Seakan kejadian itu tak membuat kami bertiga jera, terlebih aku. Aku yang sudah kerap mencuri di warung ibuku dan ketahuan oleh ibuku, tak membuatku menjadi kapok. Bukan karena tak ada hukumannya. Ibu selalu menghukum aku saat aku kedapatan mencuri di warungnya.

Pernah suatu ketika aku buat ulah yang membuat ibuku kalang kabut dan aku menerima hukuman yang berat.

Ibuku juga sering bikin jajanan sesuai pesanan ibu-ibu tetangga yang sedang punya hajat. Waktu itu ibu bikin kue pastel. Sebenarnya aku tidak tahu kue tersebut untuk apa. Aku hanya melihat ada banyak kue pastel tergeletak di meja makan. Tanpa pikir panjang, aku comot satu. Rasanya begitu enak, di dalamnya selain sayuran, terdapat daging ayam yang diiris kecil-kecil. Berhubung aku suka ayam, timbul nafsu makan yang tinggi.

Di samping tampah ada kresek, tanpa pikir panjang, aku masukan kue pastel tersebut hingga hampir penuh. Lalu aku pergi tanpa dosa menemui kedua temanku.

“Apa itu, Tri?” tanya Kancil.

“Iya, apa itu?” lanjut Kodok.

“Pastel” jawabku.

“Minta, dong!” ucap Kancil.

“Aku juga!” lanjut Kodok.

Aku sodorkan kresek tersebut dan membiarkan mereka mengambil sesuka hati mereka.

Kami memang seperti itu, setiap salah satu dari kami memiliki makanan, selalu kami bagi-bagi.

“Hmm, enak, Tri!” ucap Kancil dengan mulut masih mengunyah kue tersebut.

Kulihat di mulut Kodok tersimpan banyak potongan kue dari yang dia gigit hingga tak memberi ruang untuk bicara. Maka dari itu dia hanya mangguk-mangguk saja untuk memberi persetujuan bahwa benar apa yang dikatakan Kancil.

Entah berapa yang sudah kami makan hingga membuat kami bertiga kekenyangan.

“Sudah mau magrib, aku pulang dulu ya. Soalnya habis magrib juga ada pengajian di rumahku.” Ucap Kodok.

Akhirnya kami bertiga pulang ke rumah masing-masing.

Aku pulang dengan hati senang. Dalam pikiranku, setelah itu bisa makan pastel lagi. Namun kenyataan memang selalu tak seindah harapan. Berharap bisa makan pastel lagi, malah jeweran yang aku dapatkan dari ibuku.

Ternyata pastel yang aku ambil itu adalah pesanan dari ibunya Kodok. Aku kena marah karena pastel tadi sudah pas hitungannya. Karena aku makan jadi berkurang 20 biji, kata Ibuku.

Ibu pun kena protes oleh Ibunya Kodok karena tak sesuai perjanjian awal. Oleh sebab itu Ibuku begitu marah. Bahkan selain jeweran, aku dihukum tak diberi uang jajan selama seminggu.

Benar sekali kata pepatah, masa depanmu terlahir dari masa lalumu. Aku pun tumbuh menjadi orang yang kerap mencuri. Jelas ini karena aku telah terbiasa mencuri meski dari yang kecil-kecil. Hingga beranjak dewasa, aku sudah mulai berani mencuri yang besar-besar, termasuk mencuri benda yang aku takuti saat masih kecil.

Saat dewasa, aku bekerja di suatu perusahaan di bagian keuangan. Jelas banyak sekali godaan-godaan setan yang selalu membisiki telinga untuk mencuri uang dari tempatku bekerja.

Akhirnya segala tipu daya aku lakukan. Segala bentuk manipulasi aku siapkan untuk bisa meraup uang dari tempatku bekerja.

Paling senang saat jadwal untuk belanja barang keperluan perusahaan tiba, aku selalu melebihkan jumlah barang di faktur pembelian. Namun kenyataan barang tersebut tidak pernah ada. Perusahaan besar seperti tempatku bekerja tak pernah tahu dengan stok jumlah barang yang ada maupun yang aku belanjakan.

Aku memang beruntung bekerja di perusahaan tersebut karena sistem di bagian administrasi masih sangat lemah. Aku bisa dengan leluasa bermain uang.

