Haii temen-temen penulis, penulis cerpen, esai, artikel, novel, atau naskah non-fiksi. Siapa yang punya cita-cita punya buku terbit? Hmm pasti ada dong ya, banyak yang bermimpi bisa meluk buku fisik karya sendiri. Eh tapi, kamu bingung mau nerbitin buku lewat jalur apa dan gimana sistemnya?

Udah tahu belum beberapa pilihan penerbitan buku yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan dan kemungkinan? Kalau belum tahu, sini aku bisikin. Berikut ini bakal kucantumin pengertian, kelebihan dan kekurangan tiap pilihan untuk menerbitkan buku.

1. Penerbit Mayor
Namanya aja Mayor, penerbit ini punya pasar besar dan distribusinya mencakup seluruh wilayah Indonesia. Gimana sih terbit Mayor itu:
a. Gratis asal lolos seleksi
b. Biasanya ada DP royalti di awal. Sebagai tanda jadi bahwa naskahmu akan terbit meski masa tunggu agak lama.
c. Ada masa tunggu setelah TTD kontrak. Karena penerbit ini biasanya udah punya plan buku apa dan berapa jumlah terbit perbulan. Jadi, anggap saja naskahmu nunggu antrean.
d. Enaknya lagi semua dibantu oleh pihak penerbit, kamu tinggal revisi sesuai arahan editor. Cover, layout, ISBN, udah jadi tanggung jawab penerbit. Kecuali kamu punya permintaan khusus atau punya usulan desain sendiri.
e. Bukumu akan dipasarkan secara online dan offline. Biasanya ada versi digital atau e-book.

2. Semi Mayor
Penerbit Semi Mayor ini, ada juga yang menyebutnya Indie Mayor. Kenapa bisa gitu, karena meski belum sebesar skala Mayor, penerbit ini sudah punya pasar sendiri dan mereka berani cetak di atas 1000 eksemplar di cetakan pertama. Sistem terbitnya nggak beda jauh dari penerbit Mayor.
a. Gratis asal lolos seleksi
b. Ada pemberian DP setelah tanda tangan kontrak.
c. Buku kamu akan dipasarkan secara online, namun ketika penjualan lebih dari 1000 eksemplar terpenuhi, bukumu juga bisa mejeng di toko buku offline.
d. Semua proses dibantu penerbit, kamu fokus revisian aja biasanya. Atau kalau punya opsi desain bisa dibicarakan.
e. Biasanya tidak ada e-book.

3. Indie
Sekarang banyak sekali penerbit Indie bermunculan. Hal ini memudahkan penulis yang ingin menerbitkan bukunya, tapi jangan gegabah memilih penerbit Indie. Kenali dan tanyakan dulu bagaimana pengalaman penulis yang sudah pernah terbit di penerbit Indie incaranmu.
a. Indie biasanya punya dua jalur terbit, secara gratis atau berbayar. Ada paket penerbitan yang bisa dipilih oleh penulis. Berbayar artinya tanpa seleksi, jumlah yang harus dibayar tergantung paket yang dipilih, ada jasa editing dan layout, editing+layout+cover, ada yang editing saja.
Penerbit indie juga kadang mengadakan seleksi naskah. Kalau lolos, akan dicetak gratis.
b. Hanya tanda tangan kontrak saja, tanpa ada DP.
c. Kadang tersedia versi e-book, ada juga yang tidak.
d. Penjualan hanya via online dengan sistem PO (Purchase Order)
e. Buku hanya dijual di sosmed penerbit atau toko buku online yang sudah bekerja sama dengan penerbit.

4. Self Publish
Kalau kamu penulis tangguh, bisa coba nerbitin buku dengan Self Publish. Artinya, semua kamu usahakan sendiri. Syaratnya kamu cuma perlu modal, karena jasa editing, cover dan layout kamu usahakan sendiri. Termasuk mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama.

Oke deh, buat kamu yang mau nerbitin buku. Jangan sampai salah pilih ya, pastikan penerbit incaran kamu sesuai dengan kebutuhan. Yang pengen bukunya terbit Mayor, tetep semangat dan pantang menyerah, soalnya lolos seleksi Mayor butuh perjuangan berat karena jumlah saingan yang tidak sedikit. Ganbateee.

3 KOMENTAR