sumber: dok. pribadi

Judul buku    : IKIGAI, Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang
Penulis            : Héctor García dan Francesc Miralles
Penerjemah    : Krisnadi Yuliawan
Penerbit          : Renebook, Jakarta Selatan
Edisi                : Cet. 2, September 2018
ISBN               : 978-602-1201-41-1
Halaman         : 232 hal + xx

Kehidupan modern semakin menjauhkan kita dari ‘kesejatian hidup’ sehingga mudah bagi kita untuk menjalani hidup yang tidak memiliki makna. Berbagai kekuatan dan insentif (uang, perhatian, dan kekuasaan) mengalihkan kita untuk menghabiskan hari-hari dengan hal-hal yang kurang berarti. Saat semua itu hilang, maka kita akan merasa begitu putus asa.

Sebagian orang terlihat sangat tahu apa yang mereka inginkan dan memiliki hasrat akan kehidupan. Namun, sebagian yang lain justru merana dalam kebingungan. Orang Jepang memiliki sebuah kata misterius yang diterjemahkan sebagai “berbahagia dengan tetap menyibukkan diri”, yaitu ikigai.

Ikigai adalah sebuah konsep yang merupakan irisan dari apa yang kita cintai, apa yang dunia butuhkan, apa keahlian kita, dan kita dibayar untuk apa.

Orang Jepang percaya bahwa setiap manusia memiliki ikigai (alasan untuk hidup) yang membuat mereka bahagia dan selalu semangat menjalani hidup. Buku ini merupakan hasil penelitian mengenai rahasia orang Jepang dengan rata-rata usia di atas 100 tahun – disebut centenarian. Terutama di Pulau Okinawa, di mana terdapat 2.455 orang berusia di atas 100 tahun untuk setiap 100.000 penduduk. Ini jauh lebih banyak daripada rata-rata global.

Bagaimana cara menemukan ikigai kita? Dalam buku ini, penulis meneliti konsep ikigai dengan tinggal selama beberapa waktu di Desa Ogimi, Okinawa yang dijuluki Village of Longevity. Kita akan menemukan bahwa kunci hidup bahagia dan panjang umur bukanlah hal yang sulit dan perlu kita khawatirkan. Karena ikigai adalah seni. Tak ada strategi pakem untuk menghubungkan kita dengannya.

“Hidup bukanlah soal ujian yang harus dipecahkan.” (hal. 206)

Kendati demikian, penulis memaparkan 10 aturan ikigai, yaitu: 1) terus aktif, jangan pensiun; 2) perlahan saja; 3) jangan penuhi perutmu; 4) kelilingi dirimu dengan teman baik; 5) bugar untuk ulang tahunmu yang akan datang; 6) tersenyumlah; 7) berhubungan kembali dengan alam; 8) bersyukur; 9) hiduplah pada saat ini (flow); dan 10) ikuti ikigai-mu.

Buku ini saya rasa bukan mengajarkan kita bagaimana menemukan ikigai, namun mengajak kita untuk mengikuti perjalanan penulis dalam meneliti narasumber. Bahasa yang digunakan ringan, sehingga lebih mengalir dan tidak ngalor ngidul ketika dibaca. Selain penelitian secara langsung, penulis juga merujuk pada penelitian-penelitian ilmiah yang sudah ada dengan tetap membahasakannya secara enteng. Kita tidak akan merasa seperti membaca jurnal penelitian ilmiah.

Sayang, karena buku ini adalah terjemahan, terdapat beberapa bahasa yang kurang memenuhi pengalimatan berstruktur SPOK. Ada pula beberapa dialek serapan yang menyebabkan makna beberapa kalimat menjadi rancu.

***

review buku ini selain diikutkan dalam ChallengeTime #bookforwriter, juga dipersembahkan untuk KACAKU

4 KOMENTAR

  1. Kak Textra: wkwkwk, otw baca Wisanggeni 🏃

    Kak Ibbon: betuls Kak. Mereka tetep hardworker pada apa pun, meskipun itu adalah hal sepele. Mereka tak menganggapnya sepele.

    Kak Mujah: tak jawab, “iki piye iki piye iki piyee?” Wkakakak 🏃