Selain uang, aku pun pernah mencuri sebuah barang. Saat itu dompet sedang tipis, gajian masih lama. Jadwal belanja belum waktunya. Akhirnya demi mengisi dompet, aku mencuri sebuah ponsel milik teman yang harganya begitu lumayan jika aku jual.

Sebenarnya keinginan itu tak pernah ada sebelumnya. Keinginan itu muncul saat aku melihat ponsel itu tergeletak di toilet. Aku tahu itu milik siapa, namun aku tak peduli. Kuambil saja ponsel.

Satu kantor geger oleh peristiwa hilangnya ponsel milik Silvi, gadis bahenol yang sungguh genit. Aku tahu memang tahu seperti apa dia orangnya, bagaimana hubungan dan apa saja yang dia lalukan dengan pemimpin perusahaan.

Kalau boleh menggosip sebentar, Silvi adalah simpanan dari pemimpin perusahaan kami. Waktu itu jam kerja sudah habis, para karyawan sudah pulang semua. Tinggal aku saja yang belum pulang sebab masih mengurusi faktur-faktur yang harus aku tata rapi agar tak ketahuan mana yang aku manipulasi. Setelah semua beres, aku pulang. Tanpa sengaja saat aku hendak melewati ruang pimpinan, aku melihat bayangan aneh.

Ruangan itu memang berdinding kaca transparan. Namun kaca yang sudah dilapisi oleh pelapis blur, jadi tetap saja tak bisa melihat apa yang ada di bagian dalam. Meski di lapisi oleh pelapis blur, ada bagian bawah yang tak dilapisi, tingginya sekitar 5 sentimeter.

Dari rasa penasaran itu, aku mencoba mencari tahu bayangan apa itu. Aku mengambil posisi seperti hewan berkaki empat. Lalu sedikit merendahkan kepala untuk bisa mencapai kaca yang tak dilapisi pelapis blur.

Alangkah terkejutnya aku saat melihat asal bayangan itu. Di ruangan itu aku lihat Silvi bersama pimpinan perusahaan. Beberapa menit kemudian, berahiku pun ikut naik ketika melihat apa yang dilakukan Silvi kepada pimpinan dan pimpinan hanya berdiri saja dengan wajah keenakan.

Sepertinya mereka tidak sadar masih ada aku yang belum pulang hingga beraninya mereka melakukan itu.

Dari situ aku tahu Silvi adalah gadis simpanan pimpinan yang sering diajak keluar. Pastilah uang yang menjadi alasan bagi Silvi.

Maka dari itu, tanpa ragu aku ambil saja ponsel milik Silvi. Toh aku yakin, dia mampu membeli ponsel itu kembali, bahkan yang lebih mahal lagi dengan sekali belaian.

Aku bukan orang yang bodoh. Ponsel itu tak langsung aku bawa. Ponsel tersebut aku sembunyikan di bagian teraman dari toilet. Aku hafal betul di bagian mana yang aku rasa sangat aman untuk menyembunyikan benda sekecil ponsel. Jika sudah dirasa aman, beberapa hari kemudian akan aku ambil lalu kujual.

Sungguh berkah sekali buatku, gara-gara toilet wanita rusak dan sedang diperbaiki, mau tidak mau semua karyawan wanita untuk sementara menggunakan toilet pria.

Benar, Silvi memberi pengumuman hilangnya ponsel miliknya dan akan melaporkan pada polisi.

Aku pun tenang saja. Ponsel itu sudah aku matikan dan mengambilnya tadi menggunakan tisu toilet untuk berjaga-jaga jika ketahuan lalu dilihat sidik jarinya.

Berbeda sekali dengan masa kecil dulu. Jika sekarang diancam dengan berbagai jenis ancaman, aku tidak takut, masa kecil dulu aku selalu takut dengan suatu ancaman dari pemilik barang yang aku curi.

(Bersambung)

4 KOMENTAR

    • Sedikitnya memang, masa kecil akan mempengaruhi masa dewasanya, namun nantinya akan berakhir pada masa tuanya. Masa di mana dia telah matang dalam memilih jalan hidup.
      Di sekitar kita pasti masih banyak orang tua yg lebih suka memberi hukuman ketimbang pengertian.
      Setidaknya dari tulisan ini, aku ingin mengajak para pembaca untuk melihat sisi baiknya. Agar kita bisa mendidik anak dengan benar, mengawasi pergaulannya dari masa kecilnya. Sebab kenakalan-kenalakan semacam itu pasti ada di sekitar kita.