Sumber gambar pixabay.com/qimono

Urusan memilih-milih memanglah relatif. Bisa jadi mudah bisa juga susahnya minta ampun. Apalagi kalau sudah berhubungan sama emak-emak. Wuih, negosiasinya sudah mengalahkan pengacara kelas dunia. Urusan beli cabai, bisa muteri semua pedagang di pasar. Hanya untuk mencari harga yang paling murah. Meskipun hanya selisih 100 rupiah. Bagi mereka itu uang dan uang itu berharga.

Kalian juga pernah mengalami bukan? Sekedar ke mall beli baju tapi bingung menentukan pilihan. Ini bagus, itu juga bagus. Aku mau ini tapi yang itu juga mau. Padahal uang di dompet tidak cukup. Akhirnya gigit jari dan pulang dengan tangan kosong. Kacian deh, ati karep bondo cupet dadine mumet.

Apalagi untuk urusan memilih pasangan hidup. Sudah yakin menentukan pilihan. Eh, ternyata dia tidak memilih kamu. Tapi percayalah jodoh itu pasti ada. Tinggal kalian mau menerima atau tidak. Karena yang jadi masalah bukanlah ada atau tidak tapi mau atau tidak. Pilih- pilih bolehlah asal tahu diri. Karena jodoh adalah cerminan diri bukan orang lain.

Anehnya memilih pemimpin negara tidak seribet itu. Tidak sesulit memilih jawaban multipleΒ choice A, B, C, D atau E saat sekolah. Sangking sulitnya sampai pakai teori hitung kancing baju.Β  Yang tertawa ini pasti pernah melakukannya ya? Soalnya, teori ini abadi dan turun temurun sampai sekarang.

Lebih sulit lagi menentukan mau makan di mana? Bisa sampai muter berjam-jam. Bahkan sampai marah-marahan sama pacar. Hanya karena debat kusir mau makan. Padahal orang-orang banting tulang, keringat sejagung-jagung untuk makan. Ada orang sudah punya uang tinggal makan saja bingung. Aneh! Aku rasa Good Writers tidak ada yang seperti ini?

Tapi urusan ikut menetukan arah dan masa depan negara serasa sangat mudah. Kita tidak mau dibuat pusing tujuh keliling. Padahal kalibernya adalah lingkup negara. Masyak iya lebih penting urusan makan dibanding urusan pemerintahan? Sepertinya ada yang tidak beres dalam cara nalar kita. Apa mungkin kita yang terlalu egois dan apatis? Jawabannya tentu ada di hati kecil kalian masing-masing.

Memang memilih itu bisa jadi mudah dan bisa jadi sulit. Tergantung dari individunya berani atau tidak untuk mengambil keputusan. Dan semua itu butuh pertimbangan sesuai dengan porsinya masing-masing. Bukannya urusan mudah malah dibuat sulit. Sedang urusan besar malah dianggap enteng dan cenderung menyepelekan.

15 KOMENTAR

  1. Wiih udah mulai upgrade lagi nih. Tulisannya udah lebih baik dari yang kemarin. Tetapi, menurutku ini masih belum tuntas. Harusnya poin yang berkaitan dengan judul bisa dijabarkan lagi, dikupas lagi. Namun, di tulisan ini, Kak Textra belum keluar semua jurusnya. Irisannya belum tajam dan esai ini baru kulitnya saja.

    Koreksi tata bahasanya, Good Writers kenapa nggak Italic? Ada huruf ‘n’ dikorupsi. Jangan biasakan ‘dan’ ditaruh awal kalimat, itu nggak boleh.

    Piss Kak, komenku jadi panjang kek kereta api. 😊

  2. Karena memilih harga sayuran murah di pasar adalah seni Kak. Sekaligus berinteraksi dan membangun silaturahim dengan para pedagang di pasar. πŸƒ

    Ya gitu kalo emak-emak dan embah-embah. Lebih penting mikirin hari ini anaknya dikasih makan apa, daripada mikirin milih siapa di pilpres nanti.

    Eh, ampun Kak πŸƒπŸƒπŸ™Š

  3. πŸ€•πŸ€’πŸ˜· Kalau Abang tanya Abang sudah ”sembuh” tidak, aku bilang Abang masih demam deh. Wkwkwkk. Abang susah sekali mengingat hal kecil yang kerap aku bicarakan atau protes. Abang selalu mengulangi hal yang sama. Duh, Abang perlu makan dan mengonsumsi obat untuk daya ingat deh. Googling deh, Bang makanan apa saja. Masalahnya, kita suka menulis sehingga kita membutuhkan otak kita dan daya ingat yang lumayan baik juga agar bisa menulis dengan lancar #selfreminder untukku juga, Bang.πŸ™„

    Oya, untuk kosakata yang sudah ada di kamus enggak perlu juga Abang bikin italic. Huh, Abang suka bikin aku emosi saja. Bikin aku naik darah dan nangis guling-guling di pojokan. Namun, tulisan Abang kali ini lebih mengalir daripada yang lalu. Yang lalu itu, banyak kalimat belum selesai sudah Abang kasih titik. Bikin keningku berlipat saja saat bacanya. Huuuuuaaaaa … selain menyebalkan, Dasamuka juga menjengkelkan. Plus keras kepalanya juga bikin ngelus dada dan tepuk jidat. Pantas Abang bikin Emakmu kesal dan selalu ingin menjewer telingamu, Bang. πŸ˜’πŸ˜ 

    Bang, lain kali menulis “deh” jangan pakai “c”, ya? Mengganggu mataku saja. Kalimat terakhir itu juga fatal banget, Bang. Kata “bukan” harus Abang hilangkan. Abang baca deh dengan teliti, nanti Abang tahu, mengerti, dan sadar. Huh!😟😎😏

    Oya, judulnya enggak perlu juga pakai tanda tanya. Itu bukan kalimat tanya, Babang Dasamuka. Duh, pagi ini bawaannya pengen nyolot saja nih. Huuuuuaaaaa … aku butuh satu liter ice cream rasa cokelat! Hiks hiks hiks. Kotaku cerah, tetapi perasaanku mendung. 😭😭😭

  4. Kalau ujian belajar donk masa hitung kancing baju wkwkk. Nggak usah dibikin ribet apalagi memilih pemimpin negara kita. Yakinkan saja kalau dia mampu memimpin negara kita jadi lebih baik. Nanti juga ada banyak program/kebijakan yang keluar dan yang terpenting terealisasi atau tidak. Karena kita butuh wujud nyata bukan janji 😁. Jangan Golput juga generasi millenial wkwkk.