksa seluruh penduduk Madinah mengikuti ajaran Islam ? Tentu tidak, di Madinah ada kaum Yahudi yang tetap dengan keyakinannya.

Begitu juga Nabi – Nabi yang lain sebelum beliau, dari Nabi Adam sampai Nabi Isa. Mereka bukan martir. Mereka hanya menawarkan nilai – nilai baru, yang ideal. Karena nilai – nilai lama sudah terlampau jauh memerosokkan manusia kepada kehancuran – kehancuran.

Davos, memang merasa bahwa dirinya serupa Nabi. Ia mengejawantahkannya dengan menjadi martir. Alih – alih merubah apapun, merusak kemanusiaan.

6 KOMENTAR